Showing posts with label berenang. Show all posts
Showing posts with label berenang. Show all posts

Sunday, November 19, 2017

Mengubah Kebiasaan, Sulit tapi Bukan Tidak Mungkin

Di penghujung tahun seperti sekarang ialah saat yang tepat untuk melakukan kontemplasi diri. Mengingat apa saja yang dicanangkan di awal 2017, mana yang sudah tercapai, mana yang belum. Mana yang ternyata masih khayalan, mana yang sudah berproses dan berprogress. 

Sudah umum jika di awal tahun akan banyak goal-goal yang dicanangkan. Biasanya lebih dari satu. Sayangnya ada yang ternyata masih menempati posisi impian walau sekian lama dicanangkan. 

Maka saat kontemplasi ialah saat yang tepat untuk menganalisa mengapa hal itu bisa terjadi. 

Ada satu hal yang saya canangkan di awal tahun 2017, dan senang sekali saya bisa mengatakan bahwa saya sudan mencapainya. Yaitu belajar berenang. 

Ini adalah target yang mulai 2016 saya canangkan, ternyata baru terealisasikan 2017 ini. Menurut pengamatan saya, hal ini karena saya mendapat kekuatan eksternal untuk akhirnya memulai. Saya punya kawan berenang yang awalnya mengajak saya, dan kamipun memulai perjalanan renang bersama. Memang belum menjadi jago, masih ada hal-hal yang mesti saya perbaiki. Namun untuk saat ini, saya sudah puas dengan pencapaian ini. Sekarang saya mempunyai target dan fokus yang lain. 

Mengapa begitu? Ada orang yang tipe mesti mempunyai target, dan ada orang yang ingin semuanya mengalir. Tampaknya saya ada di golongan pertama. Dengan adanya target membuat saya fokus dan memfokuskan energi serta pikiran saya ke sana. 

Apa fokus saya sekarang? Yaitu menambah kebiasaan pilates setiap hari. 

Pilates adalah olahraga yang pertama mau saya lakukan. Bukan lari, bukan yoga. Pilates lah yang membuat saya jatuh cinta pada olahraga. Jika Anda sering membaca blog saya ini, pasti Anda akan menemukan beberapa tulisan dengan keyword Pilates. 

Saya sudah pernah berhasil melakukan secara rutin pilates selama 3 bulan pada saat saya program penurunan berat badan dulu. Dan setelahnya, saya bisa rutin pilates ketika saya membarenginya dengan renang dan simple rules. Sayangnya simple rules itu rontok ketika di bulan Ramadhan 1438 H ini. 

Setelah saya amati penyebab rontoknya adalah karena saya mengaitkan antara pilates dan satu kebiasaan saya. Ketika di bulan Ramadhan saya tidak melakukan perilaku itu, maka simple rules pilates gugur bersamaan. Maka dari itu, simple rules nya saya ganti. 

Saya menggantinya dengan melakukannya setiap hari. Simple sekali tampaknya. Namun seperti kebiasaan lainnya, sayapun menghadapi tantangan. Banyak alasan untuk saya tidak melakukannya, hingga saya memutuskan untuk menggunakan alat bantu berupa kalender yang hanya berisi laporan pilates saya. Berbeda dengan berenang yang mana saya mempunyai kawan seperjuangan. Di pilates ini saya sendirian. Saya melawan kemalasan diri sendiri. Butuh kedisipilinan ekstra. Karena yang mengingatkan ya bisa dibilang tidak ada. Walau akhirnya saya meminta Suami saya untuk bertanya tiap beberapa hari “Umi sudah pilates?”

Kenapa saya bilang butuh kedisiplinan ekstra?
1. Tidak ada kawan seperjuangan.
2. Tidak ada biaya yang dikeluarkan. 
3. Tidak ada yang tahu apakah saya sudah melakukannya atau belum. Suatu ujian kejujuran pada diri sendiri yang diwakilkan dengan tanda di kalender. 

Saya amati, orang-orang hebat mempunyai jadwal yang tidak pernah kosong. Dan saya amati, mereka punir kebiasaan-kebiasaan yang sudah terbangun kokoh. Ada contoh ibunda kawan saya yang selalu sholat Dhuha setiap hari, dan masyaallah kalau saya lihat efeknya, bisnis kain beliau dari dulu hingga sekarang membesar dengan organik.

Selain pilates, saya juga menantang diri saya lagi untuk menulis 30 hari tanpa jeda, seperti yang dulu sudah pernah saya lakukan dan berhasil. 

Pertanyaannya? Apa jaminannya jika yang kali ini akan berhasil? Tidak ada jaminan. Semua kembali seperti seolah kebiasaan ini belum ada. Kembali membuat pola yang sesuai. Rasa berhasil yang dulu tentu bisa saya ingat dan rasakan kembali, Namun dengan kondisi yang berbeda, tentunya akan ada penyesuaian yang sebelumnya tidak ada. 

Coach Renang saya pernah bercerita tentang seorang atlet Renang yang sudah gemilang namun memutuskan untuk berhenti beberapa tahun. Ketika atlet itu kembali, ia merasa seolah ia baru pertama kali berenang.

Di situlah tantangan mengubah kebiasaan. Tapi jangan patah arang. Bukankah Allah SWT akan mengubah nasib hambaNya jika hamba itu mengubah nasibnya sendiri? 


terjemahan surat Ar-Ra'd ayat 11. ....إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ .... artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”

Tuesday, July 04, 2017

Pengalaman Renangku (1) di Kolam Renang Muslimah Arcamanik

Berenang, salah satu olahraga yang mesti wajib diajarkan. Termasuk 1 dari 3 olahraga yang disunnahkan: berenang, berkuda, memanah. Bener ya?

Alasan kenapa saya pengen nulis cerita tentang perjalanan berenang saya adalah karena sungguh perjalanannya berliku. Haiyah. Hahaha. Ya persis kayak obsesi kudu bisa berenang tea, tapi kok ga dijadi-jadiin. Saya cerita dari awal aja ya. Saya yakin kok, banyak diantara kakak-kakak semua yang punya pengalaman yang heboh kayak saya, atau bahkan lebih heboh. Sehingga pengalaman-pengalaman itu menjadikan “mental block”, ngerasa “kayaknya aku ga bakal bisa renang deh, etc dll dsb”.

Saya ini sudah 2 kali lebih tenggelam. Yang 1 kali pas SMP di Kali Brantas Malang, ndilalah masih dikasih hidup sama Allah. Kedua, di kolam renang pas saya SD gara-gara pakai kacamata renang untuk pertama kalinya, kaget liat dasar kolam, terus gelagapan dan tenggelam bentar. Ketiga pas canoe kebalik pas kuliah, karena pakai pelampung, jadinya masih bisa selamat dan menyeberangi sungai yang berarus. Kalau kakak-kakak, berapa banyak yang udah pernah tenggelam?

Berenang ini, selain sunnah Rosul, juga skill dasar penyelamat hidup. Temen saya dari US pernah heran ke saya ketika saya bisa naik sepeda, tapi ga bisa berenang. Dia bilang “swim can save your life, but bicycle wont. you should learn how to swim, then how to ride a bike”. Courtney nama temen saya itu, waktu itu saya masih umur 16. *sudah pernah tenggelam, dan trauma dengan air.

Tinggal di Belanda, yang tinggi airnya lebih tinggi dari daratan, terus ga bisa berenang, itu seperti bunuh diri yang direncanakan. Setiap anak kecil di Belanda hampir wajib ikut les berenang, dan mereka ada sertifikat untuk itu. Perayaan pencapaian sertifikat ini lumayan lho. Jadi, renang adalah hal serius di Belanda. Ya iyalah, itu bendungan bisa saja jadi mimpi buruk.

Dulu waktu kecil saya pernah belajar berenang. Jadi, ketika saya mulai les berenang (lagi) di tahun 2017 ini, saya sudah bisa meluncur, dan sedikit-sedikit gaya katak, tapi masih belum bisa ambil nafasnya. Tapi yang pasti, saya masih trauma dan takut tenggelam. Sebetulnya resolusi berenang ini sudah saya canangkan di awal tahun 2016, sampai saya belajar ke Nur Maliyanti, sempet 1 kali ke Sabuga. Tapi mandek di tengah jalan, alasannya? Karena yang jaga kolam waktu itu bapak-bapak. *Ini pasti hanya excuse, haha. Jadi, 2016, saya masih belum bisa berenang.

Resolusi mangkrak itu alhamdulillah dibangunkan lagi oleh salah satu saudara semangkok saya, Intan Ariestya. Di bulan Januari 2017, kami memutuskan untuk mengikuti les privat bertiga ke coach renang yang terkenal bertangan dingin *kalau serius pengen belajar, nanti kutanyakan ke beliau masih ada ga slot kosong diantara jadwal beliau yang super duper sibuk.

Kolam renangnya ada di Arcmanik. Ini juga ya ampun, perjuangan saya di hari pertama, mau kesana, lha kok lewat Sukamiskin coba dikasih tahunya sama Mbak Gmaps. Jadi kan jauuuuuuuuuuhhh buanget toh yaaaa.. Itu lho, yang pas saya posting saya makan bebek Sinjay setelah renang, lah laperrrr buanget ga ketulungan. Ternyata saya salah pilih jalan *sigh. Nah, sedikkit cerita di pertemuan pertama ini, saya ga bawa kacamata renang (lha saya kira itu cuma gaya-gayaan aja), alhasil ini mata serasa buram, berkabut, efek dari kaporit di air kolam renang. Ini masuk di perumahan, dikelilingi sawah, kalau dicari di Gmaps, namanya Kolam Renang Muslimah. Harganya terjangkau banget, hanya Rp 12.500,-/per orang terakhir Mei 2017. Ada warung indomie + teh kopi juga di dalemnya, cocok buat pengganjal perut lapar setelah berenang 2 jam.

Kolam renang ini bukanya hampir tiap hari, kecuali Kamis, yang biasanya jadwal maintenance. Ramai juga kalau pas kebeneran barengan sama jadwal anak-anak muslimah berenang. Anak laki-laki boleh masuk maksimal usia 6 tahun, itupun setelah persetujuan dan ijin dari Ibu penjaga kolam renang.

Kalimat pertama yang diucapkan coach renangku adalah “ayo coba tunjukkan seberapa kacaunya renang kalian”. Hahaha. Ya udah deh, aku hanya bisa meluncur saja dan gerak tangan kaki ala-ala gaya katak, dan dalam keadaan belum bisa bernafas. Haha. Latihan satu jam itu rasanya, ya ampun, rontok badan. Hahaha. Di kolam yang paling rendah jaraknya (yang buat anak-anak), latihan bolak balik.

Mbak Lolo, coach renangku ini cuma bilang “Lya, itu tangannya terlalu lebar. Lya, itu kakinya kurang lebar”, dari pinggiran kolam! Haha. Aku inget banget waktu coach renangku itu akhirnya nyemplung kolam dan aku hanya melongo lihat dia renang. WOW banget! Langsung nancep itu di otakku “Oh, renang yang bener itu yang gitu”. Istilahnya di NLP, modelling. Niru. Dan ketika aku udah punya subyek yang ingin aku tiru, aku tahu bagaimana cara mencapainya. Gitu lah kira-kira. Hasil di pertemuan pertama ini selain mata buram, ya badan kaku dikit-dikit. Tapi bener deh, saya yang pemula ini, kebantu banget dengan latihan #pilates yang sering aku lakuin otodidak di rumah. Dan yang bikin amazed adalah berdasar cerita coach renangku, ada salah satu atlet renang Indonesia yang waktu itu persiapan latihan di US, pulang-pulang juga dapat sertifikasi #pilates. Dan ketika coach renangku bilang, ternyata, #pilates dan #renang ini adalah saudara yang saling mendukung satu sama lain. Kadang kalau coach renangku dulu bosen berenang, dia latihan pilates. Jadi, aku bersyukuuuuur buanget udah agak rajin pilates. Hihi.

Nah, setelah vakuum 2 minggu *iyaa maaf; kemarin pertemuan kedua, amazingly, aku dan swimmate ku udah bisa renang dengan keren! Unbelieveable pokoknya! Dengan segala background traumaku yang sempet membuat aku berhenti sebelum mencapai pinggir kolam, dan ketakutan pakai kacamata renang, dan kesulitan teknik belum bisa nafas dengan benar, semuanya beres dalam hitungan sekejab! Ajaib! Walau masih kadang-kadang juga belum tenang banget, nafas kadang masih “norak” kalau kata coach renangku, haha. Tapi bagiku, ini suatu pencapaian yang layak dirayakan dengan semangkuk indomie kuah panas+telor+cengek+sayur. Hahaha.

Baiklah, jadi setelah aku amati, prosesnya kok bisa cepet adalah seperti ini:

1. Niat kuat pengen bisa berenang

2. Air keminum itu biasa, ga usah merasa gagal dengan air yang masuk ke hidung atau mulut. Namanya juga berenang.

3. Siapkan tools pendukung yang wajib:

a. baju renang yang enak

b. topi renang (opsional sih, aku belum pakai, tapi kayaknya minggu depan mau pakai)

c. kacamata renang (wajib! jangan sampai beres renang mata jadi buram kayak aku). Kemarin beli yang merk Opelon, harga sekitar 200rb-an. Enak dipakai.

