Friday, March 22, 2024

Pemaknaan idiom "Blessing in disguise"

Ketika belajar NLP, aku belajar bahwa salah satu proses pengambilan hikmah dari setiap kejadian adalah ketika kita belajar melihat dengan frame/bingkai yang berbeda. 

Melihat kejadian menyedihkan, misal ditinggalkan partner bisnis, diputuskan hubungan profesional via WA, justru menjadi hikmah, dan merupakan keberkahan yang tersembunyi.

Aku sering dengar dan baca idiom “blessing in disguise,” tapi masih belum paham maknanya dengan baik. Iya, aku ngerti artinya: blessing = Rahmat, berkah. In disguise artinya: dalam penyamaran. Tapi apa sebenarnya ini? 


Tadi pagi aku berjalan-jalan di status WA kontak-kontakku, kemudian sepderti biata, aku memberikan reaksi pada status yang menurutku bagus. Tadipun sama, adu memberikan reaksi ke salah satu status temanku, dan ternyata berubah menjadi obrolan 1.5 jam via chat WA. 


Dia ceritakan tentang kesusahannya yang baru dialami, dan bagaimana partner bisnisnya memutuskan hubungan profesional hanya via chat WA, dan sekarang partner bisnisnya mem-blok nomor dia. Dia kesel, hatinya belum terima. Dia ceritakan kisah dari awal mereka bertemu, berkongsi, hingga akhirnya mereka putus dan temanku memulai membangun brandnya sendiri. 


Ketika membaca curhatannya, aku beri dia pertanyaan untuk mengajak dia melihat dari sisi yang lain. Dan dalam prosesnya, kuajak dia perlahan untuk melihat ini dari sisi spiritual, dan dari bingkai yang berbeda. Hingga akhirnya: beginilah yang dia tulis di grup, setelah dia chat denganku: 


“baru sama cikgu aku chattingan, HP tak bawa ke kamar mandi, saking serunya 😂🤣 Sumpah, out of the box bgt, mana ada yg bilang kesedihan atau ketidak enakan adalah sebuah keberkahan. 


Ya cuma 1, itu cikgu lyaaaaa 😂


Sebuah pemaknaan muncul terhadap idiom “blessing in disguise,” yang muncul karena aku chat dengannya. Yang kalau aku tidak chat dengannya, otakku juga tidak tergelitik untuk berpikir dan mencari makna idiom itu. 


Maka, aku sadar, bahwa aku perlu berada daÅ‚am kondisi jernih, waras, dan tenang, agar bisa membantu teman bicara untuk melihat refleksi peristiwa dirinya. Tak kalah penting, aku perlu berada daÅ‚am kondisi jernih untuk kebahagiaanku, meninggalkan semua ke-overthingking-an, meninggalkan keruwetan dan menghindar dari noise,  untuk bisa berada dalam keadaan fokus, sadar, present dan utuh. 


Karena kalau tidak dalam berada dalam kondisi itu tadi, tentu aku akan ikutan bereaksi terhadap apa yang dihadapinya. Dan mungkin, itulah yang membedakan aku ketika berperan sebagai coach, dan aku yang berperan sebagai orang biasa yang demen gosip.

No comments: