Monday, February 17, 2025

Peter Crone, namanya

Peter Crone, namanya. Seorang mind architect yang menyampaikan bahwa dulu ada seorang relationship coach yang berkata padanya, kalau diterjemahkan kurang lebih begini, “Kita tidak benar-benar jatuh cinta pada orang lain. Kita hanyalah mencintai versi diri kita ketika kita bersama orang lain itu.” 

Perlahan aku meresapi kalimat tersebut, memikirkan, dan sembari aku membaca buku Tanpa Rencana-nya Dee Lestari, tetiba ingatanku tertuju pada sesuatu. Pada diriku. 

Siapa aku ketika bersamamu? Siapa aku ketika bersama mereka? Bagaimana aku bisa bersikap? Bagaimana aku berpikir? Bagaimana aku menjelma? Mengapa aku berhenti dari pekerjaan yang itu? Mengapa aku memilih nyaman dengan aku versi yang ini? 

Ternyata jawabannya ada di kalimat di atas. 

Aku mencintai versi diriku yang ada di standarku, dan aku kadang tidak mencintai bagaimana diriku menjelma ketika tidak bersama orang yang tepat. 

Peter Crone, namanya. Mengajak untuk berpikir ulang, me-reframe kejadian, mengajak melihat fakta, seperti coaching di tempat. 

Cinta, sudah kita miliki, dan kita mencintai diri kita, yang diperlukan adalah bersama dengan orang yang mampu membersamai dan membuat diri kita menjelma menjadi versi yang kita cintai. 

Cinta bukan diletakkan pada orang lain. Bukan lagi sekedar “I love you”, yang ketika “you” nya pergi, maka hidup seolah tak berarti. Karena “I love you” artinya “I love me when I am with you.”

Dengan pemaknaan baru ini, semoga kita bisa lebih tabah menghadapi kehilangan, perpisahan sementara di dunia. 

Monday, November 25, 2024

If you want to know someone’s mind, read their writings.

Ada yang bisa dengan mudah disampaikan via tulisan, yang begitu susah disampaikan dengan lisan. Kenapa? Karena untuk menyampaikan dengan lisan, perlu situasi dan kondisi yang mendukung, perlu intonasi yang tepat, perlu gesture yang tepat, dan perlu pandai menyampaikan apa yang dimaksud dengan tepat, tanpa menimbulkan pengertian ganda ketika diterima komunikan. Maka, buatku, menulis jauh lebih mudah daripada berbicara. 


Aku, yang terlahir tanpa punya saudara kandung, sangat akrab dengan buku dan tulisan. Meski tentu, ketika aku membandingkan dengan temanku yang punya perpustakaan pribadi di rumahnya, hobi membacaku ini gak ada apa-apanya, tapi tetap, aku meng-consider diriku sebagai orang yang mempunyai hobi membaca & membeli buku (jika punya dananya). 


Nah, kehidupan sosialku sangat terbatas. Karena rumahku yang jauh dari sekolah, maka pas SD, aku gak punya tetangga yang satu sekolah. Pas SMP dan SMA lumayan, pas SMP aku punya beberapa teman yang akhirnya jadi sahabatan, karena rumah kami sama-sama jauh. Waktu itu, perumahan yang kami tinggali termasuk perumahan yang baru, masih banyak sawah dan kebon tebu, dan masih jarang yang tingat di sana, dan cuma ada 2 Jenis angkot yang mefewati perumahan kami. Jadilah kami ber-6 akrab, dan menunggu ketika pulang sekolah. Meski kami ada di kelas berbeda pas SMP, tapi karena kesamaan jurusan rumah itulah, kami akrab. Meskipun ketika aku pikir lagi, masih ada beberapa anak lain yang juga ada di perumahan itu, dan masih ada yang satu jurusan angkot dengan kami, tapi entah kenapa kami berenam lebih cocok satu sama lain. 3 perempuan dan 3 laki-laki, dan tidak ada di antara kami yang jadian. Sama sekali. 


