Showing posts with label Bandung. Show all posts
Showing posts with label Bandung. Show all posts

Wednesday, November 22, 2017

Tentang Informasi, Tentang Belajar

Kadang kita menemukan keyakinan, kekuatan, setelah berbincang dengan kawan. Kawan yang mampu memberikan pandangan dari sudut yang berbeda. Sudut yang jujur namun memberdayakan. 

Ceritanya pagi ini, saya tertarik untuk mengikuti salah satu workshop. Workshop tentang desain. Apakah ini sekedar ikut-ikutan? Saya tidak yakin. Tapi memang ada kawan yang merekomendasikan workshop ini. Salah satu guru saya memudahkan pilihan dengan membuat kriteria. Dan bagi saya, salah satu yang membuat saya memilih untuk mengikuti workshop ialah apakah skill yang ditawarkan workshop itu akan mendukung kehidupan saya, baik secara pribadi maupun dalam pekerjaan.

Setelah saya timbang-timbang, workshop itu akan meningkatkan skill saya di salah satu bidang yang menurut saya masih belum jago. Masih buta, tapi ingin belajar. Jadi jika skala 1-10, di mana 10 adalah tertarik sekali hingga saya transfer, ketertarikan saya masih ada di angka 6. Dan butuh 10 untuk meyakinkan diri saya untuk meng-iyakan workshop. Maka saya bertanya pada kawan saya ini dan ternyata saya mendapat referensi yang OK tentang manfaat workshop ini. Namun, angka masih bergerak ke 7. 

Lain halnya dengan salah satu workshop yang akan dihadiri suami beberapa waktu ini. Workshop ini awalnya di angka 6, belum terlalu urgen. Dibutuhkan untuk perkembangan bisnis yang sedang kami jalani, namun dirasa akan belum berefek langsung pada omzet. Sehingga saya meletakkan workshop itu di kolom: Penting, Tidak Mendesak. 

Dengan satu informasi saja, workshop itu pindah ke kolom: Penting, Mendesak. Dan kemudian saya dan suami memutuskan untuk mengikutinya. Apa informasi itu yang menyebabkan dari angka 6 langsung menjadi 10?  

Informasi itu berisi kurang lebihnya begini:
“Workshop ini adalah workshop terakhir. Setelahnya, tidak akan ada kelas basic, dan hanya ada kelas lanjutan dari kelas basic. Walau belum mencapai target sebanyak 1000 alumni, namun kami akan fokus memberikan materi lanjutan yang sudah ditunggu-tunggu oleh para alumni.”

Wow! Kelas terakhir! 

It’s now or never! Sekarang atau tidak selamanya. Saya lalu menimbang-nimbang antara keuntungan yang akan didapat karena menjadi alumni dari komunitas eksklusif (ya, kan tidak akan ada kelas basic, jadi ya jumlah alumni tidak akan bertambah setelah kelas terakhir ini, kan?). Dan betapa ruginya jika saya tidak ikut serta dalam golongan itu, maka suami dan saya segera memutuskan untuk ikut dan segala keperluan disiapkan. 

Cerita selanjutnya tentang informasi yang saya berikan kepada kawan saya mengenai workshop yang akan dia ikuti Desember nanti. Dia takut nanti akan tidak memahami materi dan takut jika kawan-kawannya terlalu serius. Hehe. 

Apa yang saya lakukan untuk meyakinkannya agar makin membulatkan tekadnya? Saya mengatakan jujur apa adanya bahwa di awal akan ada perasaaan “kok aku gak ngerti ya?”, “kok dia ngerti duluan ya?”. Saya katakan bahwa saya dan kawan-kawan sekelas dulu merasakan hal yang sama. Kuncinya hanyalah bersabar. Bukankah seperti itu fitrah belajar? 

Menurut saya, fitrah belajar ialah kita akan merasa kesulitan memahami pada awalnya, memahami  ilmu sebatas wawasan. Lalu seiring kita praktek, maka teori tadi terejawantahkan dalam praktek, dan ketika praktek, maka ilmu tadi terserap, tak lagi semata wawasan. Dan akhirnya ilmu itu akan menjadi darah dan daging hingga nanti sampai pada level Unconscious Competence. Kompetensi yang tidak disadari, otomatis, dan menjadi reflek. 

