Showing posts with label nlp. Show all posts
Showing posts with label nlp. Show all posts

Saturday, March 23, 2024

Merawat jiwa

 Aku menguninstal Facebook dan Instagram dari hpku, sejak Ramadhan 2024 ini. Biasanya kalau Ramadhan, aku bisa keluar dari grup-grup WA yang menurutku kurang bermanfaat. Kali ini berbeda. Mungkin banyak pencetusnya, penyebabnya, hingga aku memutuskan untuk melakukan hal yang menurut orang lain adalah hal yang susah. Dan jangan salah, akupun tidak akan membayangkan bisa melakukan hal ini sebelumnya. 


Lalu, apa yang membuatku melakukannya? 


Ada satu peristiwa yang kualami dari menulis status di Facebook yang membuatku berkaca dan agak down. Aku rasa waktuku banyak aku habiskan untuk scroll FB dan IG, dibanding produktíf, sehingga aku merasa pikiranku gaduh, berisik, layaknya air yang beriak dan tidak jernih. Pikiranku jadi overthinking, galau, takut akan masa depan, dan kuatir yang berlebihan. Dan perasaan ini aku alami selama beberapa pekan. Dan sungguh tidak enak. Karena aku seolah terjebak dalam kubangan ketakutan, tanpa bisa melakukan apa-apa. Aku merasa sebagai korban keadaan. Lelah mental, lelah jiwa. Mudah jengkel, gak sabaran.

Perlahan aku mencoba memanjat keluar dari kubangan yang menyedot diriku perlahan, mulai menginstal aplikasi untuk pengembangan diri, cari kegiatan baru, dan tentu, menghilangkan yang kurasa menyedot energi dan waktuku. Apalagi momen Ramadhan, ada target-target yang ingin aku raih.

Dan ketika aku mengajar di kelas Tumbler Optimis, aku menyampaikan ke teman-teman bahwa, ketika kita sudah mengetahui gambaran ideal diri kita itu seperti apa, maka kita akan menancapkan gol atau tujuan yang memang selaras dengan itu. Dan kita pun akan mudah berkata “tidak” pada hal yang tidak selaras dengan sosok ideal itu.

Setelah berkaca, mengkaji, dengan ringan hatiku menguninstal FB dan IG, dan fokus ke WA. Jualan via status WA, bercerita kembali di Pages, status WA, dan di blogku. Dan semua terasa lebih tenang. Tidak ada lagi noise yang kemarin sangat riuh. Aku dipertemukan Youtube dengan salah satu kyai akademisi, Dr. Fachruddin Faiz, S.Ag, M.Ag, yang lalu aku dengarkan dan berbagi dengan temanku yang mengalami kegalauan yang sama.

Karena di sisi spiritual, sudah takdir kita berada di zaman sekarang, beginilah jatah ujian kita. “Apakah mereka mengira mereka akan masuk surga tanpa diuji?”


Surat Al-Baqarah Ayat 214


أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ



“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Kesimpulan: Akan mudah melakukan sesuatu ketika kita punya motivasi internal yang kuat untuk itu. Itulah kenapa ada yang ikut lari marathon dan mengejar lari itu sampai kemana-mana, karena tiap orang punya motivasi yang berbeda. Lari marathon itu keren, tapi aku belum tertarik. Menguninstal FB dan IG itu keren, tapi mungkin bagimu tidak menarik. Dan itu tidak mengapa, aku hanya akan fokus pada diriku, jiwaku, dan tujuanku. 


Ekstrenalisasi: menulis, coaching


Eksternalisasi adalah kata yang baru aku ketahui, ternyata tidak hanya internalisasi yang penting. Eksternalisasi juga penting. 


Internalisasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah penghayatan terhadap suatu ajaran, doktrin atau nilai, sehingga merupakan keyakinan dan kesadaran akan kebenaran doktrin atau nilai yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku. 


Internalisasi adalah kata yang kukenal ketika belajar NLP, diajarkan bahwa proses untuk memindahkan teori, ilmu ke dalam praktik diri, perasaan, dan otot-otot badan. 


Maka, selain proses internalisasi, perlu juga aku pahami tentang eksternalisasi ini. Dan ternyata penjelasannya menjawab beberapa pertanyaanku tentang “Kenapa aku suka coret-coret di kertas? Kenapa orang bisa menemukan solusi ketika dia curhat, padahal orang yang dicurhati tidak memberikan solusi?”


Di sebuah tulisan Josh Kaufman tentang Externalization, aku dapat kesimpulan bahwa: 

Suara di luar diri, di wilayah Environment/Lingkungan senantiasa lebih keras suaranya dibanding suara dari dalam diri. Sehingga, isi kepala perlu dikeluarkan agar tidak berisik sendiri di dałam. Dengan cara apa mengeluarkannya?

Ada 2 proses eksternalisasi yang disampaikan oleh Kaufman, pertama: Menulis (atau menggambar), Berbicara. 


Menulis atau menggambar merupakan proses pengeluaran pikiran yang melalui proses pemikiran, sehingga tersusun kalimat yang dapat menyampaikan maksud pikiran. Diksi yang digunakan merupakan proses penyaringan, “Apakah kata ini tepat untuk menyampaikan maksud ini? Jika aku menggunakan kata ini, apakah akan dimengerti dengan mudah, ataukah akan melahirkan ambigu?” 


Maka, proses menulis ini adalah proses pencernaan pikiran secara mandiri. Ketika aku merasa kesulitan untuk menulis dan menyampaikan apa maksudku dengan baik, di situ aku merasa bahwa aku kurang bisa mencerna apa yang kupikirkan untuk bisa disampaikan melalui kata. Padahal, aku bisa memahami sesuatu, ketika aku bisa menamai rasa melalui proses nominalisasi/pembentukan kata benda. Pikiran yang tertata akan muncul di kalimat yang tertata. Jika disampaikan dalam bahasa Aa Gymnastiar: teko hanya mengeluarkan isi teko. Sedangkan dalam bahasa filusuf Dr. Faiz: tubuh adalah alat pikiran. Kamu marah di pikiran terlebih dulu, baru tanganmu memukul.

Maka, menata tulisan sama dengan menata pikiran.

Berbicara bisa kepada orang lain, atau bicara ke benda yang kita jadikan dialog, seperti aku dulu kadang bicara di depan cermin, untuk menguraikan pikiranku. Syarat ketika bicara kepada orang lain yaitu orangnya tidak boleh menginterupsi, dia mesti sabar mendengarkan, kemudian memberikan pertanyaan yang bagus. Itulah kenapa, kadang ketika aku punya masalah, aku curhatkan entah di atas sajadah, ataukah ke orang lain, kepala jadi ringan dan tiba-tiba ketemu solusinya. Karena sebenarnya akan pikiran manusia itu sudah Allah rancang sedemikian canggihnya, sehingga bisa otomatis mencari jawaban ketika dipantik pertanyaan.

Sebuah ilmu yang aku pelajari adalah NLP coaching, sesuai banget dengan penjelasan di atas. Ketika coaching berlangsung, maka coach menyediakan telinganya dengan mode active listening. Menyediakan matanya untuk memperhatikan, menyediakan waktu dan pikirannya untuk berada di know-nothing state. Mengamati bahasa verbal dan non verbal yang dilepaskan coachee misal gerak tubuh, ekspresi mikro, tekanan suara yang berbeda; yang kemudian disampaikan lagi untuk dikonfirmasikan berupa pertanyaan ke coachee. 


Aku jadi ingat dengan kisah Siti Hajar ketika ditinggalkan di Bakka (Makkah) bersama bayi Ismail, di sebuah lembah yang tandus, tidak ada air, tidak ada orang; beliau bertanya kepada NabiAllah Ibrahim AS. 


“Wahai suamiku, kenapa engkau meninggalkan kami?” Pertanyaan ini tidak dijawab oleh nabi Ibrahim, beliau terus berjalan meninggalkan istri dan anaknya.

Tapi kemudian Siti Hajar mengganti pertanyaannya dengan “Apakah ini perintah Allah?” Dan nabi Ibrahimpun menjawab “Iya, ini perintah Allah.” Maka tenanglah hati Siti Hajar mengetahui bahwa ini adalah perintah Allah karena Siti Hajar yakin, Allah tidak akan mungkin mengecewakan hambaNya yang meminta.


Meskipun maksudnya sama, ingin bertanya “kenapa kau lakukan ini?” Tapi diformulasikan dengan 2 pertanyaan yang berbeda, maka muncul jawaban yang berbeda pula. Kemampuan memformulasikan pertanyaan untuk memantik jawaban ini sebuah kelihaian yang dipelajari dan diasah. Itulah kenapa ketika menonton demo coaching, kadang aku mikir “Padahal cuma ditanya aja lho, pertanyaannya sederhana aja. Tapi kenapa coaching itu berhasil?” Karena sebenarnya pertanyaan yang diajukan coachnya bukan sekedar pertanyaan. Untuk memunculkan pertanyaan itu, seorang coach mesti menyimak, memperhatikan, memahami, kemudian mengkonfirmasi, lalu memformulasikan kalimat untuk memberikan pertanyaan yang harapannya mengajak coachee untuk berpikir, sehingga jawaban yang dikeluarkan tidak sekedar jawaban normatif, melainkan jawaban yang muncul dari dalam dirinya, yang mungkin selama ini belum pernah ada yang bertanya tentang hal tersebut. Sebuah proses berpikir yang hanya bisa dilakukan ketika sudah memahami teori dan praktik dan evaluasi. 


Semakin kita berlatih, akan semakin canggih. 


Tuesday, August 16, 2022

Susah move on? Mungkin karena ini


Pernah memperhatikan lirik lagu Adele: When we were young? Salah satu baris di lirik itu, begini bunyinya:
"You look like a movie, you sound like a song, when we were young."


Asli, ketika aku dengar lirik ini, aku kayak yang “Oh ya gitu? Masa sih?”

Sampai akhirnya, di suatu waktu di tahun 2016-an, aku penasaran dengan suatu info kelas yang kalau ga salah judulnya “Menjadi Motivator untuk Diri Sendiri”, pematerinya namanya Teddi Prasetya Yuliawan. Tentu aku penasaran, emangnya bisa ya jadi motivator buat diri sendiri? Gimana caranya? Akhirnya aku ikut kelas itu, dan di situlah dijelaskan tentang Submodality di NLP.

Jadi gini penjelasannya, menurut pemahamanku. 


Manusia punya pikiran, ya kan? Dan di pikiran ini tersimpan banyak hal yang sudah pernah kita alami, yah, kenangan gitulah. Dan kenangan-kenangan ini kita dapat dari pengalaman. Misal, sudah pernah makan durian, maka ada kenangan tentang durian. Tekstur buahnya, aroma wanginya, kelembutan daging buahnya saat lumer di mulut, pun saat-saat kapan kita makan durian. Misal pernah makan durian rame-rame bersama keluarga, maka kenangan itu muncul di pikiran kita. Berupa apa?

Nah, sama dengan yang dibilang di lagunya Adele tadi. Rekaman kenangan seperti film yang terputar kembali. Terbayang suasana saat makan durian, misal malam hari di pinggir jalan bersama orang tua, mungkin terbayang bajunya, keadaan lalu lintas yang sedikit ramai, gelak tawa, mungkin ada hawa dingin yang terasa karena saat itu malam hari? Ini dari segi visual (penglihatan), auditory (pendengaran), dan kinestetik.

Sedangkan dari rasa yang kita cicip, bisa seolah terasa manis dan lumernya durian di mulut. Mungkin juga ada durian yang rasanya hambar, yang penampakannya kayaknya manis, tapi ternyata zonk. Coba dipikirkan lagi, pada saat kita memegang buah duriannya, kemudian rasanya manis, apakah kita mengingat bentuk dan warnanya? Sedangkan pada saat yang makan yang durian rasa hambar, apakah kita mengingat bentuk dan warnanya? Di bagian lidah mana rasa manis itu terasa? Di bagian lidah mana rasa hambar itu terasa? Apakah ada aroma tertentu tercium di ujung hidung? Ini dari segi olfactory.

Pertanyaan saya, apakah duriannya ada di depan mata?

Ga ada, kan? Kecuali Anda sedang makan durian sekarang, hehehe. Itulah keajaiban kesempurnaan ciptaan Allah. Kita bisa seolah merasakan kembali suatu kejadian, hanya dengan mengingatnya. Dan seluruh panca indera kita yang tidak merasakan buah durian, bisa seolah merasakannya. Itulah yang dinamakan submodality. 


Jadi terbukti apa yang ditulis di liriknya lagu Adele, ya. Seseorang bisa tampak seperti film, atau terdengar seperti lagu; ketika orang tersebut menempati slot memori di pikiran kita.

“Wah, terus gimana caranya move on?”
Ternyata move on juga bisa menggunakan submodality, lho. Dengan mengutak-atik kenangan. Misalkan nih, ada kenangan yang ingin dilupakan, maka perkecil saja gambarnya, jauhkan gambarnya. Move on itu terjadi ketika gambar kenangan bersama si dia menjadi kecil dan jauh, menjadi tidak signifikan. Tapi ketika kenangan itu masih tampak jelas, berwarna, dekat, suaranya masih jelas; wah, bisa dipastikan belum bisa move on.

“Terus, cara jadi motivator buat diri sendiri, gimana?”

Salah satu caranya adalah dengan mengutak-atik gambaran yang ada di pikiran kita, suara yang ada di pikiran kita. Misal, ada hal yang enggan dikerjakan, misal menulis catatan pengetahuan; maka coba pejamkan mata, dan lihatlah di pikiran itu, apakah kegiatan tersebut tampak berwarna cerah atau hitam putih? Jika ia masih hitam putih, coba beri warna pada kegiatan itu. Jika ia masih jauh, coba dekatkan. Dekatkan seperti kenangan yang belum bisa di move-on kan tadi. Bisa? Bisa jadi ini tidak hanya satu kali jalan, ya. Bisa jadi ini beberapa kali perlu dilakukan, dan it’s okay aja.

Karena tindakan kita dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan kita, maka jika kita ingin tindakan kita berbeda; yang perlu diutak-atik adalah pikiran dan perasaan kita. Next kita insyaAllah bahas lanjutannya, ya. 



#artikel2
#submodalitypart1

Thursday, August 11, 2022

Gak mau itu atau mau ini?


Selasa kemarin saya alhamdulillah bisa ada waktu di pagi hari untuk olahraga di luar rumah. Memutuskan untuk ke Saraga (Sasana Olahraga Ganesha) mumpung udara segar dan langit cerah. Dengan outfit seadanya, karena macan ternak (emak cantik anter anak), bismillah kita go! 


Di sana, ada 2 kerumunan orang yang menohok mata saya. Pertama, adalah kerumunan bapak-bapak kayaknya se-genk, yang jalan cepat, sambil ngobrol, dan sama sekali enggak ngos-ngosan. Mereka ada di lintasan 3, 4, 5. 


Di lintasan 8 paling kanan ada sepasang suami istri yang overweight, yang sedang berjalan kaki. Saya lihat dari belakang, jalannya tidak secepat genk bapak-bapak tadi, sempat mencuri dengar tapi saya gak paham bahasanya. Eh, kok saya asumsi bahwa mereka adalah pasangan suami istri? Iya kayaknya, karena kalau melihat usia mereka, yang saya asumsikan 60 ke atas, kayaknya ga mungkin itu kakak adik. Kayaknya ya. 


“Ih, kok kamu fisik banget sih?” 


Enggak, bukan gitu. 


Gini lho. Alasan saya pergi ke Saraga adalah karena kayaknya saya kurang kena sinar matahari pagi, kurang vitamin D, dan jujurly, sudah masuk Obese tingkat 1. Menyedihkan? Iya. 


Dan 2 jenis orang tadi, saya teringat suatu teori di NLP, yang bernama Meta Model. Apa ini? 


Meta model adalah “program” yang kita gunakan dalam sistem pikiran dan tubuh untuk melakukan input dan memproses infromasi (Teddi, The Art of Enjoying Life, hal 188). 


Meta program sebenarnya adalah mencermati struktur bahasa seseorang untuk dapat memprediksi perilaku yang akan ia lakukan dalam konteks tertentu (hal 189). 


Dan salah satunya adalah Meta Model Arah. Meta model arah ini dibagi menjadi 2, yaitu Towards To (menuju) dan Away From (menjauh). 


Contohnya begini: 

Ada karyawan yang takut dipecat bosnya, makanya dia bekerja mengikuti target yang ditetapkan. 


Apakah ini termasuk Menuju atau Menjauh? 


Ya benar! Menjauh. 


Selanjutnya, 

“Aku ingin kaya, makanya aku keras mencapai target agar aku dapat promosi jabatan.”


Ini Meta Model apa? Menjauh atau Mendekat? Ya benar, Mendekat! 


Pengamatan terhadap kalimat yang diucapkan seseorang akan memudahkan kita sebagai Leader untuk mengarahkan. Jika ia adalah orang Towards To (Mendekat), maka sampaikan kalimat motivasi yang membuat dia mendekat, misalkan dia ingin kaya; nah, tanyalah berapa kekayaan yang ingin dia miliki. Lalu ajarkan cara mencapai targetnya. 


Sedangkan jika ia adalah orang yang Menjauh; maka berikanlah gambaran-gambaran kehidupan yang tidak ingin dia miliki. Misalkan: dia tidak ingin dipecat, tidak ingin jatuh dalam kubangan hutang, dan semacamnya. Sesuaikan kalimat Anda “kamu tentu tidak mau dipecat, kan?” 


Lalu apa hubungan Meta Model ini dengan acara jalan saya di Saraga? 


Saya menemukan jawaban bahwa untuk konteks ini, kesehatan; ternyata saya orang yang lebih dominan Menjauh. Saya gak pengen menua dan tidak makin sehat. Saya ingin tua dengan sehat dan kalau bisa ya kayak Tom Cruise gitu lah; makin tua usianya, tapi tetap menjaga fisiknya. Ya karena usia kan di luar kendali kita, sedangkan kesehatan adalah ada dalam kendali kita. 


Kita bahas di next artikel tentang ini ya. 


Anda mau berlatih? Dengarkan kalimat-kalimat Anda, pemilihan kata Anda; di konteks yang berbeda; mungkin kadang Anda menjadi orang yang Mendekat, tapi di konteks lain, Anda menjadi orang yang Menjauh. 


It’s okay! Tidak perlu khawatir. Anda tidak sedang berkepribadian ganda, kok. Anda memang mempunyai pandangan yang berbeda untuk konteks yang berbeda. Dan dengan belajar NLP, semakin Anda bisa mengenali diri Anda; akan semakin mudah Anda mengoptimalkan potensi dan kemampuan Anda. 


#part1 

#MetaModelDirection

Thursday, November 30, 2017

Melepaskan Kecanduan (bagian 1)

Addiction. Kecanduan. Tidak hanya pada pengguna rokok dan narkotika. Kecanduan juga bisa terjadi pada orang “normal” yang tampak sehat. 

Saya pernah membaca di salah satu artikel tentang bagaimana mengetahui apakah kita sedang kecanduan atau tidak. Contoh di artikel itu ialah tentang orang dewasa yang kecanduan gawai. 

Bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling sosial media. Jualan tidak, hanya stalking saja. Untuk apa? Ya memang itu hobinya.

Saya jadi berpikir, apa bedanya antara kecanduan dan hobi. 

Mungkin tipis perbedaannya.

Menurut KBBI: 
hobi/ho·bi/ n kegemaran; kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama: melukis itu sebagai -- saja, bukan sebagai mata pencahariannya;

kecanduan/ke·can·du·an/ v ki kejangkitan suatu kegemaran (hingga lupa hal-hal yang lain): kelihatan menonjol ~ nya pada segala macam permainan: banyak pemuda yang sudah ~ morfin

Maka, bisa saja dari hobi beralih menjadi kecanduan. Tapi kecanduan ini bukan kata benda. Sedangkan hobi adalah kata benda, mari kita lihat apa yang dikatakan KBBI tentang candu. 

candu/can·du/ n 1 getah kering pahit berwarna cokelat kekuning-kuningan yang diambil dari buah Papaver somniferum, dapat mengurangi rasa nyeri dan merangsang rasa kantuk serta menimbulkan rasa ketagihan bagi yang sering menggunakannya; 2 cairan kental berwarna hitam yang keluar dari rokok yang diisap yang melekat pada pipa; 3 ki sesuatu yang menjadi kegemaran;

Nah, setelah sama-sama menemukan kata bendanya. Maka kita bisa lanjutkan sekarang. Bagaimana mengatasi kecanduan? 

Saya bukan psikolog, maka tidak mampu melihat masalah ini dari sisi psikologi secara teori maupun praktik. Yang saya mampu tuliskan adalah hasil belajar ditambah pemahaman saya dari sudut pandang NLP. 

Candu, bisa merupakan benda atau kegiatan yang membuat ketagihan, karena efek dari pemakaiannya yang menimbulkan kesenangan atau kebahagiaan. Terlepas dari berapa lama efek itu terjadi. Merokok, katanya menimbulkan rasa tenang, ya selama menghisap rokok, setelahnya ya, bisa jadi uring-uringan kembali. Maka, bagi orang yang menemukan rasa tenang di rokok, ya akan mencari rasa tenang itu lagi dan lagi. Ketika membutuhkan rasa tenang, yang diingatnya adalah kegiatan merokok. Ya kan? 

Dalam contoh ini, maka anchor nya adalah rokok. 

Sama dengan ketika orang ketagihan makan manis sebagai pelampiasan emosinya. Emotional eater. Makan bukan karena butuh, melainkan karena keinginan. Makanan manis mampu membantu orang tersebut menemukan ketenangan, kebahagiaan. Mungkin sementara, tapi ini bukan masalah. 

Lalu, bagaimana melepaskan anchor? Berproses ya.. 


Pertama: Mencari makna dari anchor itu. Menggali diri, apa yang sebenarnya didapat dari candu tersebut? Misalnya, kesenangan, kebahagiaan, adrenalin. Menjawab ini artinya benar-benar mengenali diri. Apa yang sejatinya, sesungguhnya didapat dari pemakaian candu itu?

Kedua: Melepaskan anchor. Jika sudah terjawab pertanyaan pertama, maka selanjutnya, melepaskan anchor itu dengan meluruhkan sedikit demi sedikit.

Contohnya seseorang kecanduan rokok, maka ketika dia melihat asbak, tentu yang terbayang adalah rokok. Selanjutnya adalah terasa kenikmatan merokok. Oleh karena itu, jika ingin melepaskan dari kecanduan, ya menghilangkan hal-hal yang berhubungan yang dapat mengingatkan tentang candu tersebut. 

Poin berikutnya kita lanjutkan esok hari insyaallah. 



Wednesday, November 29, 2017

Tiga Pola PIkir Positif yang Menenangkan, versi Saya


Dalam berinteraksi sehari-hari, ada hal yang kadang sesuai dengan keinginan kita, tapi kadang juga sebaliknya. Atau malah lebih sering sebaliknya? Hehehe. 

Dan ketika hal yang tidak menyenangkan terjadi, tentu sebagai makhluk survival, kita akan melindungi kepentingan kita. Melihat hal yang terjadi sebagai kerugian, kesalahan pihak lain, dan akan banyak pembelaan yang dilakukan. Tujuannya? Melindungi kepentingan diri. Wajar. Manusiawi. 

Tapi ternyata, ada orang yang mampu bereaksi berbeda terhadap kejadian yang sama. Melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, sepertinya. Ia tak melihat dirinya sebagai korban keadaan, melainkan ya sudah, ini sudah terjadi. Maka apa yang bisa dilakukan sebagai solusi.

Tak berpanjang memberi jeruk nipis pada pikiran. Saya pernah menulis ini beberapa waktu lalu, tentang kekuatan pikiran. Bahwa kejadian menjadi lebih dramatis jika ditambahkan bumbu-bumbu kejadiannya. Itu terjadi di dalam pikiran. Contohnya begini: 

Motor mengeluarkan bunyi yang tidak biasanya. maka akan segera dibawa ke bengkel. Simple, tanpa drama. Biasanya solutif. 

Jika ditambah jeruk nipis, alias drama-drama, maka ketika motor mengeluarkan bunyi aneh, orang bisa bereaksi “ya ampun, baru juga dari bengkel, sekarang rusak lagi. Kenapa sih ini motor.” Dan lain sebagainya, dan seterusnya. Maka reaksi yang muncul berlebihan. Berlebihan dari apa? Dari kenyataannya. 

Kenyataannya memang orang A menyebalkan. Melakukan hal yang tidak sesuai dengan perjanjian, misalnya. Tapi ya sudah. Itu sudah terjadi, dan sekarang fokus pada solusi. Apa yang bisa dipelajari dari kejadian yagn sudah terjadi? Bukankah suatu kejadian terjadi semua atas izin Allah SWT?

Ada beberapa pikiran yang menenangkan saat saya menghadapi hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan: 
  1. Semua terjadi atas izin Allah. Bersatu jin dan manusia untuk memberikan kemudharatan, maka tyda akan terjadi selama Allah tidal mengizinkan terjadi. Pun sebaliknya. Bersatu jin dan manusia untuk memberikan manfaat, namun Allah tidak mengizinkannya, maka takkan sampai manfaat itu pada diri. 
  2. Selalu ada niat baik dari semua perilaku. Kalaupun peristiwa itu tyda mengenakkan, tentu ada masked bank yang tersembunyi di balik perilaku orang tersebut. Bagaimana cara mengetahuinya? Dengan mencoba berpikir sebagaimana orang tersebut berpikir. 
  3. Reaksi kita lebih penting daripada kejadian. Seringkali perilaku kita adalah reaksi dari aksi orang lain. Wajar. Manusiawi. Tapi rata-rata. Bukankah kita yang akan menentukan reaksi terhadap apapun yang trejadi? Bukankah reaksi kita adalah dalam kendali kita? Jika hidup kita dipenuhi oleh reaksi-reaksi dari aksi orang lain, betapa lelahnya. 

Apakah selalu saya bisa seperti ini? Jawabannya tidak. Namun saya berusaha. Katanya orang yang beruntung ialah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Maka tiap harinya mesti diusahakan untuk lebih baik dari sebelumnya ya kan? 


Itu versi saya, bagaimana versi Anda? 

Wednesday, November 22, 2017

Tentang Informasi, Tentang Belajar

Kadang kita menemukan keyakinan, kekuatan, setelah berbincang dengan kawan. Kawan yang mampu memberikan pandangan dari sudut yang berbeda. Sudut yang jujur namun memberdayakan. 

Ceritanya pagi ini, saya tertarik untuk mengikuti salah satu workshop. Workshop tentang desain. Apakah ini sekedar ikut-ikutan? Saya tidak yakin. Tapi memang ada kawan yang merekomendasikan workshop ini. Salah satu guru saya memudahkan pilihan dengan membuat kriteria. Dan bagi saya, salah satu yang membuat saya memilih untuk mengikuti workshop ialah apakah skill yang ditawarkan workshop itu akan mendukung kehidupan saya, baik secara pribadi maupun dalam pekerjaan.

Setelah saya timbang-timbang, workshop itu akan meningkatkan skill saya di salah satu bidang yang menurut saya masih belum jago. Masih buta, tapi ingin belajar. Jadi jika skala 1-10, di mana 10 adalah tertarik sekali hingga saya transfer, ketertarikan saya masih ada di angka 6. Dan butuh 10 untuk meyakinkan diri saya untuk meng-iyakan workshop. Maka saya bertanya pada kawan saya ini dan ternyata saya mendapat referensi yang OK tentang manfaat workshop ini. Namun, angka masih bergerak ke 7. 

Lain halnya dengan salah satu workshop yang akan dihadiri suami beberapa waktu ini. Workshop ini awalnya di angka 6, belum terlalu urgen. Dibutuhkan untuk perkembangan bisnis yang sedang kami jalani, namun dirasa akan belum berefek langsung pada omzet. Sehingga saya meletakkan workshop itu di kolom: Penting, Tidak Mendesak. 

Dengan satu informasi saja, workshop itu pindah ke kolom: Penting, Mendesak. Dan kemudian saya dan suami memutuskan untuk mengikutinya. Apa informasi itu yang menyebabkan dari angka 6 langsung menjadi 10?  

Informasi itu berisi kurang lebihnya begini:
“Workshop ini adalah workshop terakhir. Setelahnya, tidak akan ada kelas basic, dan hanya ada kelas lanjutan dari kelas basic. Walau belum mencapai target sebanyak 1000 alumni, namun kami akan fokus memberikan materi lanjutan yang sudah ditunggu-tunggu oleh para alumni.”

Wow! Kelas terakhir! 

It’s now or never! Sekarang atau tidak selamanya. Saya lalu menimbang-nimbang antara keuntungan yang akan didapat karena menjadi alumni dari komunitas eksklusif (ya, kan tidak akan ada kelas basic, jadi ya jumlah alumni tidak akan bertambah setelah kelas terakhir ini, kan?). Dan betapa ruginya jika saya tidak ikut serta dalam golongan itu, maka suami dan saya segera memutuskan untuk ikut dan segala keperluan disiapkan. 

Cerita selanjutnya tentang informasi yang saya berikan kepada kawan saya mengenai workshop yang akan dia ikuti Desember nanti. Dia takut nanti akan tidak memahami materi dan takut jika kawan-kawannya terlalu serius. Hehe. 

Apa yang saya lakukan untuk meyakinkannya agar makin membulatkan tekadnya? Saya mengatakan jujur apa adanya bahwa di awal akan ada perasaaan “kok aku gak ngerti ya?”, “kok dia ngerti duluan ya?”. Saya katakan bahwa saya dan kawan-kawan sekelas dulu merasakan hal yang sama. Kuncinya hanyalah bersabar. Bukankah seperti itu fitrah belajar? 

Menurut saya, fitrah belajar ialah kita akan merasa kesulitan memahami pada awalnya, memahami  ilmu sebatas wawasan. Lalu seiring kita praktek, maka teori tadi terejawantahkan dalam praktek, dan ketika praktek, maka ilmu tadi terserap, tak lagi semata wawasan. Dan akhirnya ilmu itu akan menjadi darah dan daging hingga nanti sampai pada level Unconscious Competence. Kompetensi yang tidak disadari, otomatis, dan menjadi reflek. 

Salah satu guru saya sering mengatakan ungkapan terkenal: Fake it, till you make it. Sama seperti nasihat untuk bersabar. Ya kalau belum sabar, pura-pura saja dulu jadi orang sabar. Teruslah berperan seperti itu, hingga akhirnya sabar itu menjadi bagian dari diri. 
Alhamdulillahnya, kawan saya tadi merasa makin bulat tekadnya untuk memulai kelasnya Desember nanti. Dari percakapan ringan, muncul informasi, muncul keyakinan, muncul tindakan! 

Selamat belajar! 



Saturday, November 18, 2017

Lihat, Dengar, Rasakan (bagian 1)

“Anda seorang cenayang?” 
“Tidak, saya hanya mengamati”


Begitu potongan scene dari The Mentalist ketika Patrick Jane, konsultan dari CBI mengatakan sesuatu hal yang ternyata benar. 

Awalnya saya menganggap hal ini sebagai “kesaktian”. Hal yang mistis dan seakan-akan aneh dan tidak terjangkau untuk dipelajari. Namun melihat beberapa guru yang juga sakti, saya jadi yakin bahwa ini sebuah skill. Keahlian. Yang memang diasah secara sengaja. 

Ah ini hanya opini saya ya. Hehe. Maklumlah masih baru belajar. Menurut saya, tingkat kepekaan sebanding dengan tingkat kesaktian. Semakin peka seseorang, semakin “sakti” lah dia. Kepekaan apa? 

Di NLP, dikenal sebagai Sensory Acuity. Kepekaan berdasar panca indera dimiliki. Mudahnya ialah memahami kata ini dengan kata “jeli”. Jeli melihat yang tampak, maupun yang tersirat. Yang verbal maupun non verbal. Byuuuuh, banyak ya? Hehehe. Ya, buat jadi sakti tentu tidak bisa dicapai dalam 1 hari semalam. Lha wong Rosulullah SAW saja berdakwah hampir 23 tahun untuk membangun peradaban Islami. Padahal Rosulullah SAW adalah Rohmatan Lil ‘aalamiin. Rahmat bagi seluruh alam. Mestinya langsung sim salabim ya? Tapi ternyata tidak begitu. Hukum sunatullah pun berlaku ke beliau. Sunatullah untuk berproses. 

Ada contoh keren sekali dari Rosulullah SAW tentang kepekaan ini. Rosulullah SAW mempunyai cara berbeda untuk berinteraksi dengan orang yang berbeda. Karena beliau sangat peka, maka beliau memahami bagaimana cara menyampaikan pesan yang sama, kepada orang yang berbeda menggunakan pendekatan personal. 

Subhanallah ya! 

Menggabungkan pemaknaan saya akan ilmu NLP dan pengetahuan saya (yang masih sedikit) tentang Rosulullah SAW membuat saya melihat benang merah yang terang. Bahwa pemahaman kapade ajaran Islam ini bisa menggunakan pendekatan NLP. Hehehe. Ya kan NLP tentang memodel, menyontoh. Dan untuk mampu menjadi pribadi yang makin berkualitas, maka tentunya yang dicontoh adalah model terbaik dong ya. 

Walau memang mungkin masih jauuuuuuuuuuuuuh sekali untuk ke sana, namun setidaknya ada langkah-langkah maju yang dilakukan tiap harinya. Ini juga sebagai pengingat bagi diri saya. Self reminder. Pengingat diri. Bukan artinya saya menulis ini karena saya sok tahu atau lebih unggul. 

Jadi, kembali tentang kepekaan tadi. Orang yang memiliki kepekaan, kejelian tinggi, melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Minor detail pun tetap masuk dalam perhitungan. Perubahan pupil, penggunaan kata yang digunakan, gerak mata, sampai ke detak jantung. 

Di serial The Mentalist, Patrick sang konsultan kadang mengukur detak jantung orang yang diwawancarainya. Dan sedikit perubahan, misalnya pipi yang bersemu merah, menjadi perhatiannya. Seolah-olah semua diobservasi dan direkam. Seperti potongan puzzle yang digunakan dalam hal ini menuntaskan kasus yang sedang dihadapi. 

Dari mana memulai belajarnya? 

Allah SWT memberikan manusia modal yang sama. Mata, telinga dan hati. Ada di Qur’an surat Al A’raf 179 yang terjemahannya kurang lebih seperti ini: 

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Esok insyaallah saya lanjutkan :). 



Disclaimer: ini murni pendapat saya sebagai seorang pembelajar, tidak mewakili institusi manapun. 


Friday, November 17, 2017

NLP dalam Bisnis, Memangnya Bisa?

Dalam NLP ada hal yang dikenal dengan pemilihan kata akan mempengaruhi gambaran tentang kata, karena tiap kata memiliki makna yang berbeda bagi tiap orang. Maka pilihan kata menggambarkan apa yang ada di dalam pikiran. Kata adalah wakil dari apa yang ada di pikiran. Oleh karena itu, sering kali ustadz kenamaan, Aa Gym seringkali berkata “teko hanya mengeluarkan isi teko”. 

Hal ini berlaku luas, tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari dalam bersosialisasi dan berkomunikasi, namun juga dalam pemliihan kata yang dilakukan dalam kegiatan bisnis. Hal ini saya amati dalam interaksi saya dengan tim bisnis tertentu. 

Alkisah, kami sedang meeting. Dan di meeting itu seringkali disebut tentang “buku lama”. Tiap anggota meeting menyebut “buku lama” kepada buku yang sedang tidak dalam proses produksi. Hal ini tentunya menggelitik saya. Memangnya bukunya selama apa? Tahunan? Bulanan? 

Yang saya amati dari kata “buku lama” adalah omzet penjualan yang buruk, tidak ada antusiasme, dan hal-hal yang tidak sebanding ketika mereka menyebutkan “buku baru”. Ada apa ini? Apakah ada hubungannya antara pemilihan kata dan omzet? Haha, terlalu dini untuk disimpulkan. Namun ada satu hal yang ingin saya sampaikan di tulisan ini. Yaitu tentang perubahan kata yang digunakan untuk memaknai satu hal bisa mempengaruhi bagaimana mereka bereaksi. 

Di meeting yang mana saya terganggu dengan penggunaan kata itu, saya mengusulkan untuk menggantinya menjadi “buku ready stock”. Lha memang kenyataannya bukunya sudah ready stock. Secara harfiah, sudah ada di stok gudang, dan tidak dalam proses produksi. 

Peserta meeting pun berlatih untuk mengganti kata “buku lama” menjadi buku “ready stock” di meeting itu. Awalnya susah. Namun ketika diingatkan tentang “eits… buku ready stock”. Mereka dengan sigap merevisi apa yang baru saja diucapkan. 

Setelah itu, saya meminta peserta meeting membuat ranking buku yang terjual selalu dengan baik walau sedang “tidak musim”nya. Kenapa saya katakan musim? Karena tipe bisnis yang sedang dijalankan pada saat itu ialah, dalam sebutan saya, berlari bersama perubahan. Artinya, yang sedang tren itulah yang digarap.

Peserta meeting membuat urutan rangking atas omzet penjualan buku “ready stock”. Dan ternyata hasilnya lumayan. Setelah dibedah, ternyata ada hubungannya antara pemilihan tema dan salah satu tools di NLP yang akan saya bedah nanti. Tunggu saja di artikel berikutnya atau yang berikutnya lagi. Karena saya sedang membiasakan diri menulis 1 artikel per hari. Selain meladeni tantangan, juga membuat pola kebiasaan diri agar novel yang sudah 100 halaman itu segera bisa dinikmati banyak orang. Hahaha. 

Nah, sehubungan dengan kebiasaan. Akhirnya peserta meeting mengubah penggunaan kata “buku lama” menjadi buku “ready stock”. Ketika saya bertemu mereka sekitar 2 Minggu setelahnya, sudah tidak ada lagi kata “buku lama” yang terlontar dari mulut mereka. Hehehe. Apakah pembiasannya berhasil? Semoga! 

Apa sebenarnya yang saya harapkan dari perubahan penggunaan kata itu? 

Saya ingin peserta meeting tidak berpikiran sempit lama vs baru. Karena seperti yang saya baca di  buku terbitan penerbit tertentu, “tidak ada buku lama jika kau baru saja membacanya” atau semacam itu. 

Yang ada hanyalah buku “ready stok” yang nantinya fast moving dan slow moving. Buku ready stock yang musiman, ataukah yang dibuat last long. Dan hal ini nantinya akan berdampak pada strategi penjualan, target captain omzet, dan waktu yang dibutuhkan. 

Kata siapa NLP hanya bisa digunakan di kehidupan sehari-hari? Ternyata buktinya NLP bisa digunakan di dunia bisnis. Saya jadi penasaran dengan apa saja strategi yang dapat diulik dengan menggunakan teknik-teknik NLP untuk melejitkan omzet dan meroketkan profit. 


Baiklah. Sekian dulu yang saya sampaikan. Sampai jumpa di artikel esok hari. Tinggalkan komen tau add saya di Telegram: @Lya_Herlyanti.