Beberapa hari lalu saya menerima pesan dari seorang kawan. Tentang lowongan mentee. Awalnya saya kaget dan tersanjung, bahwa kawan saya mengingat saya secara spesifik, dan mengingatkan saya untuk segera mendaftar lowongan itu.
Saya membaca pesan itu lebih dari 2 kali, untuk apa?
Meyakinkan diri apakah saya memenuhi persyaratan.
Suami dan ibu saya tentu merasa bahwa saya memenuhi persyaratan, jelas. Hahaha. Mereka percaya pada saya 1000%. Kawan sayapun merasa saya memenuhi persyaratan, bukankah itu yang membuatnya segera mengingat saya dan mengirimkan pesan itu? Baiklah.
Setelah 100% saya yakin bahwa saya memang memenuhi persyaratan, maka saya mempersiapkan diri untuk membuat CV. CV yang sudah lama sekali tidak saya bikin, untuk kepentingan lamaran lowongan seperti ini. Dan ini mengingatkan saya pada 17 tahun lalu. Ketika saya mengikuti seleksi untuk AFS Exchange Program tahun 2000.
Saat itu, ibu saya yang meyakinkan saya bahwa saya bisa, mempunyai kemampuan untuk itu, dan saya menurut apa kata beliau. Dan kali ini, saya melakukan hal yang sama.
Batas waktu penerimaan dengan jelas tertulis pukul 16 WIB hari Jum'at. Setelah mengikuti 2 agenda, saya mempunyai waktu 1.5 jam sebelum pukul 16 WIB untuk mengirimkan e-mail. Dengan tipe deadline seperti itu, saya yakin hanya akan ada shortlisted kandidat yang akan lulus ke tahap kedua.
CV hanyalah tahap awal. Jika CV saya lulus, maka saya akan menerima formulir untuk diisi, dan mungkin beberapa tahap setelahnya. Pengalaman di AFS mengajarkan saya betapa untuk mendapatkan orang yang benar-benar memenuhi spesifikasi, akan membutuhkan beberapa lapis saringan.
Alhamdulillah, CV terkirim sebelum jam deadline. Selanjutnya saya akan menunggu apa yang akan terjadi. Jika itu rezeki saya, tentu tidak akan ada yang mampu menghalangi, dan sebaliknya.
Yang menarik ialah apa yang saya pelajari dari hal ini bagaimana saya secara tidak sengaja mempersiapkan, memantaskan diri untuk hal-hal seperti ini. Bagaimana kepercayaan diri saya muncul ketika saya membaca persyaratannya, dan berpikir "this is so me!"
Saya heran jika ada orang yang berkata bahwa kesempatan tak pernah datang. Karena belajar dari ini, saya yakin bahwa jika dengan sadar kita menjadikan diri lebih baik, belajar lebih banyak, maka kesempatan itu akan datang. Tiba-tiba.
Bismillah, maka semangatlah! Teruslah bergerak, teruslah berjalan. Ini saya juga menyemangati diri saya sendiri. Hahaha. Untuk bacaan jika rasa malas melanda. Hohohoho. Wish me luck!
Saya ingin mengutip:
Luck is what happens when preparation meets opportunity - Seneca.
Showing posts with label Luck. Show all posts
Showing posts with label Luck. Show all posts
Saturday, December 02, 2017
Wednesday, January 29, 2014
Menciptakan Keberuntungan?
Kemarin malam-malam di radio MQFM, ada perbincangan menarik dari seorang nara sumber trainer anak muda dan juga si pembawa berita. Materi yang dibicarakan adalah bagaimana menciptakan keberuntungan. Apakah keberuntungan itu bisa di set? Apakah memang ada orang yang selalu sial terus dan sebaliknya, orang yang selalu untung terus. Meminjam penjelasan Oprah, "luck is preparation meeting opportunity", artinya keberuntungan adalah ketika kesiapan kita bertemu dengan kesempatan/peluang. Tidak dikatakan seseorang beruntung jika dia tidak siap walaupun dia sedang menghadapi peluang.
Sedangkan menurut Islam ya keberuntungan itu adalah ketika hari ini lebih baik dari hari kemarin. Al Qur'an banyak menuliskan tentang "orang-orang yang beruntung". Ini salah satu linknya, salah satunya adalah orang yang menjadikan Al Qur'an sebagai pedoman hidup. Fiuh, tampak berat sekali keberuntungan menurut Al Qur'an ini, tapi ya memang seperti itulah yang difirmankan, jadi kita mari berlomba-lomba melakukan amalan-amalan orang-orang yang beruntung. Insyaallah.
