Wednesday, September 16, 2026

Kamu lupa sesuatu? Kembalilah ke tempat yang tadi, lakukan aktivitas yang tadi

Barusan, pada saat aku memixer adonan donat, yang entah kenapa kalisnya lama sekali, aku teringat tentang sebuah ide tulisan. Yaitu tentang eksperimenku bikin roasted milk tea pagi ini, yang sudah lama kutunda, dan tadi kulakukan, dan masih gagal. Nanti aku tulis di tulisan terpisah. 

Nah, ketika aku berpindah tempat dari kursi dapur ke kursi depan laptop, aku lupa ide itu. Apa yang kulakukan? Aku balik lagi ke dapur, ke kursi yang tadi, dan magically, idenya datang lagi. Ini aku sering lakukan sejak kecil. Gak ada yang ngasih tahu, tapi dulu mikirnya gitu. Pas SD kayaknya udah gini. Bisa jadi emang naluriah manusia, ya? 

Hal ini tentu sering kamu alami juga, kan? Pas lupa, balik ke tempat semula pas ide itu muncul, dan tiba-tiba inget lagi. Fenomena apa ini? 

Ketika aku tanya ke Claude, ini jawabannya: 

Ini fenomena yang cukup terkenal dalam psikologi kognitif, namanya context-dependent memory (memori bergantung konteks), kadang juga disebut encoding specificity principle.

Cara kerjanya: Saat otak menyimpan sebuah ingatan (misalnya ide tulisan tadi), ia nggak cuma menyimpan "isi" idenya doang — tapi ikut merekam konteks di sekitarnya: posisi tubuh, suara di dapur, bau adonan, sensasi tangan yang lagi menguleni, bahkan pencahayaan ruangan. Semua itu jadi semacam "kait" (retrieval cue) yang terhubung ke ingatan tersebut.

Ketika kamu pindah ke kursi depan laptop, konteks fisiknya berubah total — kait-kait tadi jadi nggak aktif, makanya ide itu terasa "hilang". Tapi begitu kamu balik lagi ke kursi dapur, otak kembali mendapat sinyal-sinyal yang sama persis seperti saat ide itu pertama muncul, dan ingatan itu "terpicu" lagi. Ini bukan sulap — memang begitu cara kerja otak menyimpan dan mengambil memori.

Soal berpindah ruangan bikin lupa — ada fenomena spesifik lain yang namanya "doorway effect" (efek ambang pintu), diteliti oleh psikolog Gabriel Radvansky. Penelitiannya nunjukkin bahwa melewati pintu/ambang batas ruangan secara aktif memicu otak untuk "menutup" satu segmen ingatan dan membuka segmen baru — semacam mekanisme event boundary. Jadi bukan cuma soal kamu lupa karena teralihkan, tapi otak memang sengaja "mengarsipkan" konteks lama begitu kamu melewati batas ruang.

Soal ini naluriah sejak kecil — masuk akal, karena mekanisme ini memang bagian dasar dari cara memori episodik manusia bekerja, bukan sesuatu yang dipelajari secara sadar. Makanya kamu ngerasain ini tanpa ada yang pernah ngajarin.

------

Begitulah penjelasan ilmiahnya, hadirin. 



Gaya Kepemimpinan ke Orang Lain Diawali dengan Self Leadership

Aku pernah kerja di beberapa tempat, dan mengamati bagaimana bosnya bekerja. Gender bosnya sama, perempuan; tapi yang betul-betul beda, gaya kepemimpinannya. 

Sebut saja bos A, B, C, dan D. 
A dan C setipe, sama-sama kurang bisa mengendalikan emosi, dan apa yang di depan bisa beda dengan apa yang di belakang. Bisnisnya, ya milik sendiri, lumayanlah. Bekerja dengan orang yang seperti ini, menguras energi, karena jadinya apa yang kutampilkan adalah ketawa karir. Ketika pulang sampai rumah, exhausted, karena energinya udah drain banget. Batere sosialku udah habis bis. Akhirnya, mungkin menurut beliau-beliau ini, aku kurang perform. Karena beliau-beliau punya kesamaan, bisa ngechat jam berapapun, sebangunnnya, setidurnya. Dan aku, yang merasa perlu adanya work life balance, ya udah, ntar aja kureply, ketika aku sudah punya energi untuk itu. Intinya, gaya kerja kami, gak match. 

Bos B, seorang profesional, yang amat beda leadershipnya. Dia lebih bisa bertanggung jawab atas kesalahan anak buahnya, dan tidak mudah ngamuk. Mostly, bisa menyampaikan apa yang dirasa. Membuatku merasa aman untuk menyampaikan pendapatku, meskipun itu artinya akan mengoreksinya. 

Bos D, seorang owner, yang amat mencintai bisnisnya seperti bagaimana ia mencintai anaknya. Bukti bahwa dengan ketekunan dan ketelatenan, bisnis sekecil apapun bisa berkembang. Aku salut banget sama bos D ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, bisa menjadikan bisnis personalnya jadi bisnis keluarga. Selain aktif di bisnis beliau ini, beliau juga orang yang aktif di perkumpulan, dan masih melanjutkan pendidikannya. Jadi untuk energi, beliau ini sangat amat aku saluti. 

Lalu, apa yang menurutku pembeda seperti yang tadi kutulis adalah: gaya kepemimpinan: 
Menurut Daniel Goleman, yang aku ambil dari Claude. 

1. Coercive/Commanding — "Do what I tell you." Cocok untuk krisis atau situasi darurat, tapi kalau dipakai terus-menerus merusak iklim kerja.

2. Authoritative/Visionary — "Come with me." Pemimpin memberi arah jelas tapi membiarkan cara pencapaiannya fleksibel. Paling positif untuk iklim tim, terutama saat organisasi butuh arah baru.

3. Affiliative — "People come first." Fokus membangun ikatan emosional dan harmoni. Baik untuk memperbaiki keretakan tim atau memberi dukungan saat masa sulit, tapi kurang cocok bila dipakai sendirian karena bisa menghindari feedback korektif.

4. Democratic — "What do you think?" Membangun konsensus lewat partisipasi. Efektif saat butuh masukan tim atau ketika pemimpin sendiri kurang yakin arah terbaik, tapi lambat untuk situasi mendesak.

5. Pacesetting — "Do as I do, now." Menetapkan standar tinggi dan memimpin lewat contoh. Bisa memacu tim berprestasi, tapi berisiko membuat anggota tim kewalahan dan burnout kalau berlebihan.

6. Coaching — "Try this." Mengembangkan orang untuk masa depan, fokus pada potensi jangka panjang individu, meski butuh waktu paling lama untuk terlihat hasilnya.

Temuan intinya: pemimpin paling efektif tidak terpaku satu gaya — mereka fasih di beberapa gaya sekaligus dan berpindah sesuai kebutuhan situasi, layaknya pegolf yang memilih stik sesuai kondisi (analogi yang dipakai Goleman sendiri).

-------

Cerita tentang mantan bos-bos saya itu cuma ilustrasi ya. Mungkin ternyata, aku lebih cocok dengan bos yang gaya kepemimpinannya campuran antara beberapa tipe. Kamu bisa jadi beda denganku. Dan itu fine-fine aja. 

Intinya, dalam memimpin perlu adanya fleksibilitas. Menyesuaikan gaya dengan kondisi yang dihadapi. Menjadi fleksibel ini tentu tidak bisa serta merta langsung. Perlu dipelajari. Karena tantangannya: sebelum bisa memimpin orang lain, tiap orang perlu mengenali diri sendiri, dan memimpin dirinya sendiri. 

Tantangannya bisa jadi ada sesuatu yang belum kelar di dirinya sendiri, di keluarganya, atau di rumah tangganya. 

Di buku Emotional Intellegence yang sedang kubaca 1/3-nya, Daniel Goleman menuliskan bahwa ia bertemu dan ngobrol dengan pemilik teori Multiple Intellegences, Howard Gardner. Disampaikan Goleman, bahwa salah satu kecerdasan interpersonal yang dirumuskan oleh Howard Gardner, mungkin ada korelasinya dengan kecerdasan emosi. Walaupun di dalam rumusan Gardner, tidak dijelaskan lebih lanjut antara emosi & kecerdasan. 

Untuk melatih ke-fleksibel-an ini aku masih penasaran. Gimana caranya? OK, memang orang perlu melakukan self awareness, kemudian praktik self leadership. Tapi untuk fleksibel, gimana tepatnya caranya? Gimana melatih agar bisa fleksibel? 

Ada yang mau berpendapat? 





Sunday, September 13, 2026

Membaca Daniel Goleman

Aku masih di beberapa halaman awal dari buku ini. Awalnya aku tak ingin membeli buku ini. Dua pekan lalu, saat kunjungan kami ke toko buku, karena anakku ingin buku novel, aku memutuskan untuk membeli buku tentang biarkan orang tidak menyukai kita, atau apalah gitu. Ditulis oleh 2 penulis bernama seperti berkebangsaan Jepang. Di menit terakhir, sebelum ke kasir, aku meletakkan buku tipis itu, dan justru mengambil buku oranye bertuliskan nama: Daniel Goleman. Nama yang sudah tak asing lagi di telingaku, tapi aku belum pernah baca karyanya. 

