Aku menguninstal Facebook dan Instagram dari hpku, sejak Ramadhan 2024 ini. Biasanya kalau Ramadhan, aku bisa keluar dari grup-grup WA yang menurutku kurang bermanfaat. Kali ini berbeda. Mungkin banyak pencetusnya, penyebabnya, hingga aku memutuskan untuk melakukan hal yang menurut orang lain adalah hal yang susah. Dan jangan salah, akupun tidak akan membayangkan bisa melakukan hal ini sebelumnya.
Lalu, apa yang membuatku melakukannya?
Ada satu peristiwa yang kualami dari menulis status di Facebook yang membuatku berkaca dan agak down. Aku rasa waktuku banyak aku habiskan untuk scroll FB dan IG, dibanding produktíf, sehingga aku merasa pikiranku gaduh, berisik, layaknya air yang beriak dan tidak jernih. Pikiranku jadi overthinking, galau, takut akan masa depan, dan kuatir yang berlebihan. Dan perasaan ini aku alami selama beberapa pekan. Dan sungguh tidak enak. Karena aku seolah terjebak dalam kubangan ketakutan, tanpa bisa melakukan apa-apa. Aku merasa sebagai korban keadaan. Lelah mental, lelah jiwa. Mudah jengkel, gak sabaran.
Perlahan aku mencoba memanjat keluar dari kubangan yang menyedot diriku perlahan, mulai menginstal aplikasi untuk pengembangan diri, cari kegiatan baru, dan tentu, menghilangkan yang kurasa menyedot energi dan waktuku. Apalagi momen Ramadhan, ada target-target yang ingin aku raih.
Dan ketika aku mengajar di kelas Tumbler Optimis, aku menyampaikan ke teman-teman bahwa, ketika kita sudah mengetahui gambaran ideal diri kita itu seperti apa, maka kita akan menancapkan gol atau tujuan yang memang selaras dengan itu. Dan kita pun akan mudah berkata “tidak” pada hal yang tidak selaras dengan sosok ideal itu.
Setelah berkaca, mengkaji, dengan ringan hatiku menguninstal FB dan IG, dan fokus ke WA. Jualan via status WA, bercerita kembali di Pages, status WA, dan di blogku. Dan semua terasa lebih tenang. Tidak ada lagi noise yang kemarin sangat riuh. Aku dipertemukan Youtube dengan salah satu kyai akademisi, Dr. Fachruddin Faiz, S.Ag, M.Ag, yang lalu aku dengarkan dan berbagi dengan temanku yang mengalami kegalauan yang sama.
Karena di sisi spiritual, sudah takdir kita berada di zaman sekarang, beginilah jatah ujian kita. “Apakah mereka mengira mereka akan masuk surga tanpa diuji?”
Surat Al-Baqarah Ayat 214
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”
Kesimpulan: Akan mudah melakukan sesuatu ketika kita punya motivasi internal yang kuat untuk itu. Itulah kenapa ada yang ikut lari marathon dan mengejar lari itu sampai kemana-mana, karena tiap orang punya motivasi yang berbeda. Lari marathon itu keren, tapi aku belum tertarik. Menguninstal FB dan IG itu keren, tapi mungkin bagimu tidak menarik. Dan itu tidak mengapa, aku hanya akan fokus pada diriku, jiwaku, dan tujuanku.
No comments:
Post a Comment