4. Punya swimmate yang sevisi alias sama kuatnya pengen bisa berenang. Makasih ya Bubub Intan Ariestya yang sudah ngajak dengan gigihnya. hahah. love you so much!

5. Punya coach renang yang cool, keren, pengalaman

Bayangin, kata-kata dari coach renang itu powerful banget lho! Pas aku takut dan berhenti di tengah jalan dari pinggir ke pinggir kolam, dia cuma bilang “Ayo Lya, jadikan itu tantangan!”. Atau pas aku takut renang karena kolamnya dalem, dia bilang “jangan merayap kayak ikan sapu-sapu. Udah gak apa-apa melayang-layang dikit aja (maksudnya jangan pegangan ke pinggir kolam, kalaupun dalem, ya udah, belajar aja nikmati ngambang dikit sambil keminum-minum air juga gak apa-apa. haha).

Terus pas dia kasih semangat “Ayo Lya, itu dikit lagi, nanti kalau kamu udah bisa renang kesitu, ntar pasti ketagihan”. Dan kata “ketagihan” itu buatku powerful banget. Karena aku tipe orang yang penasaran dengan hadiah. hahaha. Kayak gini “emang bisa ya ketagihan berenang?”, ya semacam itulah. Terus pengen membuktikan. Hahaha.

Dan tahu ga, ternyata ilmu #NLP yang aku pelajari selama ini, berguna buanget! Ketika aku belum sampai pinggir kolam, di otakku cuma ngomong “aku bisa, aku bisa, aku bisa”. Dan ternyata emang bisa! Ketakutan akan lihat dasar kolam karena pakai kacamata renang bisa hilang karena aku mikir “dengan pakai kacamata renang, mataku enggak buram”, di #NLP ini namanya #Reframing.

Wah, ternyata panjang juga notesnya. Untuk menyingkat, ini ada list bawaaan yang mesti dibawa ketika renang:

1. Baju renang, usahakan pakai baju renang beneran ya, bukan kaos katun, atau kaos TC, karena di kaos itu ada sisa sabun (basa) yang merusak kadar PH air kolam

2. Handuk + peralatan mandi (sabun, shampo, conditioner optional)

3. Sunblock (sebelum dan sesudah renang mesti dipakai, kemarin aku pas mau renang ga make, dan kayaknya sekarang mukaku bertambah coklat 1 tone, hahaha)

4. Tas kresek (maaf bukan maksudnya ga mau hemat kantong plastik, tapi ini manfaat banget buat bawa handuk + baju renang basah)

5. Uang jajan (biasanya beres renang itu bawaannya laper. Minimal bisa buat bayar indomie kuah yang udah dimatengin. Haha)

6. Kacamata renang + topi renang (makin keren, makin bagus afirmasinya “saya bisa renang, saya bisa renang”)

7. Air putih (selama renang, suka haus, tenggorokan kering karena kebanyakan buka mulut buat nafas)

8. Berenang dengan tuma’ninah. Tenang, rileks, tenang. Jangan nafas kayak takut ga kebagian oksigen, haha. Ini kata coach renangku.

Apalagi ya? Kalau ada yang belum, boleh dituliskan deh. Bisi aku kelupaan.

Jadi renang ini emang olahraga low impact banget, bagus untuk cardio, dan yang paling membahagiakan adalah, mencapai ketenangan dan kerileksan badan yang luar biasa! Tidur nyenyak setelahnya :D.

Gitu ya. Jadi, ayolah belajar renang! Kalau masih belum pede pakai baju renang, boleh kok dibarengi sama #sikecilhijau pas pagi sebelum renang. Tapi asli, berat badan ga ngefek ketika berenang. Fleksibilitas itu nomer 1.

All in all, semoga kita bisa berenang. Emak-emak, kakak-kakak kayak kita-kita ini butuh waktu me-time yang ga bakar kalori dan ketemu temen-temen (swimmate) yang menjadikan renang sebagai sarana rileksasi dan rekreasi sekaligus :). Gitu yaaa..

Jadi, selamat berenang!



PS: Nanti bakal ada edisi lanjutan tentang pengalaman renang di Sabuga yang 2 meter itu :D. Insyaallah, sekarang lagi  ngumpulin keberanian dulu. Hwkwkwkwk.