"The greatest journey in our life is to find who we truly are," ucap Ola suatu sore.
"Kau sedang cari jati diri?"
"Iya. Bagus ya namanya, jati diri. Sejatinya diri. Pencarian tak henti dari tiap orang. Menemukan dari mana dia datang, untuk apa dia diciptakan"
"Filosofis"
"Aren't we all?"
"Iya. Kau terutama"
"Aku baru baca buku. Man's Search For Meaning. Victor E. Frankl. Aku pernah baca namanya di suatu hal, lalu ketika aku lihat nama itu di toko buku, segera kubeli tanpa pikir panjang. Untung bukunya tak terlalu tebal."
"Memangnya bagus tidaknya buku ditentukan oleh jumlah halaman?"
"Aku tak bilang begitu"
"Secara implisit itu yang kau katakan"
"Bukan seperti itu. Aku hanya merasa kapasitas otakku belum mampu kalau mesti baca buku serius tebal-tebal. Sama sekali tak ada perasaan niatan untuk underestimate jumlah halaman."
"OK," Elang menjawab santai
"Iya, OK aku dulu memang pernah berpikir seperti itu. Tapi tak lagi. The Alchemist buktinya. Buku tak terlalu tebal, tapi terus saja diminati. Mungkin aku ingin menjadi seorang novelis."
"Apa yang akan kau tulis?"
"Banyak hal. Aku bisa menceritakan apa yang tidak mungkin aku ungkapkan melalui tulisan biasa. Bukankah manusia belajar dari cerita, dari kisah? Makanya beberapa pelajaran di Al-Qur'an disampaikan melalui kisah"
"Oh wow, kau mulai baca Qur'an?"
"Iya, terjemahnya"
"Alhamdulillah"
"Iya, aku juga bersyukur"
"Bahasanya indah, ya?"
"Iya"
"Lalu?"
"Lalu apa?"
"Sebentar lagi kau akan berjilbab tentunya"
"Masih belum tahu. Mungkin. Doakan"
"Tentu aku doakan"
"Tapi nanti kita mesti putus"
"Karena?"
"Karena pacaran itu haram"
"Hahaha. Tentu saja. Langsung aku nikahi saja ketika kau memutuskanku"
"Yeah, you wish"
"Yes, I do wish"
Mereka tertawa, bahagia.
Showing posts with label Aurora&Elang. Show all posts
Showing posts with label Aurora&Elang. Show all posts
Friday, April 06, 2018
Tuesday, January 02, 2018
Aurora & Elang
Elang, lama sekali tak kau balas e-mailku. Kau bosan? Kau sibuk?
Aku di sini ingin tahu kau sedang apa. Apa kau kehujanan? Apa ban sepedamu kempes di jalan? Kenapa sudah 1 minggu tak juga kau balas e-mailku? Kau lupa aku?
Aku rindu obrolan kita. Debat-debat kita yang seringkali tak jelas ujung pangkalnya. Lang, aku baru 1 bulan meninggalkanmu, tapi seolah sudah sewindu berlalu. Aku tidak sedang menggombalimu, jangan ge-er dulu. Aku hanya berusaha jujur. Mungkin suatu masa nanti, aku akan baca e-mail ini denganmu di sampingku, dan kita akan menertawakan kecemasanku. Hihihi.
Lang, sebulan ini aku mengenal beberapa tempat di Bandung. Aku paling suka Museum Geologi, lho. Ada dinosaurusnya! Juga ada abu dari letusan Gunung Merapi. Serem sekali, Lang. Dan itu makin menyadarkanku bahwa manusia gak ada apa-apanya. Manusia hanyalah setitik debu di pantai. Bahkan lebih kecil dari itu. Dalam sekejap, nasib bisa berbalik, peruntungan bisa bertukar, dan takdir bisa terjadi. Ah, aku rasa aku makin relijius saja di kota ini.
Kau bagaimana? Apa yang baru di hidupmu selain kehilangan hadirku? Hihihi. Kau pasti sedang rindu ya? Atau kau berpura-pura tak peduli dan terus bekerja seolah aku masih di sana? Dan kita hanya terpisah sepanjang jalur kereta Haarlem-Amsterdam?
Aku selalu suka kereta. Selain itu moda transportasi tanpa macet dan antri, kereta mengingatkanku akan kita. Saat aku menatap ke luar jendela di kereta Bandung-Jakarta, yang kulihat adalah hamparan rumput berhias bunga tulip. Padahal aku sedang tak menuju Utrecht! Ajaib bagaimana memori bisa membawa kita ke tempat yang ribuan mil jauhnya. Tapi aku lebih suka kereta di sana, karena ya ada kaunya. Hahaha.
Lang, kau akan pulang summer nanti kan? Aku akan menunggumu di sini. Jangan beri aku kejutan, kau tahu aku tak suka kejutan. Kau mesti kasih tahu aku minimal 3 bulan sebelumnya, agar aku dapat bersiap. Haha, bersiap mulai pakai masker, pakai skincare, dan menghilangkan gumpalan lemak. Makanan Bandung juara, kau tahu! Ada namanya surabi. Beda dengan serabi yang ada di Malang. Awalnya aku tak suka, tapi lama-lama unik juga. Rasanya seperti santan dicampur parutan kelapa.
Di sini juga banyak rumah makan Padang, jadi nanti aku gak akan repot bikin rendang untukmu kalau kau kesini. Hahaha. Aku tinggal beli tanpa perlu nunggu 5 jam untuk masak. Cukup sekali! Hahaha.
Lang, kau janji ya, balas e-mailku secepatnya. Tak perlu kau uji aku apakah aku kehilanganmu. Bisa gila aku tak berbalas e-mail denganmu. OK? Plissssssssssssssssssssss…
Olamu selalu yang merinduimu di tanah tumpah darah Indonesia.
Monday, January 01, 2018
Aurora & Elang
Elang, sekarang hujan. Apa kabarmu di sana?
Kita memandang langit yang sama, tapi apakah hatimu masih sama?
Kita memandang langit yang sama, tapi apakah hatimu masih sama?
Tidak, aku tidak sedang mengeluh. Toh, aku sendiri yang ingin pulang ke Indonesia, berjauhan denganmu. Aku hanya ingin menyampaikan salam rindu. Bahwa kau di sana, baik-baik saja, aku yakin itu. Bagaimana kerjamu? Kau Beta di tempat baru itu? Jangan terlalu banyak menghabiskan uangmu untuk bagel. Tak akan kau temui aku lagi di sana. Haha.
Hatiku baik-baik saja di sini. Aku bersyukur aku mengambil keputusan ini, di sini, lebih banyak kajian keilmuan. Dan aku tak perlu ragu memakai jilbab panjang seperti teteh-teteh di sini. Aku tak perlu pura-pura sakit perut untuk menghindari ajakan ngafe. Aku cukup di sini, hatiku tenang dan lebih damai, walau tak mampu kupungkiri rindu ini tentu masih untuk namamu.
Kau tahu, sempat aku baca seorang ustadz kenamaan di sini berkata “Indonesia adalah sepenggal surga di dunia”. Dan bagiku, itu luar biasa maknanya. Tak perlu lagi aku tunggu jam 9 untuk sholat Maghrib di kala summer, atau jam 3 untuk sholat Subuh. Di sini semua teratur. Keteraturan yang berbeda yang ditawarkan Belanda, kau ingat?
Di sini, sholat teratur, di tengah kesemrawutan jadwal. Dengan jadwal sholat yang teratur saja aku sudah amat sangat bersyukur, Lang.
Kapan kau terakhir pulang? 4 tahun lalu ya? Ayah ibu dan adik-adikmu pasti menunggumu. Kakak tercinta mereka yang baik hati dan suka masak.
Maafkan aku, tak bisa menemanimu lebih lama. Kurasa, jika bersatu adalah takdir kita, tak ada satupun yang kuasa menghalanginya.
Maafkan aku, tak bisa menemanimu lebih lama. Kurasa, jika bersatu adalah takdir kita, tak ada satupun yang kuasa menghalanginya.
Baiklah. Akan kutulis e-mail lagi jika kurindu kamu.
Baik-baik ya di sana, jaga sholatmu, dan sepedamu baik-baik. Hahaha.
Rindumu selalu,
Ola
Aurora&Elang
“Kau tahu, aku tak ingin selamanya ada di negeri ini," ujar Ola tiba-tiba.
“Kenapa? Kukira kau betah di sini?” Tanya Elang sambil mengunyah bagel yang dipesannya barusan. Asap mengepul dari kopi verkeerd yang dipesannya.
“Ya, memang,” Ola memegang mug putih berisi warm chocolade yang ada di meja bulat tanpa taplak.
“Lalu?”
“Lalu?”
“Entahlah. Kurasa aku tak menemukan arti hidup sebenarnya di sini. Semua menjemukan. Artificial. Sepertinya, bukan ini yang jiwaku inginkan. Not this kind of life.”
Kukira kau betah menghabiskan waktu bersamaku, La…
“Kurasa ini akan jadi tahun baru terakhir kita, Lang. Tahun depan, aku ingin pulang saja.”
“Aku sudah berhenti percaya pada tahun baru, La”
“Aku sudah berhenti percaya pada tahun baru, La”
“Sejak kapan?”
“Sejak beberapa tahun lalu”
“Apa yang kau maksud berhenti percaya pada tahun baru?”
“Kau tahu bagaimana kita biasa make a wish dan berharap semua akan berubah tahun itu?”
“Ya, akupun melakukannya”
Bagel yang tinggal separuh itu menemani obrolan mereka pagi itu. Suatu pagi di penghujung tahun. Musim dingin yang tak memberikan salju untuk turun. Di jalanan sempit berbatu, di sebuah cafe pojokan tempat orang Inggris menjual bagel untuk sarapan, sempat-sempatnya Ola dan Elang menghabiskan waktu untuk membicarakan masa depan.
“Tunggu. Kau akan pulang ke Indonesia, for good?”
“Iya. Kau tidak?”
“Aku belum memutuskan. Visaku belum habis. Mungkin aku stay, mungkin aku pulang. Don’t know yet.”
Sembari meminum seteguk kopi verkeerdnya, Elang melanjutkan
“Tidakkah terlalu dini kau ambil keputusan? Kau juga belum berusaha cari kerja di sini, kan? Atau kau memang tak berniat cari kerja di sini?”
“Aku…” Ola terdiam
“Aku diminta untuk pulang. Aku akan coba cari kerja. Tapi pada akhirnya, takdir akan berbicara, ya kan? Seperti katamu, jika memang belum ditakdirkan, maka tak mungkin akan terjadi. Walau seluruh manusia dan bumi berkonspirasi untuk melakukannya, jika tidak termaktub, maka tak mungkin itu terjadi”, Ola melanjutkan.
“Ah, kau. Kau baru selesai baca The Alchemist lagi ya?”
“Haha, tahu dari mana?”
“Aku mengenalmu. Lebih dari kau kenal dirimu sendiri, kan La. Kata maktub, tiba-tiba muncul. Mana lagi kalau tak dari The Alchemist-mu itu”
“Hahaha. Kau menjengkelkan!”
“Tapi tetap ngangeni, kan?” Elang terkekeh. Ola meninju lengan tangan Elang.
“Huh, kepedean!”, celetuk Ola sambil tersenyum.
Iya, Lang. Tetap ngangeni…
Subscribe to:
Posts (Atom)