Showing posts with label Strategi bisnis. Show all posts
Showing posts with label Strategi bisnis. Show all posts

Saturday, December 09, 2017

Zaman Now, Jadikan 30%

Seorang kawan MI saya, adalah Presiden Direktur dari grup perusahaan yang didirikan alharhum ayahnya. Setelah lebih dari 17 tahun tidak berjumpa, kawan-kawan sayapun mengadakan reuni kecil-kecilan saat Sang Presdir ada acara di kota Malang. Dengan padatnya jadwal, ke-7 kawan saya bertemu kurang lebih selama 2 jam. Saya tidak ikutan, hanya memantau dari WA grup. 

Pertemuan yang singkat namun bermakna. Alhamdulilah, berkah silaturahim. Saya tidak ikut dalam pertemuan itu, namun hangatnya pertemuan itu terasa walau terpisah ber-ratus kilometer jauhnya. 

Kawan saya itu, tetap humble, seperti seolah dia tidak lebih tinggi dari kami. Padahal, dari segi ekonomi, dia selalu lebih dari kami semua. Zaman kami SD dulu, kami selalu teringat wangi KFC yang dibawakan oleh pengantarnya ketika kami mesti les dan pulang lebih siang. Dia makan KFC di antara kami yang makan nasi bungkus apa adanya. KFC benar-benar menjadi anchor kawan saya ini. 

Dia ke Malang karena ada rapat perusahaannya, selama 3 hari. Grup perusahaan yang telah berusia 51 tahun. 

Yang menggelitik saya untuk menulis ini adalah rekap hasil silaturahim kawan-kawan saya. Satu tips bisnis yang beda dari yang saya pernah lihat sebelumnya. Kunci sukses yang ditemukan melalui perjalanan 3 kali bangkrut, kunci sukses yang sudah terbukti. Kunci sukses yang ingin saya tulis agar makin terpatri.

2.5% adalah batas pelit orang. Ketika zakat yang 2.5% itu tidak dikeluarkan, kata ustadz yang saya dengar, itu sama saja dengan mencuri hak orang lain. Maka zakat wajib dikeluarkan sesuai fiqih aturan yang berlaku. 

Setelah itu, ada sedekah, infaq. Yang besarannya bebas. Semakin besar semakin baik, karena sedekah adalah penjaga diri dari kemalangan, penolak bala, penjaga kesehatan. Nah, yang dulu diajarkan di IIBF, adalah 10% sedekah. http://www.mirajnews.com/2016/09/iibf-jadikan-sedekah-10-penghasilan-sebagai-prinsip.html 

“Di masa sulit orang tua kami mengajarkan untuk memperbanyak sedekah.. dan kami pelajari obat bisa bangkit lagi adalah kekuatan doa,’ tulis kawan saya di WA. 

Di samping diversifikasi usaha, pembagian 100% hasil usaha di grup perusahaan ini dibagi menjadi: 
  1. 30% Amal 
  2. 30% tambahan modal perusahaan 
  3. 30% karyawan
  4. 10% diri sendiri


Presiden Direktur muda yang berusia 34 (tiga puluh empat) tahun ini membagikan pelajaran hidup yang dialami Hasnur Grup. Masyaallah. Terucap semoga kawan saya, almarhum&almarhumah orang tuanya, serta Hasnur Grup selalu diberikan kelancaran, kemudahan, kelapangan usaha, dan berkah usahanya dunia akhirat. Aamiin. 

Thursday, December 07, 2017

Setelah Tantangan Pilates 1 Bulan Pertama, Ini Hasilnya…

Saya sudah 1/3 jalan dari tantangan diri sendiri 3 bulan pilates dimulai November 2017 - Januari 2018. Dan, saatnya membuat rekapitulasi tentang 1 bulan pertama. Apa yang bisa saya pelajari, dan mungkin bisa menginspirasi bagi yang ingin, sedang, akan, membuat tantangan. Inspirasi untuk resolusi 2018. Hehehe. Resolusi yang kebanyakan hanya jadi resolusi tahun depannya lagi. Hehehe. 

Baiklah, bagi yang mengikuti blog ini, tentu mengetahui bahwa saya mempunyai interest di pilates. Pilates adalah olahraga pertama yang saya tekuni, walau sampai sekarang masih amatir. Hihi. Maklum pilatesnya dari Youtube. Saya beli CD nya, hanya setelah saya tahu bahwa ada videonya di Youtube, maka saya beralih ke Youtube aja. Hehehe. Sayang-sayang CDnya, takut kalau lecet-lecet kebanyakan diputar. 

Baiklah, jadi, ini yang ingin saya bagikan di postingan kali ini. 

Saya kan melingkari kalender tiap kali pilates, kan. Dari 30 hari di bulan November 2017, ternyata saya bisa pilates 20 hari. Dengan durasi rata-rata yang 20 menit tiap hari. Ini lho efek yang berbeda dari melingkari kalender: 
  1. Saya bisa keeping track tentang apa yang saya sudah lakukan
  2. Evaluasi & peningkatan untuk mencapai target. Bahasa kerennya muhasabah diri. Muhasabah dari kata hitung. Hisab. 

Dua poin penting yang menjadikan pertumbuhan terasa berarti. Dan menjadikan diri mengapresiasi apa yang telah dilakukan, walau mungkin target belum tercapai. 

20 hari saya pilates, dari target 30 hari. Jadi berapa persen itu? 66.67% keberhasilan. Maka jika saya ingin meningkatkan 10% saja keberhasilan di bulan ini, maka saya minimal mencapai angka 76%, maka saya mesti olahraga 22.8 hari dari 31 hari di bulan Desember 2017. Hanya nambah 3 hari dari yang sekarang. Hm, sepertinya tak berat. Hohohoho. 

Ok, evaluasi. Evaluasi ada di berat badan dan lingkar badan kayaknya ya. Setelah 20 hari pilates di November, saya merasa: 
  1. Tidak mudah lelah
  2. Tidak lagi bergantung pada #sikecilhijau untuk menjaga berat badan
  3. Tidak mengalami moodswing parah dan sakit perut ketika tamu bulanan datang
  4. Ada baju yang mulai muat, haha. Jadinya sekarang malah pengen njahit kain-kain yang pada nganggur. 

Empat hal ini hanya bisa saya amati ketika saya flashback dan melihat perjalanan pilates sebulan lalu. Jika saya tak menyimpan record saya, pasti saya tidak bisa mencanangkan target lebih tinggi di bulan Desember. Bisa jadi saya malah tetap di angka 20 hari, tidak bertambah 10%. 

Karena saya menuliskan record, maka saya bisa mengukur. Begitu juga yang berlaku dalam bisnis. Jika kita tidak menulis apa yang telah kita kerjakan, bagaimana kita bisa mengukur tingkat efektif pekerjaan itu? Kadang hal itu terlepas begitu saja, nulis status dianggap biasa saja. Padahal sebagai penjual online kan nulis status itu penting. Meningkatkan engagement. Berapa jumlah status yang kita tulis? Berapa efektif status itu untuk meningkatkan engagement kita? Berapa persen yang akan kita tingkatkan? Mana targetnya? Hohoho.

Sudah dulu, ini kok mbahas pilates jadi mbahas bisnis. Hwhwkww.

Dag! Selamat melingkari kalender!




Friday, November 17, 2017

NLP dalam Bisnis, Memangnya Bisa?

Dalam NLP ada hal yang dikenal dengan pemilihan kata akan mempengaruhi gambaran tentang kata, karena tiap kata memiliki makna yang berbeda bagi tiap orang. Maka pilihan kata menggambarkan apa yang ada di dalam pikiran. Kata adalah wakil dari apa yang ada di pikiran. Oleh karena itu, sering kali ustadz kenamaan, Aa Gym seringkali berkata “teko hanya mengeluarkan isi teko”. 

Hal ini berlaku luas, tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari dalam bersosialisasi dan berkomunikasi, namun juga dalam pemliihan kata yang dilakukan dalam kegiatan bisnis. Hal ini saya amati dalam interaksi saya dengan tim bisnis tertentu. 

Alkisah, kami sedang meeting. Dan di meeting itu seringkali disebut tentang “buku lama”. Tiap anggota meeting menyebut “buku lama” kepada buku yang sedang tidak dalam proses produksi. Hal ini tentunya menggelitik saya. Memangnya bukunya selama apa? Tahunan? Bulanan? 

Yang saya amati dari kata “buku lama” adalah omzet penjualan yang buruk, tidak ada antusiasme, dan hal-hal yang tidak sebanding ketika mereka menyebutkan “buku baru”. Ada apa ini? Apakah ada hubungannya antara pemilihan kata dan omzet? Haha, terlalu dini untuk disimpulkan. Namun ada satu hal yang ingin saya sampaikan di tulisan ini. Yaitu tentang perubahan kata yang digunakan untuk memaknai satu hal bisa mempengaruhi bagaimana mereka bereaksi. 

Di meeting yang mana saya terganggu dengan penggunaan kata itu, saya mengusulkan untuk menggantinya menjadi “buku ready stock”. Lha memang kenyataannya bukunya sudah ready stock. Secara harfiah, sudah ada di stok gudang, dan tidak dalam proses produksi. 

Peserta meeting pun berlatih untuk mengganti kata “buku lama” menjadi buku “ready stock” di meeting itu. Awalnya susah. Namun ketika diingatkan tentang “eits… buku ready stock”. Mereka dengan sigap merevisi apa yang baru saja diucapkan. 

Setelah itu, saya meminta peserta meeting membuat ranking buku yang terjual selalu dengan baik walau sedang “tidak musim”nya. Kenapa saya katakan musim? Karena tipe bisnis yang sedang dijalankan pada saat itu ialah, dalam sebutan saya, berlari bersama perubahan. Artinya, yang sedang tren itulah yang digarap.

Peserta meeting membuat urutan rangking atas omzet penjualan buku “ready stock”. Dan ternyata hasilnya lumayan. Setelah dibedah, ternyata ada hubungannya antara pemilihan tema dan salah satu tools di NLP yang akan saya bedah nanti. Tunggu saja di artikel berikutnya atau yang berikutnya lagi. Karena saya sedang membiasakan diri menulis 1 artikel per hari. Selain meladeni tantangan, juga membuat pola kebiasaan diri agar novel yang sudah 100 halaman itu segera bisa dinikmati banyak orang. Hahaha. 

Nah, sehubungan dengan kebiasaan. Akhirnya peserta meeting mengubah penggunaan kata “buku lama” menjadi buku “ready stock”. Ketika saya bertemu mereka sekitar 2 Minggu setelahnya, sudah tidak ada lagi kata “buku lama” yang terlontar dari mulut mereka. Hehehe. Apakah pembiasannya berhasil? Semoga! 

Apa sebenarnya yang saya harapkan dari perubahan penggunaan kata itu? 

Saya ingin peserta meeting tidak berpikiran sempit lama vs baru. Karena seperti yang saya baca di  buku terbitan penerbit tertentu, “tidak ada buku lama jika kau baru saja membacanya” atau semacam itu. 

Yang ada hanyalah buku “ready stok” yang nantinya fast moving dan slow moving. Buku ready stock yang musiman, ataukah yang dibuat last long. Dan hal ini nantinya akan berdampak pada strategi penjualan, target captain omzet, dan waktu yang dibutuhkan. 

Kata siapa NLP hanya bisa digunakan di kehidupan sehari-hari? Ternyata buktinya NLP bisa digunakan di dunia bisnis. Saya jadi penasaran dengan apa saja strategi yang dapat diulik dengan menggunakan teknik-teknik NLP untuk melejitkan omzet dan meroketkan profit. 


Baiklah. Sekian dulu yang saya sampaikan. Sampai jumpa di artikel esok hari. Tinggalkan komen tau add saya di Telegram: @Lya_Herlyanti.