Eksternalisasi adalah kata yang baru aku ketahui, ternyata tidak hanya internalisasi yang penting. Eksternalisasi juga penting.
Internalisasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah penghayatan terhadap suatu ajaran, doktrin atau nilai, sehingga merupakan keyakinan dan kesadaran akan kebenaran doktrin atau nilai yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku.
Internalisasi adalah kata yang kukenal ketika belajar NLP, diajarkan bahwa proses untuk memindahkan teori, ilmu ke dalam praktik diri, perasaan, dan otot-otot badan.
Maka, selain proses internalisasi, perlu juga aku pahami tentang eksternalisasi ini. Dan ternyata penjelasannya menjawab beberapa pertanyaanku tentang “Kenapa aku suka coret-coret di kertas? Kenapa orang bisa menemukan solusi ketika dia curhat, padahal orang yang dicurhati tidak memberikan solusi?”
Di sebuah tulisan Josh Kaufman tentang Externalization, aku dapat kesimpulan bahwa:
Suara di luar diri, di wilayah Environment/Lingkungan senantiasa lebih keras suaranya dibanding suara dari dalam diri. Sehingga, isi kepala perlu dikeluarkan agar tidak berisik sendiri di dałam. Dengan cara apa mengeluarkannya?
Ada 2 proses eksternalisasi yang disampaikan oleh Kaufman, pertama: Menulis (atau menggambar), Berbicara.
Menulis atau menggambar merupakan proses pengeluaran pikiran yang melalui proses pemikiran, sehingga tersusun kalimat yang dapat menyampaikan maksud pikiran. Diksi yang digunakan merupakan proses penyaringan, “Apakah kata ini tepat untuk menyampaikan maksud ini? Jika aku menggunakan kata ini, apakah akan dimengerti dengan mudah, ataukah akan melahirkan ambigu?”
Maka, proses menulis ini adalah proses pencernaan pikiran secara mandiri. Ketika aku merasa kesulitan untuk menulis dan menyampaikan apa maksudku dengan baik, di situ aku merasa bahwa aku kurang bisa mencerna apa yang kupikirkan untuk bisa disampaikan melalui kata. Padahal, aku bisa memahami sesuatu, ketika aku bisa menamai rasa melalui proses nominalisasi/pembentukan kata benda. Pikiran yang tertata akan muncul di kalimat yang tertata. Jika disampaikan dalam bahasa Aa Gymnastiar: teko hanya mengeluarkan isi teko. Sedangkan dalam bahasa filusuf Dr. Faiz: tubuh adalah alat pikiran. Kamu marah di pikiran terlebih dulu, baru tanganmu memukul.
Maka, menata tulisan sama dengan menata pikiran.
Berbicara bisa kepada orang lain, atau bicara ke benda yang kita jadikan dialog, seperti aku dulu kadang bicara di depan cermin, untuk menguraikan pikiranku. Syarat ketika bicara kepada orang lain yaitu orangnya tidak boleh menginterupsi, dia mesti sabar mendengarkan, kemudian memberikan pertanyaan yang bagus. Itulah kenapa, kadang ketika aku punya masalah, aku curhatkan entah di atas sajadah, ataukah ke orang lain, kepala jadi ringan dan tiba-tiba ketemu solusinya. Karena sebenarnya akan pikiran manusia itu sudah Allah rancang sedemikian canggihnya, sehingga bisa otomatis mencari jawaban ketika dipantik pertanyaan.
Sebuah ilmu yang aku pelajari adalah NLP coaching, sesuai banget dengan penjelasan di atas. Ketika coaching berlangsung, maka coach menyediakan telinganya dengan mode active listening. Menyediakan matanya untuk memperhatikan, menyediakan waktu dan pikirannya untuk berada di know-nothing state. Mengamati bahasa verbal dan non verbal yang dilepaskan coachee misal gerak tubuh, ekspresi mikro, tekanan suara yang berbeda; yang kemudian disampaikan lagi untuk dikonfirmasikan berupa pertanyaan ke coachee.
Aku jadi ingat dengan kisah Siti Hajar ketika ditinggalkan di Bakka (Makkah) bersama bayi Ismail, di sebuah lembah yang tandus, tidak ada air, tidak ada orang; beliau bertanya kepada NabiAllah Ibrahim AS.
“Wahai suamiku, kenapa engkau meninggalkan kami?” Pertanyaan ini tidak dijawab oleh nabi Ibrahim, beliau terus berjalan meninggalkan istri dan anaknya.
Tapi kemudian Siti Hajar mengganti pertanyaannya dengan “Apakah ini perintah Allah?” Dan nabi Ibrahimpun menjawab “Iya, ini perintah Allah.” Maka tenanglah hati Siti Hajar mengetahui bahwa ini adalah perintah Allah karena Siti Hajar yakin, Allah tidak akan mungkin mengecewakan hambaNya yang meminta.
Meskipun maksudnya sama, ingin bertanya “kenapa kau lakukan ini?” Tapi diformulasikan dengan 2 pertanyaan yang berbeda, maka muncul jawaban yang berbeda pula. Kemampuan memformulasikan pertanyaan untuk memantik jawaban ini sebuah kelihaian yang dipelajari dan diasah. Itulah kenapa ketika menonton demo coaching, kadang aku mikir “Padahal cuma ditanya aja lho, pertanyaannya sederhana aja. Tapi kenapa coaching itu berhasil?” Karena sebenarnya pertanyaan yang diajukan coachnya bukan sekedar pertanyaan. Untuk memunculkan pertanyaan itu, seorang coach mesti menyimak, memperhatikan, memahami, kemudian mengkonfirmasi, lalu memformulasikan kalimat untuk memberikan pertanyaan yang harapannya mengajak coachee untuk berpikir, sehingga jawaban yang dikeluarkan tidak sekedar jawaban normatif, melainkan jawaban yang muncul dari dalam dirinya, yang mungkin selama ini belum pernah ada yang bertanya tentang hal tersebut. Sebuah proses berpikir yang hanya bisa dilakukan ketika sudah memahami teori dan praktik dan evaluasi.
Semakin kita berlatih, akan semakin canggih.