Showing posts with label konsisten. Show all posts
Showing posts with label konsisten. Show all posts

Wednesday, December 20, 2017

Makna Kata: Rutinitas, Konsisten

Ada beberapa bulan di kehidupan saya yang menjadikan saya tidak menyukai rutinitas. Waktu itu, saya mesti bekerja, berangkat di menit yang sama. Berulang terus selama 6 bulan. Menjemukan. Saya tidak suka hidup yang seperti itu. Saya ada di ruangan di kala hari menyenangkan untuk piknik di luar. Saya ada di ruangan ketika mestinya saya bisa jalan-jalan menikmati hangatnya mentari. 

Setelah pengalaman 6  hari itu, saya memutuskan untuk tidak bekerja kantoran. Kalaupun kantoran, maka yang saya pilih adalah kantor yang fleksibel, dengan jam kerja fleksibel. Alhamdulillah Allah SWT mengabulkan keinginan saya. Dengan segala konsekuensinya. 

Tapi hari ini, kembali saya berpikir tentang rutinitas. Rutinitas memudahkan kehidupan. Rutinitas adalah pola kehidupan. Jika saya ganti kata rutinitas dengan konsistensi, rasanya lebih mudah bagi saya menerimanya. 

Apa yang membuat saya berpikir tentang rutinitas ialah ketika bangun pagi, saya tahu urutan hal apa saja yang mesti saya kerjakan di hari itu. Saya punya jadwal. Bebas, namun terbatas. Saya tidak perlu kerja kantoran yang berada di dalam ruangan mulai jam 9-17. Saya bebas menentukan jadwal kerja, namun lagi-lagi, saya mesti tetap bekerja dengan pola.

Lalu saya teringat cerita salah seorang guru saya ketika membacakan urutan apa saja yang dilakukan Rosulullah SAW dalam hidupnya. Urutan rutinitas yang dilakukan ketika bangun tidur, ketika sebelum tidur, ketika makan, ketika berganti baju, ketika masuk kamar mandi, dan segalanya. Urutan rutinitas itu saya artikan sebagai adab. 


Ah, beda lagi sudah rasanya ketika saya menggantinya dengan kata adab. 

Kemudian saya iseng memeriksa kamus, apa sebenarnya arti kata rutin? Ini yang saya temukan: 
rutin/ru·tin/ n 1 prosedur yang teratur dan tidak berubah-ubah; 2 hal membiasanya prosedur, kegiatan, pekerjaan, dan sebagainya: rapat koperasi itu bersifat -- dan tradisional; 3 Komp 1 serangkaian instruksi yang dirancang untuk beberapa tujuan tertentu dan memiliki penggunaan umum; 4 Kompprosedur utama yang dilaksanakan oleh suatu program;

Lalu saya bandingkan dengan kata konsisten: 
konsisten/kon·sis·ten/ /konsistén/ a 1 tetap (tidak berubah-ubah); taat asas; ajek; 2 selaras; sesuai: perbuatan hendaknya -- dengan ucapan

Saya bandingkan lagi dengan kata adab:
adab n kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan; akhlak: ayahnya terkenal sebagai orang yang tinggi -- nya;

 Arti kata adab agak sedikit berbeda dengan yang saya harapkan. Tapi yang saya pelajari di sini, bahwa ketika kita mengganti kata dengan kata yang maknanya lebih positif, maka itupun akan mengakibatkan perilaku kita terhadap kata itu berubah. 

Ketika saya mendengar kata rutinitas, yang terbayang adalah membosankan. Padahal apa bedanya dengan konsisten? Sama saja mestinya. Karena keduanya berarti tetap, tidak berubah-ubah, prosedur yang teratur. Jika saya tidak bisa mengganti makna yang saya sematkan pada kata rutinitas, maka saya bisa mengganti kata yang saya gunakan untuk menggantinya.

Seperti halnya dengan kata ubah dan geser. Mengubah kebiasaan, terdengar susah, berat. Jika diganti dengan menggeser kebiasaan, maka akan lebih mudah, ringan, dan terdengar tanpa tenaga yang besar.

Maka ini yang saya pelajari pagi ini.
Konsisten. Rajin. Ya, lebih menyenangkan daripada kata rutinitas. Hahaha.
Mungkin lain kali saya mesti mengganti gambar yang tersemat dalam kata rutinitas, tapi untuk saat ini, saya cukup dengan menggantinya dengan konsisten!

Selamat untuk diri saya. Yeaay! Alhamdulillah 30 hari tunai untuk menulis. Lanjutkan ronde 2!







Wednesday, December 06, 2017

Bagaimana Agar Diri Bisa Konsisten?

Setelah kemarin saya membahas tentang reward dari konsisten, istiqomah, dunia akhirat, kayaknya sudah pada mau ya berusaha untuk konsisten, kan? Bukankah istiqomah, konsisten itu berat di awalnya? Seperti menulis ini contohnya. Ada tantangan untuk menulis 30 hari tanpa henti dipublish di blog, di grup saya. Awalnya bingung, mau nulis apa, tapi kata guru kami, Mas Teddi, sekarang goalnya konsisten dulu. Membiasakan menulis. Kualitas nanti saja. Jadi sekarang saya membiasakan dulu untuk menulis, 1 halaman per hari.  

Saya mengamati, ada beberapa tools yang bisa membantu konsisten. Baik dari internal maupun external diri. 