Jaman dulu, tulisan adalah hal yang paling mungkin untuk dilakukan untuk menyampaikan pesan, selain ingatan. Di jaman belum ada teknologi rekaman (mungkin), berupa video tape atau audio tape, maka tulisan adalah hal yang paling tinggi dalam kasta komunikasi. Manusia menemukan berbagai jenis tulisan jaman dulu, dan menandai jaman pratulisan yang disebut jaman prasejarah atau jaman praaksara, dan jaman sesudah tulisan, saat sejarah sudah dituliskan dan bisa dibaca oleh para ahli. 


Maka, kemampuanku untuk menyampaikan sesuatu via tulisan, lebih baik daripada ketika aku menyampaikan via lisan. Aku rasakan ini ketika mesti belajar bahasa Indonesia untuk berkomunikasi. Ya, bahasa Indonesia bukan bahasa pertamaku. Bahasa pertamaku adalah bahasa Jawa. Maka berbahasa Indonesia bagiku adalah menirukan Dian Sastro di AADC. Berusaha menghilangkan aksen medok karena mału kalau diolok “medhok.” 

Dan ketika aku mulai ngajar online, aku mendapat feedback bahwa aku kalau ngomong itu intonasinya galak. Uwow. Wajar sih, aku si anak Jawa Timur ini punya bahasa yang intonasinya tidak lembut, tapi cenderung ke modelan senggol bacok. Hahaha.

Setelah menerima feedback itu, aku berusaha berubah. Aku ikut kelas mengenal suara, mendengar intonasi diri sendiri, dan mencari role model yang bersuara seperti yang aku inginkan. Ya, aku belajar berbicara lebih baik.

Ketika kini berbicarapun, aku makin sadar, ternyata kok aku kurang luwes dalam berbahasa, ya? Ketika aku pikirkan di bahasa Inggris, kok dapat ya luwesnya, karena apa? Karena nonton film. Sedangkan di bahasa Indonesia, aku merasa kurang referensi untuk bisa menjadi luwes. Misalnya, kurang pembukaan, kurang penutupan.

Nulispun sama. Ketika sudah lama aku enggak nulis, kok rasanya susah ya? Aku nulis apa dong? Kata mentorku: tulis aja, apapun. Entah itu ngomel, entah itu pemikiran, entah itu curhat. Dan ketika aku lakukan. Dari beberapa barıs, menjadi beberapa kalimat yang berparagraf-paragraf.

Nah, ketika kalimat pembuka tadi aku terjemahkan secara literal, maka akupun mengamati diriku. Kenapa tulisan tanganku berubah-ubah? Apa yang membuat tulisan tanganku berubah-ubah? Ternyata, pertanyaan ini terjawab ketika aku bertemu dengan ilmu handwriting (grafologi). Bahwa ternyata ada hubungan antara handwriting (tulisan tangan) dengan kondisi mental seseorang. Akupun mengambil sertifikasi “membaca” tulisan tangan. 


Ah, well.

Tetap menulis. Karena ketika aku menulis, seolah aku bicara dengan sebuah bagian di dalam diriku. Menulis dengan jiwa, menulis dengan otak dan jiwa. Kalaupun gak ada yang baca, ya sudah. Karena tujuanku sudah berubah. Bukan tentang berapa eksemplar penjualan, bukan tentang royalti penjualan, it’s not about that anymore. It’s about how I leave my legacy. Because I believe, that every story is worthy to be written. 


Saturday, November 23, 2024

Kecerdasan Doa Nabi (part 1)

 Nabi yang kumaksud bukan Rosulullah SAW. Perlu diingat bahwa sebagai Umat Islam, kita perlu mengimani ada 25 Nabi yang perlu dihafal, tapi sebetulnya ada ribuan Nabi yang diutus Allah SWT seumur umat manusia ada. 


Ada kisah beberapa Nabi yang diabadikan di Al Qur’an, termasuk doa dan ucapannya. Terbukti bahwa Nabi yang diutus Allah adalah orang-orang dengan karakter pilihan, tidak sembarangan, dan mempunyai kecerdasan yang luar biasa.

Kuambil contoh, Nabi Yunus AS. Ketika beliau pergi meninggalkan kaumnya karena jengkel pada merek, dan Allah marah akan hal tersebut, maka ketika di atas kapal, Allah menurunkan badai yang luar biasa dahsyat, dan para penumpang kapal membuat undian nama siapa yang akan dibuang ke laut, dan nama Nabi Yunus keluar 3 kali, takdir Allah menjadikan Nabi Yunus dibuang ke laut, dan ditelan oleh ikan paus.

Dalam 3 kegelapan -kegelapan malam, kegelapan air laut yang dalam, dan dalam kegelapan perut ikan paus-, coba tebak apa yang dipanjatkan oleh Nabi Yunus? Apakah “Ya Allah, keluarkan aku dari sini,” atau “Ya Allah, kenapa aku?” ; tapi tidak. Doa Nabi Yunus adalah doa yang berkelas, doa yang tidak akan mungkin keluar jika empunya tidak memiliki kecerdasan tinggi. Doa yang dipanjatkan malah berupa pujian terhadap Allah, dan pengakuan akan kedzoliman diri. “Laa ilaaha illa anta, subhanaka, inni kuntu minnadzzolimiin” Tidak ada Ilah (Tuhan) selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzolim.

Yang menggelitikku adalah, kenapa doanya tidak minta dikeluarkan, diselamatkan? Kenapa kok doanya malah begini?

Setelah aku pikir beberapa lama, dan dengan modal kecerdasanku yang apa adanya ini, aku menyimpulkan, -dan tentu dari Ilmu dari ceramah-ceramah para guru yang pernah aku simak-, bahwa: ketika seseorang berada dalam kesadaran bahwa dirinya lemah, bahwa ada kekuatan yang sangat besar, yaitu Ilah (Tuhan) yang menguasai semuanya, maka nothing’s difficult for The Almighty. Apa yang perlu kita lakukan adalah mengakui kesalahan, ya emang salah, mau digimanain lagi. Dan kepasrahan yang utuh. Pasrah berserah diri, kumaha engke welah, nu penting mah ngaku salah heula. Mungkin begitu kalau bahasa Sundanya. “Gimana ntar ajalah, yang penting ngaku salah aja dulu.” Sebuah sikap yang sudah mengesampingkan ego, tidak akan mudah, tapi ternyata terbukti manjur!

Ketika Nabi Yunus merapalkan doa tersebut yang akhirnya Allah SWT mengampuni beliau, maka dengan kesempurnaan rencana Allah, Nabi Yunus dimuntahkan oleh ikan paus yang menelannya di tempat kaumnya berada. Dan syukurnya, kaumnya jadi beriman semua. Kisah Nabi Yunus bin Mata ada di Al Qur’an, surah Al-Anbiya ayat 87-88, surah As-Saffat ayat 139-148, surah Al-Qalam ayat 48-50. 


Maka, setelah mempelajari manjurnya doa tersebut, ketika kita berada di situasi yang gelap banget, bener-bener gak bisa ngapa-ngapain lagi, amalkan doa ini sebagai dzikir yang berulang.

Biarkan diri ini mengakui segala kesalahannya, dan biarkan tobat menjadi penghapus dosa, dan biarkan Cahaya Ilahi datang menerangi, dan biarkan nanti kita ditempatkan di tempat yang tepat.

Terlalu banyak keajaiban dalam hidup ini, terlalu sering Allah kasih kejutan karena kepasrahan, tobat, dan doa.

Mungkin selama ini aku menganggap Cahaya adalah hal yang biasa, I take it for granted. Maka Allah memberikan fase kegelapan biar aku mikir, biar aku bisa bersyukur, biar aku bisa bertobat dan mendengarkan diriku lebih baik, dan berikhtiar dengan sungguh-sungguh, sampai Allah berkenan mengeluarkan aku dari kegelapan berlapis-lapis.

Aamiin. 


Saturday, March 23, 2024

Merawat jiwa

 Aku menguninstal Facebook dan Instagram dari hpku, sejak Ramadhan 2024 ini. Biasanya kalau Ramadhan, aku bisa keluar dari grup-grup WA yang menurutku kurang bermanfaat. Kali ini berbeda. Mungkin banyak pencetusnya, penyebabnya, hingga aku memutuskan untuk melakukan hal yang menurut orang lain adalah hal yang susah. Dan jangan salah, akupun tidak akan membayangkan bisa melakukan hal ini sebelumnya. 


Lalu, apa yang membuatku melakukannya? 


Ada satu peristiwa yang kualami dari menulis status di Facebook yang membuatku berkaca dan agak down. Aku rasa waktuku banyak aku habiskan untuk scroll FB dan IG, dibanding produktíf, sehingga aku merasa pikiranku gaduh, berisik, layaknya air yang beriak dan tidak jernih. Pikiranku jadi overthinking, galau, takut akan masa depan, dan kuatir yang berlebihan. Dan perasaan ini aku alami selama beberapa pekan. Dan sungguh tidak enak. Karena aku seolah terjebak dalam kubangan ketakutan, tanpa bisa melakukan apa-apa. Aku merasa sebagai korban keadaan. Lelah mental, lelah jiwa. Mudah jengkel, gak sabaran.

Perlahan aku mencoba memanjat keluar dari kubangan yang menyedot diriku perlahan, mulai menginstal aplikasi untuk pengembangan diri, cari kegiatan baru, dan tentu, menghilangkan yang kurasa menyedot energi dan waktuku. Apalagi momen Ramadhan, ada target-target yang ingin aku raih.

Dan ketika aku mengajar di kelas Tumbler Optimis, aku menyampaikan ke teman-teman bahwa, ketika kita sudah mengetahui gambaran ideal diri kita itu seperti apa, maka kita akan menancapkan gol atau tujuan yang memang selaras dengan itu. Dan kita pun akan mudah berkata “tidak” pada hal yang tidak selaras dengan sosok ideal itu.

Setelah berkaca, mengkaji, dengan ringan hatiku menguninstal FB dan IG, dan fokus ke WA. Jualan via status WA, bercerita kembali di Pages, status WA, dan di blogku. Dan semua terasa lebih tenang. Tidak ada lagi noise yang kemarin sangat riuh. Aku dipertemukan Youtube dengan salah satu kyai akademisi, Dr. Fachruddin Faiz, S.Ag, M.Ag, yang lalu aku dengarkan dan berbagi dengan temanku yang mengalami kegalauan yang sama.

Karena di sisi spiritual, sudah takdir kita berada di zaman sekarang, beginilah jatah ujian kita. “Apakah mereka mengira mereka akan masuk surga tanpa diuji?”


Surat Al-Baqarah Ayat 214


أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ



“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Kesimpulan: Akan mudah melakukan sesuatu ketika kita punya motivasi internal yang kuat untuk itu. Itulah kenapa ada yang ikut lari marathon dan mengejar lari itu sampai kemana-mana, karena tiap orang punya motivasi yang berbeda. Lari marathon itu keren, tapi aku belum tertarik. Menguninstal FB dan IG itu keren, tapi mungkin bagimu tidak menarik. Dan itu tidak mengapa, aku hanya akan fokus pada diriku, jiwaku, dan tujuanku. 


Ekstrenalisasi: menulis, coaching


Eksternalisasi adalah kata yang baru aku ketahui, ternyata tidak hanya internalisasi yang penting. Eksternalisasi juga penting. 


Internalisasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah penghayatan terhadap suatu ajaran, doktrin atau nilai, sehingga merupakan keyakinan dan kesadaran akan kebenaran doktrin atau nilai yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku. 


Internalisasi adalah kata yang kukenal ketika belajar NLP, diajarkan bahwa proses untuk memindahkan teori, ilmu ke dalam praktik diri, perasaan, dan otot-otot badan. 


Maka, selain proses internalisasi, perlu juga aku pahami tentang eksternalisasi ini. Dan ternyata penjelasannya menjawab beberapa pertanyaanku tentang “Kenapa aku suka coret-coret di kertas? Kenapa orang bisa menemukan solusi ketika dia curhat, padahal orang yang dicurhati tidak memberikan solusi?”


Di sebuah tulisan Josh Kaufman tentang Externalization, aku dapat kesimpulan bahwa: 

Suara di luar diri, di wilayah Environment/Lingkungan senantiasa lebih keras suaranya dibanding suara dari dalam diri. Sehingga, isi kepala perlu dikeluarkan agar tidak berisik sendiri di dałam. Dengan cara apa mengeluarkannya?

