Showing posts with label hidup. Show all posts
Showing posts with label hidup. Show all posts

Thursday, February 11, 2016

Review Buku: Episode Hujan - Lucia Priandarini

Saya termasuk orang yang jarang baca buku novel. Baik novel dalam negeri maupun luar negeri. Namun, yang membuat saya memutuskan membeli buku novel ini adalah karena gaya tulisan penulisnya. Kenapa?
Di mata saya, nama Lucia Priandarini adalah suatu janji brand tulisan yang dalam, idealis, penuh ide-ide orisinil dan tidak membosankan. Beberapa tulisan yang pernah saya baca dari penulis ini kerap kali memberikan pemikiran dalam tentang hidup.

Dan benar, waktu saya tanya ini tentang apa, jawabannya singkat "tentang orang hilang". Setengah bingung mendengar jawaban itu, tapi saya beranikan diri untuk menyobek bungkus paket kiriman buku Episode Hujan.

Ada note dan tanda tangan penulis yang membuat saya sejenak kembali ke masa-masa SMA, jaman AADC 1 sangat booming dan jadi idola semua remaja Indonesia. Saat saya baca, bab I nya menarik sekali. Seperti menyatukan antara berita nyata dan fiksi.
Lembar demi lembar saya baca, dan anehnya, buku itu menghalau saya dari telepon genggam. Buku ini hipnotik. Semacam membaca curahan hati seorang sahabat lama yang bercerita tentang pahit manisnya hidup, saya sudah berjanji di awal untuk tidak menangis, jadi saya bisa tahan air mata yang akan tumpah.

Tutur bahasanya saya suka. Bukan jenis tutur bahasa novel chicklit yang pemilihan bahasanya itu-itu saja. Tidak terlalu deskriptif, tapi cukup manis; walau ada beberapa peristiwa yang saya anggap masih bisa diperpanjang lagi ceritanya. Jelas bukan untuk penyuka genre chicklit, tapi lebih ke kelompok usia berapapun yang sedang mencari jati diri, untuk mulai mengenal hidup.

Menurut saya, buku ini wajib dibaca oleh orang yang galau, yang resah, yang bosan dengan kehidupan normal, yang sudah menemukan pertanyaan namun belum menemukan jawaban. Buku ini memberikan persepsi yang berbeda tentang cinta dan kebersamaan. Tentang keluarga dan kasih sayang.

Terima kasih untuk tulisannya, sehingga sayapun teringat pada beberapa kisah hidup saya sendiri, yang mulai sedikit terlupakan dengan kesibukan sehari-hari.

PS: Saya suka ilustrasi bukunya, pemilihan font, dan jenis kertasnya ^_^

Judul Buku: Episode Hujan
Penulis: Lucia Priandarini
Penerbit: Grasindo
Tebal buku: 282 halaman
Terbitan pertama: Januari 2016
web penulis: www.luciapriandarini.com

Keep on doing magic, Rin!

Wednesday, October 14, 2015

Teori?

Ada satu hal yang sangat saya yakini kebenarannya, walau bisa jadi salah. Satu hal ini adalah,
selalu ada teori atas semua yang ada di muka bumi.
Bahkan, akhirat yang masih jauhpun, teorinya sudah diterima saat masih hidup di dunia. Melalui kitab suci yang diturunkan, dan yang seharusnya dibaca oleh umatNya.
Tanpa teori, rasanya akan susah merumuskan kejadian yang ada. Bisa jadi teori muncul setelah kejadian, tapi bisa juga teori yang mendahului praktek. Sehebat apapun atlet, saya yakin, ada teori dasar yang pasti harus diketahui sebelum atlet/calon atlet berlatih dan berprestasi.





Ilmu sosial, yang sering dibilang ilmu tidak pasti, justru seringkali menyuguhkan kepastian yang langsung tampak akibatnya. Jika orang disakiti hatinya, secara teori, dia akan merasa sakit hati dan mungkin bisa memaafkan tapi tidak melupakan (forgiven not forgotten), atau justru mendendam (seeking revenge). Akibat-akibat dari rasa sakit hati ini banyak berseliweran di tv-tv atau berbagai surat kabar. Bentuknya beragam, tapi bisa jadi berpola.

Pola! Bagaimana mungkin tanpa dibekali teori, seseorang bisa menemukan pola atas kejadian?

Berbagai tokoh jenius, berupaya menentukan teori atas semua kejadian. Einstein, mencari teori atas energi. Evolusi, dibuat teorinya, sehingga muncul teori Evolusi. Sekali lagi,karena teori, bisa jadi benar bisa jadi salah. Tapi setidaknya, upaya untuk merumuskan dalam bentuk teori sehingga bisa dijadikan suatu bahan penelitian/pembelajaran sangat patut diapresiasi. Terlepas dari percaya atau tidaknya kita akan teori tersebut.

Ketika ada iklan yang mengatakan "ah, teori", bisa jadi teori itu tidak berlaku di kejadian tersebut, namun bisa berlaku di kejadian yang lain. Ketika menulis suatu makalah atau penelitian, pun diperlukan landasan teori.

Kesalahan umum dalam kehidupan sosial mungkin adalah meremehkan teori. Dengan cara tidak mencari pola kejadian sehingga terumuskan teori, atau menyalahkan teori yang tidak terjadi sesuai harapan. Hey, ingat, evolusi juga masih teori. Tapi sangat luas pengaruhnya. Dan, ketika kita tidak mempercayai suatu teori, bukan berarti kita salah. Saya rasa, ada subjektivitas dalam memilih teori mana yang kita percayai. Sebagian orang percaya dengan teori Konspirasi, dan sebagian tidak. Ini adalah free will, kebebasan memilih, dan bertindak sesuai pilihan tersebut. Seperti kalimat bijak yang saya dengar 15 tahun lalu, yang kadang saya mempercayainya, untuk batasan tertentu. Kalimat bijak ini adalah: "nothing's wrong, nothing's right, it's just different".

Saya memilih mempercayai beberapa teori, dan tidak mempercayai lainnya, saya tidak harus memaksakan diri untuk mempercayai semua teori. Teori yang saya percayai akan berimbas pada perilaku dan cara pandang saya. Seringkali, perbedaan mendasar mengenai kepercayaan pada teori tidak diakui di awal, sehingga menimbulkan debat kusir yang tiada henti. Mari mencoba untuk agree to disagree. 

Jadi kesimpulan saya adalah, teori itu perlu, walau kadang tidak penting. Karena dengan bekal teori yang mumpuni, insyaallah segala halangan rintangan gangguan bisa dicegah dan diatasi. Jangan meremehkan teori, itu.