Salah satu guru saya sering mengatakan ungkapan terkenal: Fake it, till you make it. Sama seperti nasihat untuk bersabar. Ya kalau belum sabar, pura-pura saja dulu jadi orang sabar. Teruslah berperan seperti itu, hingga akhirnya sabar itu menjadi bagian dari diri. 
Alhamdulillahnya, kawan saya tadi merasa makin bulat tekadnya untuk memulai kelasnya Desember nanti. Dari percakapan ringan, muncul informasi, muncul keyakinan, muncul tindakan! 

Selamat belajar! 



Monday, November 20, 2017

Mengenal Metode Pengobatan Avasin di Klinik Averum Bandung

Avasin, bagi saya ini metode baru dalam kesehatan. Sebuah klinik kesehatan di Bandung, di jl. Cikutra tepatnya, adalah tempat saya mengenal metode ini. 

Ceritanya, saya dan anak saya membutuhkan pertolongan kesehatan yang menurut saya tidak hanya berupa obat, namun juga terapi fisik. Anak saya tiba-tiba mengalami semacam kram di kakinya, dan tidak bisa digerakkan di hari Ahad lalu. Tempat terapi yang biasanya dulu kami datangi sudah pindah dan letaknya terlampau jauh untuk ditempuh. Maka saya terpikir Klinik Averum. 

Klinik ini menjadi pilihan saya karena klinik kecil ini selalu ramai. Dan waktu itu saya pernah ke sana sebelumnya. Jadi sudah ada anchor dengan tempat ini. Harganyapun terjangkau, dan pelayanannya cepat. 

Akhirnya saya memutuskan untuk menelpon klinik siapa tahu bisa mendaftar melalui telpon. Ada dua dokter yang praktek pada hari Senin: 
  • dr. Muslih, jam praktek 09-14 WIB
  • dr. Susi, jam praktek 09-14 WIB. 

Syukur alhamdulillah ternyata pendaftaran via telpon bisa dilakukan, kamipun bergegas ke sana dengan taksi, karena kaki anak saya yang masih belum bisa digunakan seperti biasanya.

Avasin, sebuah metode pengobatan dengan menggunakan stik (semacam e-pen, ulegan obat), dan menggunakan titik-titik saraf. Mirip dengan akupuntur, namun tanpa jarum. Dokter Muslih menangani anak saya dengan sabar dan menjelaskan sebab-sebabnya. Yaitu kurangnya peregangan, sehingga otot kakinya mengalami cedera. 

Anak saya memang tergolong aktif, dan kadang ketika memulai olahraga, dia langsung melakukan pemanasan, tanpa peregangan (stretching) terlebih dulu. 

Dengan sabar dan cekatan otot-otot kaki anak saya diterapinya. Sedikit sakit, syukurlah dia tidak menjerit kesakitan. Suami saya berkata dengan sedikit bercanda “Sunat lebih sakit, kok”. Hehe. Langsung terbayang saat saya menemani anak sulung saya ini di meja sunat. Dia meronta-ronta dengan penuh kekuatan. Hehehe. 

Alhamdulillah setelah sekitar 20 menit terapi, serta diuji coba dengan anak saya diminta untuk streching kakinya, kakinya sudah bisa kembali berfungsi sedia kala. Ternyata tidak rutin stretching mengakibatkan adanya radang (ini menjelaskan kenapa dia juga demam), dan bagian lututnya lebih panas dibandingkan lutut satunya. 

Sampai di rumah, anak saya mengatakan “kok cepet ya sembuhnya?”. Alhamdulillah, dia cocok dengan metode pengobatan avasin ini.

Jika Anda ingin mencoba terapi avasin, silakan datang ke Klinik Averum. Janganlah ragu, Anda akan dilayani oleh dokter yang mendalami metode pengobatan avasin. 


Klinik Averum, Jl. Cikutra no 312, Bandung 40124.
No telpon: 0812 2269 1123 ‘ 022 878 31 555
Biaya konsultasi & terapi (per 20 November 2017) Rp 120.000,- (bawa uang tunai ya)



Semoga sehat selalu!

Tuesday, January 05, 2016

Bandung, surganya Fashion?