Sub judulnya begitu menarik: Buku Menggemparkan yang Mendefinisikan Ulang Apa Arti Cerdas. Mengapa EI Lebih Penting daripada EQ.

—-

Ada banyak alasan orang membeli buku: penasaran, ikutan yang lagi ngetrend, ingin menjawab pertanyaan, ingin antimainstream, ingin dikira pintar, ingin menambah koleksi di rak, ingin menbuat orang lain terpesona, dan seterusnya. Apapun alasanmu, ketika kamu memutuskan untuk beli buku ori, entah itu baru atau bekas, kamu semakin dekat dengan dirimu. Kamu mempunyai ruang hening di mana kamu bisa sibuk dengan pemikiranmu, dan berhenti sejenak dari pemikiran orang lain. Kamu akan punya waktu menajamkan intuisi, mengasah kecerdasan emosi, dan diam-diam, menambah koneksi dari saraf-sarafmu. Membaca akan membuatmu lebih percaya diri, dan membaca akan menjadikanmu sebagai salah satu pembelajar, di antara miliaran pembelajar lainnya.

—-

Maka, kutuliskan lagi di sini apa yang ada di otakku, semata-mata karena aku enggak menyalakan laptop dan mengetik di depan layarnya. Kenapa bukan juga di sosmed? Karena di sana terlalu riuh, aku tak bisa menyendiri dan mengenali pemikiranku sendiri. 

Aku rindu aku yang ini. 

Monday, February 17, 2025

Peter Crone, namanya

Peter Crone, namanya. Seorang mind architect yang menyampaikan bahwa dulu ada seorang relationship coach yang berkata padanya, kalau diterjemahkan kurang lebih begini, “Kita tidak benar-benar jatuh cinta pada orang lain. Kita hanyalah mencintai versi diri kita ketika kita bersama orang lain itu.” 

Perlahan aku meresapi kalimat tersebut, memikirkan, dan sembari aku membaca buku Tanpa Rencana-nya Dee Lestari, tetiba ingatanku tertuju pada sesuatu. Pada diriku. 

Siapa aku ketika bersamamu? Siapa aku ketika bersama mereka? Bagaimana aku bisa bersikap? Bagaimana aku berpikir? Bagaimana aku menjelma? Mengapa aku berhenti dari pekerjaan yang itu? Mengapa aku memilih nyaman dengan aku versi yang ini? 

Ternyata jawabannya ada di kalimat di atas. 

Aku mencintai versi diriku yang ada di standarku, dan aku kadang tidak mencintai bagaimana diriku menjelma ketika tidak bersama orang yang tepat. 

Peter Crone, namanya. Mengajak untuk berpikir ulang, me-reframe kejadian, mengajak melihat fakta, seperti coaching di tempat. 

Cinta, sudah kita miliki, dan kita mencintai diri kita, yang diperlukan adalah bersama dengan orang yang mampu membersamai dan membuat diri kita menjelma menjadi versi yang kita cintai. 

Cinta bukan diletakkan pada orang lain. Bukan lagi sekedar “I love you”, yang ketika “you” nya pergi, maka hidup seolah tak berarti. Karena “I love you” artinya “I love me when I am with you.”

Dengan pemaknaan baru ini, semoga kita bisa lebih tabah menghadapi kehilangan, perpisahan sementara di dunia. 

Monday, November 25, 2024

If you want to know someone’s mind, read their writings.

Ada yang bisa dengan mudah disampaikan via tulisan, yang begitu susah disampaikan dengan lisan. Kenapa? Karena untuk menyampaikan dengan lisan, perlu situasi dan kondisi yang mendukung, perlu intonasi yang tepat, perlu gesture yang tepat, dan perlu pandai menyampaikan apa yang dimaksud dengan tepat, tanpa menimbulkan pengertian ganda ketika diterima komunikan. Maka, buatku, menulis jauh lebih mudah daripada berbicara. 


Aku, yang terlahir tanpa punya saudara kandung, sangat akrab dengan buku dan tulisan. Meski tentu, ketika aku membandingkan dengan temanku yang punya perpustakaan pribadi di rumahnya, hobi membacaku ini gak ada apa-apanya, tapi tetap, aku meng-consider diriku sebagai orang yang mempunyai hobi membaca & membeli buku (jika punya dananya). 


Nah, kehidupan sosialku sangat terbatas. Karena rumahku yang jauh dari sekolah, maka pas SD, aku gak punya tetangga yang satu sekolah. Pas SMP dan SMA lumayan, pas SMP aku punya beberapa teman yang akhirnya jadi sahabatan, karena rumah kami sama-sama jauh. Waktu itu, perumahan yang kami tinggali termasuk perumahan yang baru, masih banyak sawah dan kebon tebu, dan masih jarang yang tingat di sana, dan cuma ada 2 Jenis angkot yang mefewati perumahan kami. Jadilah kami ber-6 akrab, dan menunggu ketika pulang sekolah. Meski kami ada di kelas berbeda pas SMP, tapi karena kesamaan jurusan rumah itulah, kami akrab. Meskipun ketika aku pikir lagi, masih ada beberapa anak lain yang juga ada di perumahan itu, dan masih ada yang satu jurusan angkot dengan kami, tapi entah kenapa kami berenam lebih cocok satu sama lain. 3 perempuan dan 3 laki-laki, dan tidak ada di antara kami yang jadian. Sama sekali. 


Jaman dulu, tulisan adalah hal yang paling mungkin untuk dilakukan untuk menyampaikan pesan, selain ingatan. Di jaman belum ada teknologi rekaman (mungkin), berupa video tape atau audio tape, maka tulisan adalah hal yang paling tinggi dalam kasta komunikasi. Manusia menemukan berbagai jenis tulisan jaman dulu, dan menandai jaman pratulisan yang disebut jaman prasejarah atau jaman praaksara, dan jaman sesudah tulisan, saat sejarah sudah dituliskan dan bisa dibaca oleh para ahli. 


Maka, kemampuanku untuk menyampaikan sesuatu via tulisan, lebih baik daripada ketika aku menyampaikan via lisan. Aku rasakan ini ketika mesti belajar bahasa Indonesia untuk berkomunikasi. Ya, bahasa Indonesia bukan bahasa pertamaku. Bahasa pertamaku adalah bahasa Jawa. Maka berbahasa Indonesia bagiku adalah menirukan Dian Sastro di AADC. Berusaha menghilangkan aksen medok karena mału kalau diolok “medhok.” 

Dan ketika aku mulai ngajar online, aku mendapat feedback bahwa aku kalau ngomong itu intonasinya galak. Uwow. Wajar sih, aku si anak Jawa Timur ini punya bahasa yang intonasinya tidak lembut, tapi cenderung ke modelan senggol bacok. Hahaha.

Setelah menerima feedback itu, aku berusaha berubah. Aku ikut kelas mengenal suara, mendengar intonasi diri sendiri, dan mencari role model yang bersuara seperti yang aku inginkan. Ya, aku belajar berbicara lebih baik.

Ketika kini berbicarapun, aku makin sadar, ternyata kok aku kurang luwes dalam berbahasa, ya? Ketika aku pikirkan di bahasa Inggris, kok dapat ya luwesnya, karena apa? Karena nonton film. Sedangkan di bahasa Indonesia, aku merasa kurang referensi untuk bisa menjadi luwes. Misalnya, kurang pembukaan, kurang penutupan.

Nulispun sama. Ketika sudah lama aku enggak nulis, kok rasanya susah ya? Aku nulis apa dong? Kata mentorku: tulis aja, apapun. Entah itu ngomel, entah itu pemikiran, entah itu curhat. Dan ketika aku lakukan. Dari beberapa barıs, menjadi beberapa kalimat yang berparagraf-paragraf.

Nah, ketika kalimat pembuka tadi aku terjemahkan secara literal, maka akupun mengamati diriku. Kenapa tulisan tanganku berubah-ubah? Apa yang membuat tulisan tanganku berubah-ubah? Ternyata, pertanyaan ini terjawab ketika aku bertemu dengan ilmu handwriting (grafologi). Bahwa ternyata ada hubungan antara handwriting (tulisan tangan) dengan kondisi mental seseorang. Akupun mengambil sertifikasi “membaca” tulisan tangan. 


Ah, well.

Tetap menulis. Karena ketika aku menulis, seolah aku bicara dengan sebuah bagian di dalam diriku. Menulis dengan jiwa, menulis dengan otak dan jiwa. Kalaupun gak ada yang baca, ya sudah. Karena tujuanku sudah berubah. Bukan tentang berapa eksemplar penjualan, bukan tentang royalti penjualan, it’s not about that anymore. It’s about how I leave my legacy. Because I believe, that every story is worthy to be written. 


Saturday, November 23, 2024

Kecerdasan Doa Nabi (part 1)

 Nabi yang kumaksud bukan Rosulullah SAW. Perlu diingat bahwa sebagai Umat Islam, kita perlu mengimani ada 25 Nabi yang perlu dihafal, tapi sebetulnya ada ribuan Nabi yang diutus Allah SWT seumur umat manusia ada. 


Ada kisah beberapa Nabi yang diabadikan di Al Qur’an, termasuk doa dan ucapannya. Terbukti bahwa Nabi yang diutus Allah adalah orang-orang dengan karakter pilihan, tidak sembarangan, dan mempunyai kecerdasan yang luar biasa.

Kuambil contoh, Nabi Yunus AS. Ketika beliau pergi meninggalkan kaumnya karena jengkel pada merek, dan Allah marah akan hal tersebut, maka ketika di atas kapal, Allah menurunkan badai yang luar biasa dahsyat, dan para penumpang kapal membuat undian nama siapa yang akan dibuang ke laut, dan nama Nabi Yunus keluar 3 kali, takdir Allah menjadikan Nabi Yunus dibuang ke laut, dan ditelan oleh ikan paus.

Dalam 3 kegelapan -kegelapan malam, kegelapan air laut yang dalam, dan dalam kegelapan perut ikan paus-, coba tebak apa yang dipanjatkan oleh Nabi Yunus? Apakah “Ya Allah, keluarkan aku dari sini,” atau “Ya Allah, kenapa aku?” ; tapi tidak. Doa Nabi Yunus adalah doa yang berkelas, doa yang tidak akan mungkin keluar jika empunya tidak memiliki kecerdasan tinggi. Doa yang dipanjatkan malah berupa pujian terhadap Allah, dan pengakuan akan kedzoliman diri. “Laa ilaaha illa anta, subhanaka, inni kuntu minnadzzolimiin” Tidak ada Ilah (Tuhan) selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzolim.

Yang menggelitikku adalah, kenapa doanya tidak minta dikeluarkan, diselamatkan? Kenapa kok doanya malah begini?

Setelah aku pikir beberapa lama, dan dengan modal kecerdasanku yang apa adanya ini, aku menyimpulkan, -dan tentu dari Ilmu dari ceramah-ceramah para guru yang pernah aku simak-, bahwa: ketika seseorang berada dalam kesadaran bahwa dirinya lemah, bahwa ada kekuatan yang sangat besar, yaitu Ilah (Tuhan) yang menguasai semuanya, maka nothing’s difficult for The Almighty. Apa yang perlu kita lakukan adalah mengakui kesalahan, ya emang salah, mau digimanain lagi. Dan kepasrahan yang utuh. Pasrah berserah diri, kumaha engke welah, nu penting mah ngaku salah heula. Mungkin begitu kalau bahasa Sundanya. “Gimana ntar ajalah, yang penting ngaku salah aja dulu.” Sebuah sikap yang sudah mengesampingkan ego, tidak akan mudah, tapi ternyata terbukti manjur!

Ketika Nabi Yunus merapalkan doa tersebut yang akhirnya Allah SWT mengampuni beliau, maka dengan kesempurnaan rencana Allah, Nabi Yunus dimuntahkan oleh ikan paus yang menelannya di tempat kaumnya berada. Dan syukurnya, kaumnya jadi beriman semua. Kisah Nabi Yunus bin Mata ada di Al Qur’an, surah Al-Anbiya ayat 87-88, surah As-Saffat ayat 139-148, surah Al-Qalam ayat 48-50. 


Maka, setelah mempelajari manjurnya doa tersebut, ketika kita berada di situasi yang gelap banget, bener-bener gak bisa ngapa-ngapain lagi, amalkan doa ini sebagai dzikir yang berulang.

Biarkan diri ini mengakui segala kesalahannya, dan biarkan tobat menjadi penghapus dosa, dan biarkan Cahaya Ilahi datang menerangi, dan biarkan nanti kita ditempatkan di tempat yang tepat.

Terlalu banyak keajaiban dalam hidup ini, terlalu sering Allah kasih kejutan karena kepasrahan, tobat, dan doa.

Mungkin selama ini aku menganggap Cahaya adalah hal yang biasa, I take it for granted. Maka Allah memberikan fase kegelapan biar aku mikir, biar aku bisa bersyukur, biar aku bisa bertobat dan mendengarkan diriku lebih baik, dan berikhtiar dengan sungguh-sungguh, sampai Allah berkenan mengeluarkan aku dari kegelapan berlapis-lapis.

Aamiin. 


Saturday, March 23, 2024

Merawat jiwa

 Aku menguninstal Facebook dan Instagram dari hpku, sejak Ramadhan 2024 ini. Biasanya kalau Ramadhan, aku bisa keluar dari grup-grup WA yang menurutku kurang bermanfaat. Kali ini berbeda. Mungkin banyak pencetusnya, penyebabnya, hingga aku memutuskan untuk melakukan hal yang menurut orang lain adalah hal yang susah. Dan jangan salah, akupun tidak akan membayangkan bisa melakukan hal ini sebelumnya. 


Lalu, apa yang membuatku melakukannya? 


Ada satu peristiwa yang kualami dari menulis status di Facebook yang membuatku berkaca dan agak down. Aku rasa waktuku banyak aku habiskan untuk scroll FB dan IG, dibanding produktíf, sehingga aku merasa pikiranku gaduh, berisik, layaknya air yang beriak dan tidak jernih. Pikiranku jadi overthinking, galau, takut akan masa depan, dan kuatir yang berlebihan. Dan perasaan ini aku alami selama beberapa pekan. Dan sungguh tidak enak. Karena aku seolah terjebak dalam kubangan ketakutan, tanpa bisa melakukan apa-apa. Aku merasa sebagai korban keadaan. Lelah mental, lelah jiwa. Mudah jengkel, gak sabaran.

Perlahan aku mencoba memanjat keluar dari kubangan yang menyedot diriku perlahan, mulai menginstal aplikasi untuk pengembangan diri, cari kegiatan baru, dan tentu, menghilangkan yang kurasa menyedot energi dan waktuku. Apalagi momen Ramadhan, ada target-target yang ingin aku raih.

Dan ketika aku mengajar di kelas Tumbler Optimis, aku menyampaikan ke teman-teman bahwa, ketika kita sudah mengetahui gambaran ideal diri kita itu seperti apa, maka kita akan menancapkan gol atau tujuan yang memang selaras dengan itu. Dan kita pun akan mudah berkata “tidak” pada hal yang tidak selaras dengan sosok ideal itu.

Setelah berkaca, mengkaji, dengan ringan hatiku menguninstal FB dan IG, dan fokus ke WA. Jualan via status WA, bercerita kembali di Pages, status WA, dan di blogku. Dan semua terasa lebih tenang. Tidak ada lagi noise yang kemarin sangat riuh. Aku dipertemukan Youtube dengan salah satu kyai akademisi, Dr. Fachruddin Faiz, S.Ag, M.Ag, yang lalu aku dengarkan dan berbagi dengan temanku yang mengalami kegalauan yang sama.

Karena di sisi spiritual, sudah takdir kita berada di zaman sekarang, beginilah jatah ujian kita. “Apakah mereka mengira mereka akan masuk surga tanpa diuji?”


Surat Al-Baqarah Ayat 214


أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ



“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Kesimpulan: Akan mudah melakukan sesuatu ketika kita punya motivasi internal yang kuat untuk itu. Itulah kenapa ada yang ikut lari marathon dan mengejar lari itu sampai kemana-mana, karena tiap orang punya motivasi yang berbeda. Lari marathon itu keren, tapi aku belum tertarik. Menguninstal FB dan IG itu keren, tapi mungkin bagimu tidak menarik. Dan itu tidak mengapa, aku hanya akan fokus pada diriku, jiwaku, dan tujuanku. 


Ekstrenalisasi: menulis, coaching


Eksternalisasi adalah kata yang baru aku ketahui, ternyata tidak hanya internalisasi yang penting. Eksternalisasi juga penting. 


Internalisasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah penghayatan terhadap suatu ajaran, doktrin atau nilai, sehingga merupakan keyakinan dan kesadaran akan kebenaran doktrin atau nilai yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku. 


Internalisasi adalah kata yang kukenal ketika belajar NLP, diajarkan bahwa proses untuk memindahkan teori, ilmu ke dalam praktik diri, perasaan, dan otot-otot badan. 


Maka, selain proses internalisasi, perlu juga aku pahami tentang eksternalisasi ini. Dan ternyata penjelasannya menjawab beberapa pertanyaanku tentang “Kenapa aku suka coret-coret di kertas? Kenapa orang bisa menemukan solusi ketika dia curhat, padahal orang yang dicurhati tidak memberikan solusi?”


Di sebuah tulisan Josh Kaufman tentang Externalization, aku dapat kesimpulan bahwa: 

Suara di luar diri, di wilayah Environment/Lingkungan senantiasa lebih keras suaranya dibanding suara dari dalam diri. Sehingga, isi kepala perlu dikeluarkan agar tidak berisik sendiri di dałam. Dengan cara apa mengeluarkannya?

Ada 2 proses eksternalisasi yang disampaikan oleh Kaufman, pertama: Menulis (atau menggambar), Berbicara. 


Menulis atau menggambar merupakan proses pengeluaran pikiran yang melalui proses pemikiran, sehingga tersusun kalimat yang dapat menyampaikan maksud pikiran. Diksi yang digunakan merupakan proses penyaringan, “Apakah kata ini tepat untuk menyampaikan maksud ini? Jika aku menggunakan kata ini, apakah akan dimengerti dengan mudah, ataukah akan melahirkan ambigu?” 


Maka, proses menulis ini adalah proses pencernaan pikiran secara mandiri. Ketika aku merasa kesulitan untuk menulis dan menyampaikan apa maksudku dengan baik, di situ aku merasa bahwa aku kurang bisa mencerna apa yang kupikirkan untuk bisa disampaikan melalui kata. Padahal, aku bisa memahami sesuatu, ketika aku bisa menamai rasa melalui proses nominalisasi/pembentukan kata benda. Pikiran yang tertata akan muncul di kalimat yang tertata. Jika disampaikan dalam bahasa Aa Gymnastiar: teko hanya mengeluarkan isi teko. Sedangkan dalam bahasa filusuf Dr. Faiz: tubuh adalah alat pikiran. Kamu marah di pikiran terlebih dulu, baru tanganmu memukul.

Maka, menata tulisan sama dengan menata pikiran.

Berbicara bisa kepada orang lain, atau bicara ke benda yang kita jadikan dialog, seperti aku dulu kadang bicara di depan cermin, untuk menguraikan pikiranku. Syarat ketika bicara kepada orang lain yaitu orangnya tidak boleh menginterupsi, dia mesti sabar mendengarkan, kemudian memberikan pertanyaan yang bagus. Itulah kenapa, kadang ketika aku punya masalah, aku curhatkan entah di atas sajadah, ataukah ke orang lain, kepala jadi ringan dan tiba-tiba ketemu solusinya. Karena sebenarnya akan pikiran manusia itu sudah Allah rancang sedemikian canggihnya, sehingga bisa otomatis mencari jawaban ketika dipantik pertanyaan.

Sebuah ilmu yang aku pelajari adalah NLP coaching, sesuai banget dengan penjelasan di atas. Ketika coaching berlangsung, maka coach menyediakan telinganya dengan mode active listening. Menyediakan matanya untuk memperhatikan, menyediakan waktu dan pikirannya untuk berada di know-nothing state. Mengamati bahasa verbal dan non verbal yang dilepaskan coachee misal gerak tubuh, ekspresi mikro, tekanan suara yang berbeda; yang kemudian disampaikan lagi untuk dikonfirmasikan berupa pertanyaan ke coachee. 


Aku jadi ingat dengan kisah Siti Hajar ketika ditinggalkan di Bakka (Makkah) bersama bayi Ismail, di sebuah lembah yang tandus, tidak ada air, tidak ada orang; beliau bertanya kepada NabiAllah Ibrahim AS. 


“Wahai suamiku, kenapa engkau meninggalkan kami?” Pertanyaan ini tidak dijawab oleh nabi Ibrahim, beliau terus berjalan meninggalkan istri dan anaknya.

Tapi kemudian Siti Hajar mengganti pertanyaannya dengan “Apakah ini perintah Allah?” Dan nabi Ibrahimpun menjawab “Iya, ini perintah Allah.” Maka tenanglah hati Siti Hajar mengetahui bahwa ini adalah perintah Allah karena Siti Hajar yakin, Allah tidak akan mungkin mengecewakan hambaNya yang meminta.


Meskipun maksudnya sama, ingin bertanya “kenapa kau lakukan ini?” Tapi diformulasikan dengan 2 pertanyaan yang berbeda, maka muncul jawaban yang berbeda pula. Kemampuan memformulasikan pertanyaan untuk memantik jawaban ini sebuah kelihaian yang dipelajari dan diasah. Itulah kenapa ketika menonton demo coaching, kadang aku mikir “Padahal cuma ditanya aja lho, pertanyaannya sederhana aja. Tapi kenapa coaching itu berhasil?” Karena sebenarnya pertanyaan yang diajukan coachnya bukan sekedar pertanyaan. Untuk memunculkan pertanyaan itu, seorang coach mesti menyimak, memperhatikan, memahami, kemudian mengkonfirmasi, lalu memformulasikan kalimat untuk memberikan pertanyaan yang harapannya mengajak coachee untuk berpikir, sehingga jawaban yang dikeluarkan tidak sekedar jawaban normatif, melainkan jawaban yang muncul dari dalam dirinya, yang mungkin selama ini belum pernah ada yang bertanya tentang hal tersebut. Sebuah proses berpikir yang hanya bisa dilakukan ketika sudah memahami teori dan praktik dan evaluasi. 


Semakin kita berlatih, akan semakin canggih. 


Friday, March 22, 2024

Pemaknaan idiom "Blessing in disguise"

Ketika belajar NLP, aku belajar bahwa salah satu proses pengambilan hikmah dari setiap kejadian adalah ketika kita belajar melihat dengan frame/bingkai yang berbeda. 

Melihat kejadian menyedihkan, misal ditinggalkan partner bisnis, diputuskan hubungan profesional via WA, justru menjadi hikmah, dan merupakan keberkahan yang tersembunyi.

Aku sering dengar dan baca idiom “blessing in disguise,” tapi masih belum paham maknanya dengan baik. Iya, aku ngerti artinya: blessing = Rahmat, berkah. In disguise artinya: dalam penyamaran. Tapi apa sebenarnya ini? 


Tadi pagi aku berjalan-jalan di status WA kontak-kontakku, kemudian sepderti biata, aku memberikan reaksi pada status yang menurutku bagus. Tadipun sama, adu memberikan reaksi ke salah satu status temanku, dan ternyata berubah menjadi obrolan 1.5 jam via chat WA. 


Dia ceritakan tentang kesusahannya yang baru dialami, dan bagaimana partner bisnisnya memutuskan hubungan profesional hanya via chat WA, dan sekarang partner bisnisnya mem-blok nomor dia. Dia kesel, hatinya belum terima. Dia ceritakan kisah dari awal mereka bertemu, berkongsi, hingga akhirnya mereka putus dan temanku memulai membangun brandnya sendiri. 


Ketika membaca curhatannya, aku beri dia pertanyaan untuk mengajak dia melihat dari sisi yang lain. Dan dalam prosesnya, kuajak dia perlahan untuk melihat ini dari sisi spiritual, dan dari bingkai yang berbeda. Hingga akhirnya: beginilah yang dia tulis di grup, setelah dia chat denganku: 


“baru sama cikgu aku chattingan, HP tak bawa ke kamar mandi, saking serunya 😂🤣 Sumpah, out of the box bgt, mana ada yg bilang kesedihan atau ketidak enakan adalah sebuah keberkahan. 


Ya cuma 1, itu cikgu lyaaaaa 😂


Sebuah pemaknaan muncul terhadap idiom “blessing in disguise,” yang muncul karena aku chat dengannya. Yang kalau aku tidak chat dengannya, otakku juga tidak tergelitik untuk berpikir dan mencari makna idiom itu. 


Maka, aku sadar, bahwa aku perlu berada dałam kondisi jernih, waras, dan tenang, agar bisa membantu teman bicara untuk melihat refleksi peristiwa dirinya. Tak kalah penting, aku perlu berada dałam kondisi jernih untuk kebahagiaanku, meninggalkan semua ke-overthingking-an, meninggalkan keruwetan dan menghindar dari noise,  untuk bisa berada dalam keadaan fokus, sadar, present dan utuh. 


Karena kalau tidak dalam berada dalam kondisi itu tadi, tentu aku akan ikutan bereaksi terhadap apa yang dihadapinya. Dan mungkin, itulah yang membedakan aku ketika berperan sebagai coach, dan aku yang berperan sebagai orang biasa yang demen gosip.

Friday, October 13, 2023

A & E (119)

To: Elang Mahardika 

From: Ola 

Subject: halo! 


Halo, Lang. Apa kabarmu? Semoga sehat dan bahagia ya. Ada sesuatu yang menggelitik pikiranku, dan aku ingin tahu pendapatmu. 

Aku dulu tak percaya pada rasa yang selamanya

Kuanggap itu fiksi dan isapan jempol belaka 

Kisah cinta Pangeran Charles dan Camilla

Tapi ternyata, benar adanya, Pangeran Charles menikahi Camilla, meski beberapa tahun lamanya dia tidak bersama siapa-siapa 

Bagaimana bisa? 

Kisah yang kukira dongeng semata, ternyata nyata adanya

Mereka menikah, dengan apapun hambatannya dan meski waktu jedanya lama, meski menua 

Kemarin aku nonton lagi 47 Ronin, kisah antara Mika dan Kai, meski hanyalah bumbu dongeng dari kisah nyata Ronin, tapi membuatku berpikir lagi, ternyata memang ada 1 cinta untuk selamanya. Ternyata, rasa cinta Rosulullah SAW kepada Khadijah itu bisa tetap ada meskipun Khadijahnya telah tiada. Kukira dulu itu tak mungkin. 

Ada yang bisa hidup dengan 1 cinta, bahkanpun ketika cinta itu tak dimilikinya. Memikirkan cinta itu saja sudah membahagiakan. 

Kemarin aku baca, siapa yang nulis aku lupa, tapi isinya: kita akan terkesan dengan sikap orang, kita akan lupa dengan apa yang disampaikannya, tapi kita tidak akan pernah lupa bagaimana orang itu membuat kita merasa (how you make them feel). 

Menurutku itu keren. 


Ola.