Showing posts with label sosmed. Show all posts
Showing posts with label sosmed. Show all posts

Saturday, March 23, 2024

Merawat jiwa

 Aku menguninstal Facebook dan Instagram dari hpku, sejak Ramadhan 2024 ini. Biasanya kalau Ramadhan, aku bisa keluar dari grup-grup WA yang menurutku kurang bermanfaat. Kali ini berbeda. Mungkin banyak pencetusnya, penyebabnya, hingga aku memutuskan untuk melakukan hal yang menurut orang lain adalah hal yang susah. Dan jangan salah, akupun tidak akan membayangkan bisa melakukan hal ini sebelumnya. 


Lalu, apa yang membuatku melakukannya? 


Ada satu peristiwa yang kualami dari menulis status di Facebook yang membuatku berkaca dan agak down. Aku rasa waktuku banyak aku habiskan untuk scroll FB dan IG, dibanding produktíf, sehingga aku merasa pikiranku gaduh, berisik, layaknya air yang beriak dan tidak jernih. Pikiranku jadi overthinking, galau, takut akan masa depan, dan kuatir yang berlebihan. Dan perasaan ini aku alami selama beberapa pekan. Dan sungguh tidak enak. Karena aku seolah terjebak dalam kubangan ketakutan, tanpa bisa melakukan apa-apa. Aku merasa sebagai korban keadaan. Lelah mental, lelah jiwa. Mudah jengkel, gak sabaran.

Perlahan aku mencoba memanjat keluar dari kubangan yang menyedot diriku perlahan, mulai menginstal aplikasi untuk pengembangan diri, cari kegiatan baru, dan tentu, menghilangkan yang kurasa menyedot energi dan waktuku. Apalagi momen Ramadhan, ada target-target yang ingin aku raih.

Dan ketika aku mengajar di kelas Tumbler Optimis, aku menyampaikan ke teman-teman bahwa, ketika kita sudah mengetahui gambaran ideal diri kita itu seperti apa, maka kita akan menancapkan gol atau tujuan yang memang selaras dengan itu. Dan kita pun akan mudah berkata “tidak” pada hal yang tidak selaras dengan sosok ideal itu.

Setelah berkaca, mengkaji, dengan ringan hatiku menguninstal FB dan IG, dan fokus ke WA. Jualan via status WA, bercerita kembali di Pages, status WA, dan di blogku. Dan semua terasa lebih tenang. Tidak ada lagi noise yang kemarin sangat riuh. Aku dipertemukan Youtube dengan salah satu kyai akademisi, Dr. Fachruddin Faiz, S.Ag, M.Ag, yang lalu aku dengarkan dan berbagi dengan temanku yang mengalami kegalauan yang sama.

Karena di sisi spiritual, sudah takdir kita berada di zaman sekarang, beginilah jatah ujian kita. “Apakah mereka mengira mereka akan masuk surga tanpa diuji?”


Surat Al-Baqarah Ayat 214


أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ



“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Kesimpulan: Akan mudah melakukan sesuatu ketika kita punya motivasi internal yang kuat untuk itu. Itulah kenapa ada yang ikut lari marathon dan mengejar lari itu sampai kemana-mana, karena tiap orang punya motivasi yang berbeda. Lari marathon itu keren, tapi aku belum tertarik. Menguninstal FB dan IG itu keren, tapi mungkin bagimu tidak menarik. Dan itu tidak mengapa, aku hanya akan fokus pada diriku, jiwaku, dan tujuanku. 


Sunday, November 26, 2017

Fenomena OOTD #OutfitOfTheDay

Kemarin kawan saya menjual salah satu gamis koleksinya, bermerk. Baju yang dibelinya karena jarinya yang iseng, katanya. Dia menjual gamisnya dengan harga bervariasi. Ada yang di bawah Rp 500.000,-. Ada yang lebih dari itu. Hanya gamis. Tanpa jilbabnya. 

Yang menarik bukan cerita tentang kawan saya menjual baju bekasnya yang masih bagus itu. Yang menarik adalah bagaimana fenomena sosial media yang memudahkan orang untuk mengunggah foto berdasar baju terkini. Kemudahan ini juga yang kadang membuat orang enggan mengenakan baju yang sama tiap kali. 

Ternyata kawan saya bukan satu-satunya yang menjual baju bekas bermerknya. Bekas dalam arti hanya dipakai beberapa kali, dan tidak ada bekas kotor atau apapun. Itulah kenapa saya mencurigai fenomena OOTD di sosmed memacu jenis bisnis ini. 

OOTD kependekan dari Outfit Of The Day. Biasanya digunakan untuk fashion blogger yang menunjukkan gaya mereka masing-masing. Acuan OOTD sering ditemukan di halaman-halaman majalah gaya hidup, misalnya untuk me-mix match pakaian untuk acara yang berbeda-beda. Seperti namanya, of the day, OOTD memberikan gambaran baju untuk hari itu. Karena dipakai oleh idola, maka biasanya OOTD dijadikan acuan para fans yang mempunyai style fashion yang sama. 

Terkadang OOTD bisa dari rangkaian padu padan pakaian dengan harga terjangkau umumnya. Atau terkadang juga tidak. 

Lalu, apa hubungannya antara fenomena ini dengan baju bekas (yang ngetren dengan istilah preloved)? 

Lagi-lagi kembali ke harga pakaian yang ingin dijadikan OOTD. Bagi mereka yang memang pada kesehariannya memakai pakaian tersebut, maka OOTD memang menjadi acuan mix match. Berbeda halnya dengan orang yang dengan sengaja “mengusahakan” agar mampu membeli pakaian OOTD sesuai idola mereka. 

Terkadang untuk membeli pakaian yang mungkin hanya 1 atau 2 kali pakai itu, mereka merogoh kocek yang lumayan dalam. Dan setelah cekrek-cekrek selesai, maka baju itu bisa jadi dijual lagi untuk digantikan dengan model terbaru nantinya. Dengan kalimat sakti “no pic hoax”, maka foto OOTD bisa menjadi bukti bahwa seseorang telah mampu meniru idolanya, setidaknya dalam hal berpakaian. 

Tentu hal ini tidak melulu hal buruk. Dengan membeli barang yang secara kualitas teruji, jika berpegang pada “harga tak pernah bohong”, maka seseorang akan mendapat standar baru tentang kualitas. Misalkan seseorang biasa membeli gamis yang biasa-biasa saja, lalu mencoba membeli gamis yang lebih mahal, setidaknya wawasannya tentang kain, jahitan, dan pelayanan bisnis secara keseluruhan akan meningkat. Dia akan bisa menilai mana barang bagus, mana yang biasa saja. Mana yang service excellent, mana yang biasa saja. 


Jika kita kembali pada presuposisi NLP bahwa selalu ada maksud baik di balik segala tindakan, maka OOTD juga mempunyai niat baik. Apapun yang dilakukan, tentu sah-sah saja orang menggunakan hartanya yang halal untuk ber-OOTD ria. Lagipula, barang bermerk memang mempunyai distorsi tinggi yang akan menghubungkan antara merk, dan nilai diri. Saya tidak menyangkal ini. Hahaha. Selamat ber-OOTD ria!