Awal 2016 Januari ini, yang bertepatan dengan bulan Rabi'ul Awal 1437 Hijriah, beberapa hal baru saya lakukan. Dan hal-hal tersebut yang mengilhami saya menulis entri blog ini, setelah sekian lama kosong tanpa ada update baru.

Fashion, mode, baju, kain, tidak pernah berhenti orang berinovasi, mencoba model baru, motif baru, gaya baru. Dan seiring ramainya sosmed, penjualan fashion yang sebelumnya hanya terbatas pada toko offline, mulai merambah dunia online. Nilainya pun tak main-main. Bisnis jual baju, kain, dan semacamnya, tidak bisa lagi disebut sebagai "usaha sampingan". It's serious money going on.

Dengan akses transportasi, didukung dengan akomodasi, banyak sekali wisatawan asing yang belanja bahan fashion di Bandung. Tidak jarang ditemui turis Malaysia, Singapur, berjalan-jalan di Pasar Baru. Logat khas mereka menjadikan suasana belanja makin meriah. Semeriah penghasilan para pelaku bisnis offline.

1. Pasar Baru Bandung
Kemajuan luar biasa, persis di hadapan Pasar Baru Bandung ini, dibangun hotel. Iya, hotel. Yang mana tidak jauh-jauh, pasti digunakan untuk mengakomodir wisatawan domestik maupun luar, yang ingin berbelanja di Pasar Baru Bandung. Mulai dari belanja kain kiloan, hingga yang satu meternya harganya bisa membuat mata terbelalak, semua ada. Mau segala oleh-oleh dari Arab, semacam kurma, kacang-kacangan, juga ada. Mau sajadah, perlengkapan sholat ada. Mau gamis, hijab, baju dalam, sprei, you name it. Semua ada.

Buah-buahan, dll, sampe oleh-oleh tempe goreng Bandung pun lengkap! Semuanya tumplek blek di Pasar Baru Bandung. Bisa dibayangkan omzet para pelaku bisnis yang melapak di Pasar Baru Bandung ini. Luar biasa. Perputaran uang riil.

Ohya, plus KFC yang nongkrong di pojokan depan Pasar Baru Bandung, yang trafficnya luar biasa.... hampir tidak pernah ada kursi kosong. Ck ck ck .. Saya tadi mikir "Kenapa KFC, kenapa ga HokaBento, atau McDo, atau yang lain". Hehe, iseng aja sih. Sayang belum ada mesin EDC di KFC ini, jadi ga bisa bayar pake fiestapoin, dan juga paket anaknya ga ada mainannya. batal deh order Chaki meal.. :(

2. Baltos
Entah, menurut saya, perkembangannya termasuk stagnan. Dari awal berdiri hingga sekarang, tak banyak kemajuan yang didapat. Walau memang di berbagai sisi, sudah ada pemain-pemain yang sudah punya merk, yang buka lapak juga di Baltos. Baltos sebagai tampungan dari Pasar Balubur lama, juga termasuk ramai lengkap.

Mulai dari penjual pasar basah (sayur mayur, bumbu dapur, ikan, daging ayam, jajanan pasar, semua ada), penjual stationery (semacam kertas, dan perlengkapan sekolah, ATK, juga lengkap). Dengan adanya ACE Hardware juga menyemarakkan belanja di Baltos. Untuk pengunjung yang mau terbebas dari asap rokok, dan bisa lebih nyaman window shopping, bisa masuk ke toko ini. Sekarangpun, Chatime masuk di bagian bekas kasir ACE Hardware. Sepertinya hal ini juga menambah ramai ACE Hardware, walau mungkin belum tentu pengunjung belanja disana. Sayangnya, tidak ada Informa di cabang ini. Hanya ada di cabang tertentu di Bandung (kalau ga salah hanya ada di Dago dan IBCC).

Lalu, juga ada bagian hijab, perlengkapan fashion muslimah (kenapa ya fashion muslim jarang?), yang lumayan berisi beberapa merk terkenal, seperti Zoya, Elzata, Wardah, juga beberapa merk lokal Indie yang menggebrak. Pun yang muslimah syar'i yang bercadar juga bisa belanja disini karena ada penjualnya juga lho ^_^. Cukup lengkap :)

Selain itu, ada juga penjual buku-buku bekas/baru, tapi bukan toko buku ya.. lapak buku.. Lumayan bisa dapat komik lawas seharga 10rb untuk 3 komik. Terus, juga ada lapak bagi pecinta bola dan jersey bola, yang bisa pesen langsung untuk dibikin disitu. Hm, beberapa lapak untuk mengisi tinta printer, dan semacamnya (tapi sayang, hmm... asap rokoknya itu lho).

Ohya, saya ini jadi bingung, sebenarnya merokok di luar ruangan itu boleh tidak, sih? Secara peraturan yang dipasang sih bisa didenda 5 juta rupiah (kalau ga salah baca), hm, tapi sepertinya tidak ada penegak hukumnya.. hehe. Jadi siapa yang bakal denda ya?

Lalu, ada juga yang menyediakan batik, semua serba batik, dan juga kain (walau tidak sebanyak di Pasar Baru Bandung, dan dengan harga yang sedikit berbeda (kecuali udah tahu harga dan bisa nawar).

3. Braga Citywalk
Mall yang entah kenapa masih belum sehidup BIP. Padahal udah ada 2 hotel, 1 studio film XXI. Apakah karena akses masuknya yang susah? Mengingat untuk masuk ke Mall ini, harus lewat one way dari arah BIP, lurus terus sampe BI, terus belok kiri arah rel kereta api, terus baru belok kanan, terus ambil kiri (masuk parkiran). Dengan akses terbatas ini, bisa jadi menjadikan Braga Citywalk belum rame.

Tapi, tadi waktu kesana, ada pamerah clothing. Dan jumlahnya lumayan serta beragam. Dari kaos Bandung (kalau ga salah merk nya Canghegar), batik Kamisuka, dan beberapa lapak lainnya. Di pameran itu, saya merasa, "ya ampun, Bandung ini banyak banget ya merk fashion, dan kayaknya bisa melayani SEMUA LAPISAN masyarakat".


Nah, dari ketiga tempat itu, saya berkesimpulan:
1. Bandung ini memang surganya Fashion. Like it or not.
Semua harga ada. Semua bener-bener bisa dapat barang yang diinginkan, sesuai bujet.

2. Kita mesti punya statement of fashion (fashion statement) yang jelas, kalau ga, bisa kalang kabut liat semua barang bagus, dan affordable, dan cute, dan lucu, dan lain sebagainya.

3. Kalau kita beli barang, kayaknya lebih fair kalau kita juga keluarkan barang yang kita punya. Yang pernah saya denger dari seorang guru kondang: "jika dikasih baju 10, keluarkan baju juga 10".

4. Siapkan bujet jika berbelanja, dan make sure, patuhi bujet. Jangan lapar mata lah (sebaiknya). Karena ingat, bon-bon belanjaan itu tidak berbohong. Hehe. Dan salah-salah bikin makin stress kalau ternyata over budget :).

5. Pakai baju / sepatu yang cocok untuk jalan-jalan, terutama di musim hujan seperti sekarang. Jangan pake highheels yang aneh-aneh, untuk jalan di jalan becek. atau pake baju yang sayang kotor ^_^.

6. Ingat selalu kewajiban walau sedang berbelanja. Bagi yang muslim, kalau waktunya sholat, ya sholat. Jangan bikin jalan-jalan jadi ga berkah. Hehe.

Ya segitu dulu lah sebagai preambule. Yang mau ke Bandung, saya sarankan, sebaiknya weekday, kenapa? Biar anti mainstream aja, jadi ga terlalu kena macet, dan siapa tau bisa nego harga lebih bagus. Hehe.



Friday, February 14, 2014

Olahraga, Joged, dan Kebahagiaan

Fenomena di televisi yang kerap menyuguhkan acara-acara yang kurang mendidik tapi rating tinggi memang menggelitik hati untuk komentar. Tapi apa yang bisa saya komentari? Bahwa acara tersebut harus dihilangkan dan diganti dengan acara yang lebih mendidik? Diganti dengan acara yang harusnya ratingnya lebih tinggi? Lha bagaimana lha wong ternyata di pihak televisinya tentu penilaian tentang bagus tidaknya acara bukan dari isi konten semata, tapi ada juga urusan rating. Dan ternyata kesuksesan besar suatu acara akan ditiru stasiun tv lainnya karena mengharap rating yang tinggi pula.

Dan inilah yang terjadi, acara joget-joget tebar-tebar uang yang semakin diminati ini dibuktikan dengan ternyata stasiun tv lain yang mencoba membuat acara semacamnya (dan mungkin diusahakan lebih menarik dengan bintang yang lebih terkenal atau durasi lebih panjang, atau uang yang lebih banyak, atau joget yang berbeda). Tapi pada intinya ya tadi itu, joget-joget tebar uang. Ironisnya, bukan hanya para laki-laki saja yang menikmati acara tersebut, buktinya di layar kaca juga sering disorot ibu-ibu berjilbab (yang harusnya ada di acara Mamah Dedeh, bukan acara joget), yang juga ceria dan antusias mengikuti jalannya acara dan perintah si tukang joget. Fenomena apalagi ini? Kemana perginya malu?

Nah, kegelisahan ini akhirnya sedikit terjawab dengan pengalaman diri kemarin yang lari sore di Sabuga (dan ketemu keluarga kecilnya Dodi). Kok bisa terjawab? Apa hubungannya? Ternyata setelah saya endapkan lagi, memang sangat berhubungan.

Ini hubungannya (menurut saya):
  • Joget = olahraga, karena bergerak, bersenang-senang, akan menghasilkan hormon endorphin yang membuat rasa bahagia. 
  • Uang = keringat dan prestasi, karena dengan adanya uang yang mereka rebutkan itu (dan yang mereka dapatkan), tentu ada kepuasan tersendiri dan ada rasa menang diantara yang lain yang tidak kebagian uang tersebut. 
  • Ketemu artis = ketemu teman, dengan ketemunya para jogeters ini dengan artis (yang mungkin idolanya), menimbulkan rasa bahagia lagi sama seperti saya ketemu Nur di Sabuga.
Nah, dengan joget yang diliput tv pula ini lebih lagi menambah kebahagiaan mereka jogeters, siapa tahu kesuting dan masuk tv. Lumayan kan jadi seleb beberapa detik. Pengorbanan mereka jogeters untuk pergi ke studio, berdandan seheboh mungkin ini saya setarakan dengan tekad orang yang mau olahraga ke Sabuga, yaitu harus niat ke Sabuga, bawa sepatu, dan kostum olahraga, bawa air, dan mungkin pulang jalan kaki. Ya semua ini setara (menurut saya, haha).

Kebahagiaan yang mereka jogeters dapatkan bagi saya sama dengan keringat yang didapat orang yang olahraga di Sabuga (atau di tempat manapun mereka berolahraga). Itulah yang membuat mereka jogeters datang lagi dan lagi dan lagi dan lagi dan lagi dan lagiiiiii.. Sama seperti olahraga yang juga jadi "candu", walau hujan, panas terik, tetap saja dijabanin, ya sama seperti itulah energi yang men-drive para jogeters untuk tetap Pokoke Joged!

Alhamdulillah di Bandung sudah banyak taman-taman cantik untuk olahraga sekedar jalan kaki, cuci mata, dan peregangan otot, free wifi dimanapun untuk tetap bisa bekerja (dan bersosial media), gratis nikah di pendopo (balaikota kalau ga salah) 1 bulan sekali kalau tidak, mungkin perlu acara joget-joget juga untuk meningkatkan Indeks Kebahagiaan warga Bandung :D. LOL. 



Thursday, February 06, 2014

Belated Birthday untuk Aa Gym dan Teh Ninih.

Saya gemes ingin nulis tentang salah satu tokoh yang menjadi panutan saya dalam mengenal Islam. Salah satunya adalah Aa Gym (Abdullah Gymnastiar), tapi kalau nulis tentang Aa ini mungkin bisa sampai berseri-seri tulisannya, karena saking panjangnya dari semenjak kuliah sampai sekarang. Salah satu syariat "ketemu" dengan suami ya salah satunya secara tidak langsung adalah lewat kajian-kajian Aa Gym di Darut Tauhid Bandung.

Kenapa saya ingin nulis tentang tokoh ini? Karena mau tidak mau harus diakui bahwa beliau salah satu sosok legendaris di dunia dakwah Islam. Dari semenjak awal berdakwah yang hanya dikenal sebagian kecil orang, hingga membangun masjid Darut Tauhid yang sekarang usianya sudah 20 tahun, ketenarannya, poligami dan ditinggal para fansnya, hingga sekarang bangkit lagi bahkan menjadi lebih hebat dari sebelumnya (walau tidak diliput media).

Betapa sosok satu ini sudah menjadi bukti bagaimana Allah SWT membolak-balikkan episode hidup hambaNya. Dan bagaimana seorang hamba menerjemahkan segala kejadian hidupnya dan terus berhusnudzon (berbaik sangka) kepada takdir Allah SWT.

Ketika saya dulu "mengenal" sosok ini, saya membaca setiap buku yang membahasnya, mulai dari biografi singkatnya sampai buku-buku kecil seperti tips-tips sabar, hidup tenang dan sebagainya. Bahkan ketika saya liburan kuliahpun, saya bela-belain ke Bandung, main ke DT (Darut Tauhid), membeli buku-buku, dan pernak pernik DT.

Siaran MQ Pagi pun saya dengarkan lewat internet melalui jaringan radio internet yang dibikin temen di Jerman. Sampai pun pindah ke Bandung setelah lulus, tetep aja masih suka denger MQFM sampai sekarang beranak 2. Sungguh loyalitas luar biasa. Loyalitas karena apa ya? Saya juga bingung. Saya seperti menemukan oase ilmu di sosok satu ini. Ilmu hidup sederhana yang bisa diulik sedemikian rupa sehingga cocok dengan pemahaman ilmu agama. Ilmu agama dibumikan. Hal-hal ringan tapi fundamental seperti ketauhidan benar-benar ditanamkan. Ilmu itu yang menurut saya sangat amat jarang ditemukan.

Banyak pendakwah lain yang juga luar biasa, seperti Mamah Dedeh yang pengetahuan fiqih, qur'an, hadist, semuanya lengkap. Konsep ibu-ibu "curhat" yang nanya tidak sesuai materi pun bisa dijawab langsung, fasih, dan benar! Sungguh ilmu yang luar biasa sudah ada di Mamah Dedeh. Dengan pembawaan beliau yang santai tapi tegas, sepertinya memang cocok dengan karakter pemirsanya, yaitu ibu-ibu.

Nah, Aa Gym ini karakternya juga lucu, saya bahkan sering beranggapan beliau ini seperti komika Stand Up Comedy saja. Contoh-contoh yang diberikan untuk menjelaskan makna ketauhidan, manja ke Allah SWT, ilmu-ilmu menghadapi hidup itu seakan-akan dibuat lucu. Mengingatkan saya pada Mario Teguh (Golden Ways), yang sangat mampu menghadapi audiens yang beragam, serta memberikan pemikiran-pemikiran sederhana, mudah dicerna, dan mujarab.

Berbagai ilmu ketauhidan (mengesakan Allah SWT dan tidak menyekutukanNya dengan apapun dan siapapun), dibahas selalu oleh Aa Gym dari dulu awal beliau dakwah sampai sekarang. Herannya dengan satu ilmu saja, saya (dan mungkin banyak loyalis Aa Gym semua) yang tidak pernah bosan menunggu ceramah-ceramahnya.

Dan penamaan "Aa" menunjukkan keakraban luar biasa, karena mau anak kecil, mau orang dewasa, mau orang tua, tetap saja memanggilnya "Aa Gym", bukan "Bapak Aa Gym". Hehe. Ini salah satu branding yang OK menurut saya. Hehe. Biar awet muda juga mungkin ya A :D.

Kisah "kejatuhannya" karena fans banyak meninggalkannya karena keputusannya untuk berpoligami pun diceritakan dengan ringan dan santai. Pun ketika bercerai dengan Teh Ninih, dan kembali rujuk beberapa bulan kemudian. Sungguh seakan-akan bagi Aa Gym ini memang wajib untuk menomersatukan Allah SWT, bukan mendewakan suami, istri atau keluarga.

Begitu banyak yang saya ingin ucapkan. Tapi dari dalam lubuk hati saya yang terdalam, saya mendoakan Aa Gym dan Teh Ninih yang baru saja berulang tahun, untuk selalu menjadi contoh, teladan, panutan, dan salah satu sumber ilmu tentang Islam dan kehidupan dunia ini.

Jazakumullah. Selamat ulang tahun di bulan Januari lalu Aa Gym dan Teh Ninih. Semoga Allah SWT selalu menuntun dan memberikan hidayahNya kepada keluarga dan kita semua. Aamiin.

Wednesday, January 29, 2014

Menciptakan Keberuntungan?

Kemarin malam-malam di radio MQFM, ada perbincangan menarik dari seorang nara sumber trainer anak muda dan juga si pembawa berita. Materi yang dibicarakan adalah bagaimana menciptakan keberuntungan. Apakah keberuntungan itu bisa di set? Apakah memang ada orang yang selalu sial terus dan sebaliknya, orang yang selalu untung terus. Meminjam penjelasan Oprah, "luck is preparation meeting opportunity", artinya keberuntungan adalah ketika kesiapan kita bertemu dengan kesempatan/peluang. Tidak dikatakan seseorang beruntung jika dia tidak siap walaupun dia sedang menghadapi peluang.

Sedangkan menurut Islam ya keberuntungan itu adalah ketika hari ini lebih baik dari hari kemarin. Al Qur'an banyak menuliskan tentang "orang-orang yang beruntung". Ini salah satu linknya, salah satunya adalah orang yang menjadikan Al Qur'an sebagai pedoman hidup. Fiuh, tampak berat sekali keberuntungan menurut Al Qur'an ini, tapi ya memang seperti itulah yang difirmankan, jadi kita mari berlomba-lomba melakukan amalan-amalan orang-orang yang beruntung. Insyaallah.

Nah, kembali ke menciptakan keberuntungan versi Oprah tadi, ada beberapa hal yang mesti dilakukan untuk menjadi beruntung. Btw, ada ga sih diantara kita yang merasa "selalu sial", "gagal", dan tidak pernah berhasil mencapai cita-cita? Pasti ada, lha wong manusiawi, tiap orang pasti ada lowest  point, dan disitulah ia merasa gagal. *lho kok curhat? haha*. Baiklah, ini beberapa hal yang mesti dilakukan untuk menciptakan keberuntungan:
1. Menjadi orang ekstrovert dan open minded, terbuka terhadap ide-ide baru
2. Bersilaturahim, mengenal banyak orang tentu akan membuka lebih banyak peluang daripada mengenal orang yang lebih sedikit

Dan hal-hal lain yang saya lupa nyatetnya. Intinya, ada memang orang yang seakan-akan "jalan hidupnya" dipenuhi keberuntungan, keputusan-keputusan tepat, dan hal-hal yang tepat pada waktunya dibutuhkan. Misal, pas butuh mobil, pas menang undian :D. Dan ternyata itu ada pola dan bisa diciptakan. Dan saya yakin, hal itu bisa dilakukan walau ada orang yang mengaku paling sial sedunia, asal memang mau berubah.

Nah, berhubungan lagi dengan perubahan, saya rasa Bandung sedang dirundung keberuntungan yang luar biasa dengan punya pemimpin seperti Kang Emil (halah kayak yang kenal, haha). Lho ini serius, gimana ga beruntung coba, kota Parijs Van Java ini akan dipimpin selama 5 tahun oleh orang yang benar-benar mengerti Urban Design untuk tata kota sekelas Bandung. Dengan kerja beliau yang baru beberapa bulan saja, perubahan sudah tampak dimana-mana. Perbaikan jalan, kebersihan gorong-gorong, pembangunan taman-taman agar menarik, dan lain sebagainya yang buanyak itu, tentu tidak lepas dari peran pemimpin, dan juga peran pemilih yang sudah nyoblos pasangan Ridwan Kamil-Oded di pilkada kemarin. Nah, sekarang, kalau ada yang bilang Bandung sedang beruntung, bayangkan, sebenarnya yang menentukan "keberuntungan atau kebuntungan" Bandung itu sendiri siapa? Rakyat Bandung yang menyoblos toh? Jadi, saya sangat percaya, bahwa keberuntungan itu bisa diciptakan.

Marilah kita ciptakan keberuntungan-keberuntungan kita dan orang-orang di sekitar kita. Aamiiin.