Showing posts with label ilmu. Show all posts
Showing posts with label ilmu. Show all posts

Friday, November 24, 2017

Tentang Ilmu

Ilmu itu makhluk yang pilih-pilih. Ia takkan menghampiri yang hati tak bersih. Mungkin itulah kenapa orang bijak memliki ilmu padi. Semakin berisi, semakin merunduk. Bukan ilmu yang makin membuat pongah dan tinggi hati. Jumawa. Pada akhirnya akan melihat rendah orang lain, lantas menolak kebenaran. Itulah kesombongan. Menolak kebenaran. Karena kesombongan bukanlah baju yang bagus, bukanlah kendaraan yang gagah, namun kesombongan adalah penolakan terhadap kebenaran.

Jika dipikir lagi, apa yang bisa disombongkan? Lebih baik menjadi pintar secukupnya, lalu menjadikan ilmunya menjadi amal jariyah, lalu menikmati hasilnya di surga nanti. Perang intelektual dimulai dari keindahan rangkaian kata yang seolah benar, namun sesungguhnya itu sudah terselip hal-hal secara halus tidak sesuai dengan Al Qur’an & Hadist. 

Seperti ucapan pamannya Peter Parker (Spiderman), “with great power comes great responsibilty”. 

Awalnya mungkin itu memang pada power yang dipunyai oleh Spiderman, namun ketika saya jangkarkan ke Islam, saya mendapat pencerahan. Ilmu yang bermanfaat adalah salah satu dari 3 amal jariyah yang pahalanya mengalir terus walau nyawa sudah terlepas dari raga. Kok bisa?
Pernah membaca “knowledge is power”, kan? Maka ilmu itu akan dimintai pertanggung jawaban. Dengan ilmu yang banyak, tentu pertanggungjawabannya berbeda dengan yang berilmu tidak terlalu banyak. Juga dengan ilmu yang duluan kita dapat, tentu ada maksud tertentu kenapa kita mendapat ilmu itu duluan dibanding yang lain. Ya kan? 

Saya yakin dan percaya dengan kalimat Confusius yang mengatakan “Guru datang saat murid telah siap”. Maka ketika ada kawan yang berkata “kenapa ya aku gak belajar itu kemarin-kemarin?” 

Saya lalu menjawabnya dengan sedikit filosofis. Bahwa ilmu tak kan datang menghampiri pada yang belum siap menerimanya. Siap menerima dalam artian sudah memantaskan diri, memantaskan keinginan, memantaskan hati untuk menerimanya. 

Bisa jadi seseorang dianggap berilmu, namun ternyata ilmu itu hanyalah wawasan. Karena semestinya ilmu dapat membuat orang tersadar akan kekurangannya, akan kelemahannya. Semakin orang lebih tahu, semakin dia tahu bahwa masih banyak hal yang tidak dia tahu. 

Ilmupun membutuhkan pemahaman, praktek. Tak hanya ilmu teori. Karena ilmu memberikan ruh pada penyampainya. Saya punya beberapa guru bisnis yang ketika bertemu beliau dan menerima nasihat beliau, walaupun nasihat itu seakan “biasa”, tapi ketika beliau yang menyampaikan, rasanya langsung “WOW”. Pencerahan. Semacam disengat listrik beratus ribu voltasenya. Walau saya tidak pernah kesetrum, tapi ya begitulah kira-kira. Hehehe.

Ilmu memberikan ruh. Kekuatan yang menggetarkan pendengarnya, ketika ruh itu disampaikan oleh pelaku ilmu. Kekuatan dari hati. Yang takkan mungkin terpancar dari orang yang belum melakukan apa yang didakwahkan. 

Maka, mempraktekkan ilmu adalah bentuk tanggung jawab terhadap ilmu itu, serta untuk membangun ruh ilmu itu di dalam diri. 


Mungkin seperti itulah kira-kira. 

Monday, July 03, 2017

Micro Expressions, Lie to Me (serial 2009-2011)

Saya termasuk sangat terlambat mengetahui serial menarik ini. Alasannya? Ya, mungkin memang sudah takdir. Haha.

Apa menariknya serial ini? 

Buat saya, ilmu micro expressionsnya. Yaitu tentang bahasa non verbal, yang tampak di wajah seseorang, yang menunjukkan perasaan sebenarnya. Jika mata adalah jendela hati, maka disitulah ilmu micro expression ini menjelaskannya. 

Semua perasaan bisa tampak di wajah. Mulai dari bahagia, takut, sedih, menyesal, bingung, kejujuran, ketidakjujuran, dan segala emosi yang bisa dirasakan manusia. Bahkan, ada di salah satu episode dimana dr. Cal Lightman (main role), bisa membaca ekspresi seseorang yang bahkan sulit menggerakkan otot-otot wajahnya. 

Apakah ini serial detektif? Ya, tapi dengan pendekatan berbeda. Salah satu kawan saya yang seorang psikolog, lebih menyukai Criminal Minds, karena pendekatannya menggunakan pendekatan psikologi, sehingga mungkin ilmu yang ada di serial itu, akan lebih bermanfaat di kehidupan profesionalnya. 

Saya, yang sama sekali tidak pernah belajar psikologi, lebih menyukai Lie to Me, karena menurut saya ini adalah ilmu praktis yang bisa dipelajari siapapun. Karena penasaran, saya mencoba mencari tahu akar ilmu yang mendasari serial ini. Ternyata, ilmu yang mempelajari ekspresi micro memang telah dipelajari oleh dr. Paul Ekman. Paul Ekman's PDF. 