Ada 2 proses eksternalisasi yang disampaikan oleh Kaufman, pertama: Menulis (atau menggambar), Berbicara. 


Menulis atau menggambar merupakan proses pengeluaran pikiran yang melalui proses pemikiran, sehingga tersusun kalimat yang dapat menyampaikan maksud pikiran. Diksi yang digunakan merupakan proses penyaringan, “Apakah kata ini tepat untuk menyampaikan maksud ini? Jika aku menggunakan kata ini, apakah akan dimengerti dengan mudah, ataukah akan melahirkan ambigu?” 


Maka, proses menulis ini adalah proses pencernaan pikiran secara mandiri. Ketika aku merasa kesulitan untuk menulis dan menyampaikan apa maksudku dengan baik, di situ aku merasa bahwa aku kurang bisa mencerna apa yang kupikirkan untuk bisa disampaikan melalui kata. Padahal, aku bisa memahami sesuatu, ketika aku bisa menamai rasa melalui proses nominalisasi/pembentukan kata benda. Pikiran yang tertata akan muncul di kalimat yang tertata. Jika disampaikan dalam bahasa Aa Gymnastiar: teko hanya mengeluarkan isi teko. Sedangkan dalam bahasa filusuf Dr. Faiz: tubuh adalah alat pikiran. Kamu marah di pikiran terlebih dulu, baru tanganmu memukul.

Maka, menata tulisan sama dengan menata pikiran.

Berbicara bisa kepada orang lain, atau bicara ke benda yang kita jadikan dialog, seperti aku dulu kadang bicara di depan cermin, untuk menguraikan pikiranku. Syarat ketika bicara kepada orang lain yaitu orangnya tidak boleh menginterupsi, dia mesti sabar mendengarkan, kemudian memberikan pertanyaan yang bagus. Itulah kenapa, kadang ketika aku punya masalah, aku curhatkan entah di atas sajadah, ataukah ke orang lain, kepala jadi ringan dan tiba-tiba ketemu solusinya. Karena sebenarnya akan pikiran manusia itu sudah Allah rancang sedemikian canggihnya, sehingga bisa otomatis mencari jawaban ketika dipantik pertanyaan.

Sebuah ilmu yang aku pelajari adalah NLP coaching, sesuai banget dengan penjelasan di atas. Ketika coaching berlangsung, maka coach menyediakan telinganya dengan mode active listening. Menyediakan matanya untuk memperhatikan, menyediakan waktu dan pikirannya untuk berada di know-nothing state. Mengamati bahasa verbal dan non verbal yang dilepaskan coachee misal gerak tubuh, ekspresi mikro, tekanan suara yang berbeda; yang kemudian disampaikan lagi untuk dikonfirmasikan berupa pertanyaan ke coachee. 


Aku jadi ingat dengan kisah Siti Hajar ketika ditinggalkan di Bakka (Makkah) bersama bayi Ismail, di sebuah lembah yang tandus, tidak ada air, tidak ada orang; beliau bertanya kepada NabiAllah Ibrahim AS. 


“Wahai suamiku, kenapa engkau meninggalkan kami?” Pertanyaan ini tidak dijawab oleh nabi Ibrahim, beliau terus berjalan meninggalkan istri dan anaknya.

Tapi kemudian Siti Hajar mengganti pertanyaannya dengan “Apakah ini perintah Allah?” Dan nabi Ibrahimpun menjawab “Iya, ini perintah Allah.” Maka tenanglah hati Siti Hajar mengetahui bahwa ini adalah perintah Allah karena Siti Hajar yakin, Allah tidak akan mungkin mengecewakan hambaNya yang meminta.


Meskipun maksudnya sama, ingin bertanya “kenapa kau lakukan ini?” Tapi diformulasikan dengan 2 pertanyaan yang berbeda, maka muncul jawaban yang berbeda pula. Kemampuan memformulasikan pertanyaan untuk memantik jawaban ini sebuah kelihaian yang dipelajari dan diasah. Itulah kenapa ketika menonton demo coaching, kadang aku mikir “Padahal cuma ditanya aja lho, pertanyaannya sederhana aja. Tapi kenapa coaching itu berhasil?” Karena sebenarnya pertanyaan yang diajukan coachnya bukan sekedar pertanyaan. Untuk memunculkan pertanyaan itu, seorang coach mesti menyimak, memperhatikan, memahami, kemudian mengkonfirmasi, lalu memformulasikan kalimat untuk memberikan pertanyaan yang harapannya mengajak coachee untuk berpikir, sehingga jawaban yang dikeluarkan tidak sekedar jawaban normatif, melainkan jawaban yang muncul dari dalam dirinya, yang mungkin selama ini belum pernah ada yang bertanya tentang hal tersebut. Sebuah proses berpikir yang hanya bisa dilakukan ketika sudah memahami teori dan praktik dan evaluasi. 


Semakin kita berlatih, akan semakin canggih. 


Friday, March 22, 2024

Pemaknaan idiom "Blessing in disguise"

Ketika belajar NLP, aku belajar bahwa salah satu proses pengambilan hikmah dari setiap kejadian adalah ketika kita belajar melihat dengan frame/bingkai yang berbeda. 

Melihat kejadian menyedihkan, misal ditinggalkan partner bisnis, diputuskan hubungan profesional via WA, justru menjadi hikmah, dan merupakan keberkahan yang tersembunyi.

Aku sering dengar dan baca idiom “blessing in disguise,” tapi masih belum paham maknanya dengan baik. Iya, aku ngerti artinya: blessing = Rahmat, berkah. In disguise artinya: dalam penyamaran. Tapi apa sebenarnya ini? 


Tadi pagi aku berjalan-jalan di status WA kontak-kontakku, kemudian sepderti biata, aku memberikan reaksi pada status yang menurutku bagus. Tadipun sama, adu memberikan reaksi ke salah satu status temanku, dan ternyata berubah menjadi obrolan 1.5 jam via chat WA. 


Dia ceritakan tentang kesusahannya yang baru dialami, dan bagaimana partner bisnisnya memutuskan hubungan profesional hanya via chat WA, dan sekarang partner bisnisnya mem-blok nomor dia. Dia kesel, hatinya belum terima. Dia ceritakan kisah dari awal mereka bertemu, berkongsi, hingga akhirnya mereka putus dan temanku memulai membangun brandnya sendiri. 


Ketika membaca curhatannya, aku beri dia pertanyaan untuk mengajak dia melihat dari sisi yang lain. Dan dalam prosesnya, kuajak dia perlahan untuk melihat ini dari sisi spiritual, dan dari bingkai yang berbeda. Hingga akhirnya: beginilah yang dia tulis di grup, setelah dia chat denganku: 


“baru sama cikgu aku chattingan, HP tak bawa ke kamar mandi, saking serunya 😂🤣 Sumpah, out of the box bgt, mana ada yg bilang kesedihan atau ketidak enakan adalah sebuah keberkahan. 


Ya cuma 1, itu cikgu lyaaaaa 😂


Sebuah pemaknaan muncul terhadap idiom “blessing in disguise,” yang muncul karena aku chat dengannya. Yang kalau aku tidak chat dengannya, otakku juga tidak tergelitik untuk berpikir dan mencari makna idiom itu. 


Maka, aku sadar, bahwa aku perlu berada dałam kondisi jernih, waras, dan tenang, agar bisa membantu teman bicara untuk melihat refleksi peristiwa dirinya. Tak kalah penting, aku perlu berada dałam kondisi jernih untuk kebahagiaanku, meninggalkan semua ke-overthingking-an, meninggalkan keruwetan dan menghindar dari noise,  untuk bisa berada dalam keadaan fokus, sadar, present dan utuh. 


Karena kalau tidak dalam berada dalam kondisi itu tadi, tentu aku akan ikutan bereaksi terhadap apa yang dihadapinya. Dan mungkin, itulah yang membedakan aku ketika berperan sebagai coach, dan aku yang berperan sebagai orang biasa yang demen gosip.

Friday, October 13, 2023

A & E (119)

To: Elang Mahardika 

From: Ola 

Subject: halo! 


Halo, Lang. Apa kabarmu? Semoga sehat dan bahagia ya. Ada sesuatu yang menggelitik pikiranku, dan aku ingin tahu pendapatmu. 

Aku dulu tak percaya pada rasa yang selamanya

Kuanggap itu fiksi dan isapan jempol belaka 

Kisah cinta Pangeran Charles dan Camilla

Tapi ternyata, benar adanya, Pangeran Charles menikahi Camilla, meski beberapa tahun lamanya dia tidak bersama siapa-siapa 

Bagaimana bisa? 

Kisah yang kukira dongeng semata, ternyata nyata adanya

Mereka menikah, dengan apapun hambatannya dan meski waktu jedanya lama, meski menua 

Kemarin aku nonton lagi 47 Ronin, kisah antara Mika dan Kai, meski hanyalah bumbu dongeng dari kisah nyata Ronin, tapi membuatku berpikir lagi, ternyata memang ada 1 cinta untuk selamanya. Ternyata, rasa cinta Rosulullah SAW kepada Khadijah itu bisa tetap ada meskipun Khadijahnya telah tiada. Kukira dulu itu tak mungkin. 

Ada yang bisa hidup dengan 1 cinta, bahkanpun ketika cinta itu tak dimilikinya. Memikirkan cinta itu saja sudah membahagiakan. 

Kemarin aku baca, siapa yang nulis aku lupa, tapi isinya: kita akan terkesan dengan sikap orang, kita akan lupa dengan apa yang disampaikannya, tapi kita tidak akan pernah lupa bagaimana orang itu membuat kita merasa (how you make them feel). 

Menurutku itu keren. 


Ola. 

Thursday, September 14, 2023

Bus Antar Kota Antar Propinsi Bandung Kudus, Bandung Malang.

Di 2 pekan di bulan Agustus 2023 kemarin ini aku naik bus malam dari Bandung ke Kudus. Ditemani rekan kerja, dan yang kedua ditemani sodara. Naik bus AKAP PO Nusantara, yang poolnya ada di Jalan Pajajaran no 53 Bandung, ini lokasinya seberang rumah sakit Melinda, yang sebelahan dengan Living World. 

Sebenernya bisa beli via aplikasi Travel**a, tapi di sana tulisannya habis, akhirnya kontak pegawainya, pak Sony namanya. Alhamdulillah dapat. Harga 250rb sekali jalan, dapat makan 1 kali pas pemberhentian kurang lebih jam 21 an. Kursinya nyaman, bisa reclined depan belakang, jadi bisa hampir tiduran. Ada bantal kecil, ada selimut, tapi gak dapat minum/snack. 

Kudu siapin tiket untuk disobek pas makan malam di resto pemberhentian. 

Tapi dinginnya masyaallah. Berangkat setelah maghrib dari Bandung. Sampai Kudus kurang lebih jam 2 pagi. 

Dari Kudusnya, berangkatnya sama, bisa pilih mau dari Pool atau dari Demak. Kalau dari Demak, berangkat setelah Maghrib. Sampai di Bandungnya juga sama kurang lebih jam 2-3 an keesokan harinya. 

Untuk berhentinya di Kudus bisa milih, apakah mau di POM Bensin Matahari, ataukah di poolnya. 

Sedangkan kemarin pas ke Malang, kehabisan tiket PO Gunung Harta. Jadinya naik Bus 27 Trans. Harganya 520rb sekali jalan, beli lewat aplikasi Travel**a. Ada banyak pilihan naik, aku pilih dari Terminal Cicaheum. Berangkat kurang lebih jam 15 sore. Bantalnya ada 2, ada selimut, langsung dapat 1 kotak snack & 1 nasi ayam pas berangkat. Makan malam pas berangkat itu jam 21 an, busnya telat dateng 2 jam. Yang mestinya sampai jam 3.30, ini sampai Malang baru jam 5.30. Menurutku karena kebanyakan muatan barang, jadi berhenti di sana sini, dan menata barang di bagasi bawah bus. 

Pulangnya aku pilih naik dari pool Bus 27 Trans di Singosari, berangkat juga jam 15-an. Pool tempat nunggunya enak, ber-AC, ada air, teh, kopi. Makanan & snack kurang lebih sama, tapi ini makan malamnya di Ngawi, jam 19-an. Lebih canggih ini, untuk kupon makan enggak disobek, tapi discan. 

Dinginnya ya sama. 

Intinya, naik bus AKAP sekarang ternyata enak. Apalagi dengan adanya tol Cisumdawu yang sudah beroperasi, jadi dari Jawa Barat ke Jawa Tengah, Jawa Timur jadi lebih cepet. Alhamdulillah. 





Tuesday, March 07, 2023

Fiksi

Dah lamaaaa banget gak lanjutin nulis cerita fiksi. Belum kelar-kelar aja ini tulisan, udah ketemu mentor, tetep belum dilanjut. Ya Allah susah bener nulis fiksi. Mudahkan ya Allah. 


Apa kabar, Elang? 

Apa kabar, Ola? 

Apa yang ingin kalian sampaikan?

Karena aku rindu menulis lagi tentang kalian, meskipun kisahnya menyedihkan🥲. Tapi bukankah tidak semua cerita memiliki happy ending? Eh, bener ga sih? 

Monday, January 09, 2023

Vaksin Meningitis & Vaksin Influenza untuk Umroh

 Alhamdulillah, salah satu syarat penting sudah terpenuhi, Vaksin Meningitis. (Peraturan baru 2022 menyatakan untuk Umroh tidak perlu memakai vaksin Meningitis. Tapi untuk precaution, menurutku gpp tetep vaksin aja) 


Di KKP Bandung ini bisa vaksin Covid juga, jadi enggak khusus untuk Meningitis aja. Ini tata cara daftar Vaksin Meningitisnya ya: 


1. Daftarkan diri lewat website: www.sinkarkes.kemkes.go.id 


2. Cari KKP terdekat, waktu pertama kali aku cek sekitar awal bulan Oktober, gak ada pilihan kota Bandung, artinya: vaksin yang dipilih lagi kosong. 

Terus aku follow IG nya: KKP Bandung, di situ ikutin aja storynya, ntar ada pengumuman kalau vaksin sudah tersedia. 


3. Isi semua form online, termasuk foto paspor. Pilih tujuan Umroh, dan vaksinnya Meningitis. Pilih hari yang tersedia. Vaksin ini bisa dilakukan maksimal 2 pekan sebelum keberangkatan. 


4. Kamu akan terima email dari Sinkarkes yang berisi 2 file. 


5. Di hari yang ditentukan, pastikan sehat; bawa uang tunai Rp 305.000, print out 2 file dari email, fotokopi halaman depan paspor, nanti ditanya sama petugas di depan sertifikat vaksin Covid 19. Karena aku ga bawa print outnya, tadi aku tunjukkan aja sertifikat dari aplikasi Peduli Lindungi dan petugas menulis V3 tanggal berapanya di print out-an. 


6. Setelah dari petugas pertama, langsung cek tensi, ketika OK, langsung ngetik sendiri isi formulir online, kemudian dapat nomor antrian. 


7. Naik ke lantai 2, dan nunggu dipanggil untuk bayar sebesar Rp 305.000,- 


8. Untuk wanita di bawah usia 50 tahun, mesti tes kehamilan, jadi dikasih gelas plastik dan testpack


9. Bawa testpack dan formulir & bukti bayar ke dokter bagian vaksin Wanita. Bismillah vaksin di lengan kiri. 


10. Selesai alhamdulillah. 


Berita bagusnya, sekarang vaksin Meningitis berlaku 3 tahun🥰, sebelumnya berlaku 2 tahun. Lalu disarankan 2 pekan lagi untuk vaksin flu. 


Total waktu: 25 menitan karena gak terlalu antri meskipun ramai. 

——

Untuk Vaksin influenza ada 2 jenis, yang 3 strain dan 4 strain. Aku pilih yang 4 strain, suntiknya di Kimia Farma Supratman Bandung, biaya kurang lebih 450rb. 


Kata temenku yang sekarang masih di Madinah, alhamdulillah yang vaksin Influenza kebantu banget enggak demam karena perubahan cuaca yang drastis. Desember Januari ini Mekkah Madinah musim dingin. Lumayan berangin juga. 


Intinya, vaksin memang gak wajib, tapi untuk ikhtiar optimal supaya sehat walafiat bisa optimal ibadah, ga ada salahnya, kan?

#vaksinMeningitis

#vaksinInfluenza