Saya bahas untuk internal terlebih dahulu. Internal diri, yang penting adalah niat sungguh-sungguh untuk melakukan hal yang ingin dilakukan secara konsisten. Misalkan menulis ya contohnya. Tanyakan apa komitmen diri. Apakah ada komitmen? 
  1. Apakah ini penting buat saya? 
  2. Mengapa ini penting?
  3. Apakah saya benar-benar mau melakukan ini? 
  4. Bagaimana agar saya bisa mencapai apa yang saya inginkan? 
  5. Perlukah saya memberi reward? Ataukah saya tipe yang menjauhi punishment?
  6. Apa yang akan saya dapat dengan melakukan hal ini? 
  7. Apa yang akan saya lakukan untuk menjadikan konsisten? 
  8. Dan seterusnya…

Menulis, biasanya menjadi alat bantu ampuh dalam menjaga ke-konsisten-an. Menulis tangan, yang mampu mengingatkan tentang record hal yang ingin kita konsistenkan. Kalau menulis di blog, saya mengetiknya menjadi 1 file. Sehingga terekam sudah berapa hari saya menulis. Misalkan day 1, day 2, dan judulnya. Selain itu, tentu ada rekaman di blog tanggal berapa saya posting. Dan juga ada di grup tempat laporan postingan. 

Sedangkan untuk pilates, saya awalnya mencanangkan waktu target 3 bulan untuk merutinkan kembali pilates, saya usahakan tiap hari. Saya ada kalender khusus yang saya lingkari setiap saya selesai melakukan pilates, dan saya juga tulis durasi pilates saya. Kalender itu mengingatkan saya walau sudah malam hari misalkan saya belum pilates, maka kalender itu seolah memanggil saya untuk ber-pilates. Kalender ini menguatkan saya. Dan ketika saya selesai pilates, melingkarinya membuat perasaan lega, nyaman, dan rasa sehat. Bangga kepada diri karena mampu menjalankan komitmen diri.

Karena seperti yang saya baca, dan akhirnya saya yakini, bahwa orang yang kuat adalah bukan orang yang menang gulat, namun orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya. Dalam hal ini, saya letakkan di disiplin diri. Jika tak ada orang yang mampu selalu mengingatkan tentang kebiasaan ini, misalkan personal trainer, maka ya mesti bergantung pada kekuatan disiplin diri. Internal. 

Toh, tidak ada yang menyuruh kita melakukannya, kan? Kita ingin, lalu kita lakukan, dan kita berkonsisten untuk melakukannya. Karena tak ada yang mustahil diraih jika kita konsisten. 


Selamat pagi, selamat melingkari kalender! 

Tuesday, December 05, 2017

Reward for Being Consistent

Mengutip salah satu iklan “Maybe It’s My Fault" yang dibawakan Michael Jordan, the Michael Jordan, yang bisa ditonton di sini: 
https://www.youtube.com/watch?v=9zSVu76AX3I

Berikut yang dikatakannya: 
"Maybe it's my fault. 
Maybe I led you to believe it was easy, when it wasn't. 
Maybe I made you think my highlights started at the free throw line, and not at the gym. 
Maybe I made you think that every shot I took was a game winner. That my game was built on flash, and not fire. 
Maybe it's my fault that you didn't see that failure gave me strength, that my pain was my motivation. 
Maybe I led you to believe that basketball was a God given gift, and not something I worked for every single day of my life. 
Maybe I destroyed the game. 
Or maybe you're just making excuses."

Kata kunci yang saya tangkap di kalimat itu adalah something I worked for every single day of my life. Amazing bagaimana konsisten memegang peranan penting dalam kegemilangan karir Michael Jordan.

Ada yang menarik dengan konsisten, atau yang bisa juga diartikan sebagai istiqomah. 
«أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang rutin dilakukan meskipun sedikit”.
(Hadits Shahih, Riwayat Bukhori dan Muslim, Lihat Shahiihul jaami’ no. 163).

Menarik bahwa konsisten juga berpengaruh pada akhirat, tak hanya di dunia. Di dunia, jelas jika kita berkaca pada Michael Jordan, konsisten telah membawanya ke tempat di mana orang belum pernah mendudukinya. Bahkan perusahaan sekelas Nike, membuatkan brand sendiri untuknya, Air Jordan. Jordan adalah inspirasi konsisten, pantang menyerah, dan haus akan prestasi. Di balik semua yang tampak mudah ketika dia melakukannya, ada ratusan ribu jam telah ia habiskan dengan berlatih. Menerima kekalahan. Tapi ketika kemenangannya datang, ia tak tampak pernah kalah. Kekalahannya, tersapu oleh kegemilangan prestasinya.

Jordan mengajarkan tentang determinasi. Tentang respect. Tentang tidak berburuk sangka kepada hasil saat itu, namun terus memperbaiki diri untuk tetap melaju. Jordan mengajarkan bahwa dunia akan mendatangi ketika seseorang berprestasi. Dunia akan menghampiri, ketika seseorang terus menerus mengasah kemampuannya, bersikap humble dan tak lupa di mana ia berasal. 


Michael Jordan, mengajarkan nilai-nilai yang sama sebagaimana Rosulullah SAW ajarkan. Determinasi, visioner, respect, dan terus bergerak, konsistens menuju visi. Everything has price, and for dunya and the hereafter, for me, the price is called consistent.