Ada sebuah episode yang menceritakan bagaimana dr. Cal Lightman disewa dalam sebuah negosiasi bisnis. Seorang pebisnis wanita, Clara, sedang dalam meeting untuk menentukan harga saham. Ketika si A (pebisnis lawannya) mengeluarkan harga, Lightman memberi tanda bahwa harga masih bisa dinaikkan lagi (awalnya di angka 160), sehingga Clara mendapat harga terbaik (yaitu 167), sehingga Clara untung besar dari angka baru tersebut. 

Pertanyaannya, dari mana dr. Lightman mengetahui hal itu? Tentu semua terpampang nyata di raut wajah pebisnis A, yaitu tentang kejujuran harga apakah bisa naik lagi atau tidak (dari 160 ke 167). Ketika pebisnis A bilang "itu sudah harga terbaik" di angka 160, Lightman bisa membaca "kebohongan" bahwa sebenarnya itu bukan harga terbaik. Dan ketika di angka 167, Lightman bisa membaca bahwa itu sebuah kejujuran. Memang sudah harga terbaik yang diberikan. Dan Lightman mengetahui ini "hanya" dari ekspresi wajah yang micro, yang seringkali terlepas dari pandangan orang biasa. Tentunya di serial ini diceritakan studi yang dilakukan Lightman, sehingga dia membentuk sebuah firma Lightman Group.

Sayang sekali serial ini sudah berakhir masa tayangnya di Fox. Tapi serunya, jadi bisa langsung nonton tiap episode tanpa harus menunggu kemunculannya di TV. 

Btw, kebayang jika para penegak hukum juga memakai cara ini untuk menghadirkan kebenaran di negara kita, tampaknya lebih seru :). 

Jadi, minat belajar micro expression? 


Thursday, August 11, 2016

Magnet Rezeki Pak Nasrullah Orchid

Salah satu yang bikin sadar dari semua materi yang dapat didownload secara gratis di channel telegram beliau @rahasiamagnetrezeki adalah Ilmu Jeruk Nipis.

Kebanyakan dari kita (saya sih biasanya), sudah merasa ketakutan dengan hal yang belum pasti terjadi. Contoh: 

1. Takut jatuh pas mau turun genteng dari genteng SMA 3 Malang. Sampai nangis-nangis. Padahal ketika turun, ya gitu aja. Biasa aja. Dan talinya ga putus di tengah jalan kayak film-film semacam Final Destination.

2. Takut kelempar pas naik semacam rollercoaster. Pas wahananya di Grote Markt Haarlem, malem-malem, dan kayaknya suara teriakku paling kenceng dan kedengeran sampai ujung deh. Thanks Miki yang udah nemenin. Itu pertama dan semoga bukan terakhir kali aku naik wahana begitu.

3. Takut tenggelam pas belajar renang. Dan sampai sekarang masih aja takut belajar renang, karena takut di tengah-tengah kolam renang tiba-tiba kehabisan nafas dan mati.


Sounds familiar, kan? Kita punya rasa takut yang ga riil. Tapi otak dan tubuh kita merasa dan beraksi seakan hal tersebut sudah/sedang terjadi. Scary dan Ajaib.

Nah, itulah sari dari ilmu Jeruk Nipis, tubuh kita bereaksi terhadap apa yang dipikirkan oleh otak kita. Dan ada sebuah penelitian ilmiah dimana atlet Olimpiade dari salah satu negara adidaya disiapkan oleh timnya dengan membuat atlet tersebut membayangkan bahwa dia sedang berlomba, dan di dalam pikirannya tersebut, dia sudah menang. Ajaibnya, seluruh syaraf dan otot-otot atlet tersebut bereaksi seperti sedang melakukan perlombaan sesungguhnya. Hal ini dilakukan dengan harapan supaya atlet tersebut akan lebih siap mental dan fisik ketika menghadapi lomba sesungguhnya, dan bisa menang tentunya.

Jadi, hal ini bukan isapan jempol belaka. Sudah scientifically proven.

Bad things, pikiran buruk lebih mudah kita tangkap dibanding pikiran positif, ya kan? Coba ingat-ingat, kita pasti lebih ingat kejadian buruk dibanding kejadian indah. Dan ini kita ga bisa perangi. Itu tuh udah kayak otomatis. Jadi, caranya emang ga diperangi, tapi diubah menjadi sesuatu yang lebih positif.

Kenapa? Karena nanti yang kita pikirkan itu akan kembali kepada kita, seperti percobaan atlet tadi. Jadinya kalau kita mikir negatif, syaraf dan otot akan bereaksi seakan-akan hal tersebut terjadi, dan kita jadi lebih stress, dan hormon ga stabil, dan muka jadi terlihat lebih tua. Ingin kelihatan lebih tua daripada umur sebenarnya? Enggak kan :D.

Nah, contohnya adalah:
Ketika ada macet di jalan, kita ga bilang "ih, macet", sambil bersungut-sungut.
Kita mesti ganti dengan kata yang lebih positif, contohnya "wah, penuh"
Nah, ini masuk ke ilmu beda lagi, namanya Law of Projection.

Gampang, kan?
Ga ada yang susah kalau mau dipelajari dan dipraktekkan, lalu dievaluasi, dan disempurnakan :).
Manusia bisa berubah, kalau bisa berubah, berubahlah jadi yang lebih baik dari kemarin. Karena hari ini adalah hasil dari kemarin. Dan esok adalah hasil kita hari ini. :D

Masih bingung? 
Udah dengerin aja audionya, buanyak banget di channel telegram beliau. 
@rahasiamagnetrezeki

Yo wes, sudah cukup aku berbagi, sisanya dengerin sendiri ^_^. 

Salam.