Nah, kembali ke menciptakan keberuntungan versi Oprah tadi, ada beberapa hal yang mesti dilakukan untuk menjadi beruntung. Btw, ada ga sih diantara kita yang merasa "selalu sial", "gagal", dan tidak pernah berhasil mencapai cita-cita? Pasti ada, lha wong manusiawi, tiap orang pasti ada lowest point, dan disitulah ia merasa gagal. *lho kok curhat? haha*. Baiklah, ini beberapa hal yang mesti dilakukan untuk menciptakan keberuntungan:
1. Menjadi orang ekstrovert dan open minded, terbuka terhadap ide-ide baru
2. Bersilaturahim, mengenal banyak orang tentu akan membuka lebih banyak peluang daripada mengenal orang yang lebih sedikit
Dan hal-hal lain yang saya lupa nyatetnya. Intinya, ada memang orang yang seakan-akan "jalan hidupnya" dipenuhi keberuntungan, keputusan-keputusan tepat, dan hal-hal yang tepat pada waktunya dibutuhkan. Misal, pas butuh mobil, pas menang undian :D. Dan ternyata itu ada pola dan bisa diciptakan. Dan saya yakin, hal itu bisa dilakukan walau ada orang yang mengaku paling sial sedunia, asal memang mau berubah.
Nah, berhubungan lagi dengan perubahan, saya rasa Bandung sedang dirundung keberuntungan yang luar biasa dengan punya pemimpin seperti Kang Emil (halah kayak yang kenal, haha). Lho ini serius, gimana ga beruntung coba, kota Parijs Van Java ini akan dipimpin selama 5 tahun oleh orang yang benar-benar mengerti Urban Design untuk tata kota sekelas Bandung. Dengan kerja beliau yang baru beberapa bulan saja, perubahan sudah tampak dimana-mana. Perbaikan jalan, kebersihan gorong-gorong, pembangunan taman-taman agar menarik, dan lain sebagainya yang buanyak itu, tentu tidak lepas dari peran pemimpin, dan juga peran pemilih yang sudah nyoblos pasangan Ridwan Kamil-Oded di pilkada kemarin. Nah, sekarang, kalau ada yang bilang Bandung sedang beruntung, bayangkan, sebenarnya yang menentukan "keberuntungan atau kebuntungan" Bandung itu sendiri siapa? Rakyat Bandung yang menyoblos toh? Jadi, saya sangat percaya, bahwa keberuntungan itu bisa diciptakan.
Marilah kita ciptakan keberuntungan-keberuntungan kita dan orang-orang di sekitar kita. Aamiiin.
Sedangkan menurut Islam ya keberuntungan itu adalah ketika hari ini lebih baik dari hari kemarin. Al Qur'an banyak menuliskan tentang "orang-orang yang beruntung". Ini salah satu linknya, salah satunya adalah orang yang menjadikan Al Qur'an sebagai pedoman hidup. Fiuh, tampak berat sekali keberuntungan menurut Al Qur'an ini, tapi ya memang seperti itulah yang difirmankan, jadi kita mari berlomba-lomba melakukan amalan-amalan orang-orang yang beruntung. Insyaallah.
Nah, kembali ke menciptakan keberuntungan versi Oprah tadi, ada beberapa hal yang mesti dilakukan untuk menjadi beruntung. Btw, ada ga sih diantara kita yang merasa "selalu sial", "gagal", dan tidak pernah berhasil mencapai cita-cita? Pasti ada, lha wong manusiawi, tiap orang pasti ada lowest point, dan disitulah ia merasa gagal. *lho kok curhat? haha*. Baiklah, ini beberapa hal yang mesti dilakukan untuk menciptakan keberuntungan:
1. Menjadi orang ekstrovert dan open minded, terbuka terhadap ide-ide baru
2. Bersilaturahim, mengenal banyak orang tentu akan membuka lebih banyak peluang daripada mengenal orang yang lebih sedikit
Dan hal-hal lain yang saya lupa nyatetnya. Intinya, ada memang orang yang seakan-akan "jalan hidupnya" dipenuhi keberuntungan, keputusan-keputusan tepat, dan hal-hal yang tepat pada waktunya dibutuhkan. Misal, pas butuh mobil, pas menang undian :D. Dan ternyata itu ada pola dan bisa diciptakan. Dan saya yakin, hal itu bisa dilakukan walau ada orang yang mengaku paling sial sedunia, asal memang mau berubah.
Nah, berhubungan lagi dengan perubahan, saya rasa Bandung sedang dirundung keberuntungan yang luar biasa dengan punya pemimpin seperti Kang Emil (halah kayak yang kenal, haha). Lho ini serius, gimana ga beruntung coba, kota Parijs Van Java ini akan dipimpin selama 5 tahun oleh orang yang benar-benar mengerti Urban Design untuk tata kota sekelas Bandung. Dengan kerja beliau yang baru beberapa bulan saja, perubahan sudah tampak dimana-mana. Perbaikan jalan, kebersihan gorong-gorong, pembangunan taman-taman agar menarik, dan lain sebagainya yang buanyak itu, tentu tidak lepas dari peran pemimpin, dan juga peran pemilih yang sudah nyoblos pasangan Ridwan Kamil-Oded di pilkada kemarin. Nah, sekarang, kalau ada yang bilang Bandung sedang beruntung, bayangkan, sebenarnya yang menentukan "keberuntungan atau kebuntungan" Bandung itu sendiri siapa? Rakyat Bandung yang menyoblos toh? Jadi, saya sangat percaya, bahwa keberuntungan itu bisa diciptakan.
Marilah kita ciptakan keberuntungan-keberuntungan kita dan orang-orang di sekitar kita. Aamiiin.
Subscribe to:
Posts (Atom)