Monday, November 25, 2024

If you want to know someone’s mind, read their writings.

Ada yang bisa dengan mudah disampaikan via tulisan, yang begitu susah disampaikan dengan lisan. Kenapa? Karena untuk menyampaikan dengan lisan, perlu situasi dan kondisi yang mendukung, perlu intonasi yang tepat, perlu gesture yang tepat, dan perlu pandai menyampaikan apa yang dimaksud dengan tepat, tanpa menimbulkan pengertian ganda ketika diterima komunikan. Maka, buatku, menulis jauh lebih mudah daripada berbicara. 


Aku, yang terlahir tanpa punya saudara kandung, sangat akrab dengan buku dan tulisan. Meski tentu, ketika aku membandingkan dengan temanku yang punya perpustakaan pribadi di rumahnya, hobi membacaku ini gak ada apa-apanya, tapi tetap, aku meng-consider diriku sebagai orang yang mempunyai hobi membaca & membeli buku (jika punya dananya). 


Nah, kehidupan sosialku sangat terbatas. Karena rumahku yang jauh dari sekolah, maka pas SD, aku gak punya tetangga yang satu sekolah. Pas SMP dan SMA lumayan, pas SMP aku punya beberapa teman yang akhirnya jadi sahabatan, karena rumah kami sama-sama jauh. Waktu itu, perumahan yang kami tinggali termasuk perumahan yang baru, masih banyak sawah dan kebon tebu, dan masih jarang yang tingat di sana, dan cuma ada 2 Jenis angkot yang mefewati perumahan kami. Jadilah kami ber-6 akrab, dan menunggu ketika pulang sekolah. Meski kami ada di kelas berbeda pas SMP, tapi karena kesamaan jurusan rumah itulah, kami akrab. Meskipun ketika aku pikir lagi, masih ada beberapa anak lain yang juga ada di perumahan itu, dan masih ada yang satu jurusan angkot dengan kami, tapi entah kenapa kami berenam lebih cocok satu sama lain. 3 perempuan dan 3 laki-laki, dan tidak ada di antara kami yang jadian. Sama sekali. 


Jaman dulu, tulisan adalah hal yang paling mungkin untuk dilakukan untuk menyampaikan pesan, selain ingatan. Di jaman belum ada teknologi rekaman (mungkin), berupa video tape atau audio tape, maka tulisan adalah hal yang paling tinggi dalam kasta komunikasi. Manusia menemukan berbagai jenis tulisan jaman dulu, dan menandai jaman pratulisan yang disebut jaman prasejarah atau jaman praaksara, dan jaman sesudah tulisan, saat sejarah sudah dituliskan dan bisa dibaca oleh para ahli. 


Maka, kemampuanku untuk menyampaikan sesuatu via tulisan, lebih baik daripada ketika aku menyampaikan via lisan. Aku rasakan ini ketika mesti belajar bahasa Indonesia untuk berkomunikasi. Ya, bahasa Indonesia bukan bahasa pertamaku. Bahasa pertamaku adalah bahasa Jawa. Maka berbahasa Indonesia bagiku adalah menirukan Dian Sastro di AADC. Berusaha menghilangkan aksen medok karena mału kalau diolok “medhok.” 

Dan ketika aku mulai ngajar online, aku mendapat feedback bahwa aku kalau ngomong itu intonasinya galak. Uwow. Wajar sih, aku si anak Jawa Timur ini punya bahasa yang intonasinya tidak lembut, tapi cenderung ke modelan senggol bacok. Hahaha.

Setelah menerima feedback itu, aku berusaha berubah. Aku ikut kelas mengenal suara, mendengar intonasi diri sendiri, dan mencari role model yang bersuara seperti yang aku inginkan. Ya, aku belajar berbicara lebih baik.

Ketika kini berbicarapun, aku makin sadar, ternyata kok aku kurang luwes dalam berbahasa, ya? Ketika aku pikirkan di bahasa Inggris, kok dapat ya luwesnya, karena apa? Karena nonton film. Sedangkan di bahasa Indonesia, aku merasa kurang referensi untuk bisa menjadi luwes. Misalnya, kurang pembukaan, kurang penutupan.

Nulispun sama. Ketika sudah lama aku enggak nulis, kok rasanya susah ya? Aku nulis apa dong? Kata mentorku: tulis aja, apapun. Entah itu ngomel, entah itu pemikiran, entah itu curhat. Dan ketika aku lakukan. Dari beberapa barıs, menjadi beberapa kalimat yang berparagraf-paragraf.

Nah, ketika kalimat pembuka tadi aku terjemahkan secara literal, maka akupun mengamati diriku. Kenapa tulisan tanganku berubah-ubah? Apa yang membuat tulisan tanganku berubah-ubah? Ternyata, pertanyaan ini terjawab ketika aku bertemu dengan ilmu handwriting (grafologi). Bahwa ternyata ada hubungan antara handwriting (tulisan tangan) dengan kondisi mental seseorang. Akupun mengambil sertifikasi “membaca” tulisan tangan. 


Ah, well.

Tetap menulis. Karena ketika aku menulis, seolah aku bicara dengan sebuah bagian di dalam diriku. Menulis dengan jiwa, menulis dengan otak dan jiwa. Kalaupun gak ada yang baca, ya sudah. Karena tujuanku sudah berubah. Bukan tentang berapa eksemplar penjualan, bukan tentang royalti penjualan, it’s not about that anymore. It’s about how I leave my legacy. Because I believe, that every story is worthy to be written. 


No comments: