Showing posts with label Coach Bisnis. Show all posts
Showing posts with label Coach Bisnis. Show all posts

Saturday, March 23, 2024

Ekstrenalisasi: menulis, coaching


Eksternalisasi adalah kata yang baru aku ketahui, ternyata tidak hanya internalisasi yang penting. Eksternalisasi juga penting. 


Internalisasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah penghayatan terhadap suatu ajaran, doktrin atau nilai, sehingga merupakan keyakinan dan kesadaran akan kebenaran doktrin atau nilai yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku. 


Internalisasi adalah kata yang kukenal ketika belajar NLP, diajarkan bahwa proses untuk memindahkan teori, ilmu ke dalam praktik diri, perasaan, dan otot-otot badan. 


Maka, selain proses internalisasi, perlu juga aku pahami tentang eksternalisasi ini. Dan ternyata penjelasannya menjawab beberapa pertanyaanku tentang “Kenapa aku suka coret-coret di kertas? Kenapa orang bisa menemukan solusi ketika dia curhat, padahal orang yang dicurhati tidak memberikan solusi?”


Di sebuah tulisan Josh Kaufman tentang Externalization, aku dapat kesimpulan bahwa: 

Suara di luar diri, di wilayah Environment/Lingkungan senantiasa lebih keras suaranya dibanding suara dari dalam diri. Sehingga, isi kepala perlu dikeluarkan agar tidak berisik sendiri di dałam. Dengan cara apa mengeluarkannya?

Ada 2 proses eksternalisasi yang disampaikan oleh Kaufman, pertama: Menulis (atau menggambar), Berbicara. 


Menulis atau menggambar merupakan proses pengeluaran pikiran yang melalui proses pemikiran, sehingga tersusun kalimat yang dapat menyampaikan maksud pikiran. Diksi yang digunakan merupakan proses penyaringan, “Apakah kata ini tepat untuk menyampaikan maksud ini? Jika aku menggunakan kata ini, apakah akan dimengerti dengan mudah, ataukah akan melahirkan ambigu?” 


Maka, proses menulis ini adalah proses pencernaan pikiran secara mandiri. Ketika aku merasa kesulitan untuk menulis dan menyampaikan apa maksudku dengan baik, di situ aku merasa bahwa aku kurang bisa mencerna apa yang kupikirkan untuk bisa disampaikan melalui kata. Padahal, aku bisa memahami sesuatu, ketika aku bisa menamai rasa melalui proses nominalisasi/pembentukan kata benda. Pikiran yang tertata akan muncul di kalimat yang tertata. Jika disampaikan dalam bahasa Aa Gymnastiar: teko hanya mengeluarkan isi teko. Sedangkan dalam bahasa filusuf Dr. Faiz: tubuh adalah alat pikiran. Kamu marah di pikiran terlebih dulu, baru tanganmu memukul.

Maka, menata tulisan sama dengan menata pikiran.

Berbicara bisa kepada orang lain, atau bicara ke benda yang kita jadikan dialog, seperti aku dulu kadang bicara di depan cermin, untuk menguraikan pikiranku. Syarat ketika bicara kepada orang lain yaitu orangnya tidak boleh menginterupsi, dia mesti sabar mendengarkan, kemudian memberikan pertanyaan yang bagus. Itulah kenapa, kadang ketika aku punya masalah, aku curhatkan entah di atas sajadah, ataukah ke orang lain, kepala jadi ringan dan tiba-tiba ketemu solusinya. Karena sebenarnya akan pikiran manusia itu sudah Allah rancang sedemikian canggihnya, sehingga bisa otomatis mencari jawaban ketika dipantik pertanyaan.

Sebuah ilmu yang aku pelajari adalah NLP coaching, sesuai banget dengan penjelasan di atas. Ketika coaching berlangsung, maka coach menyediakan telinganya dengan mode active listening. Menyediakan matanya untuk memperhatikan, menyediakan waktu dan pikirannya untuk berada di know-nothing state. Mengamati bahasa verbal dan non verbal yang dilepaskan coachee misal gerak tubuh, ekspresi mikro, tekanan suara yang berbeda; yang kemudian disampaikan lagi untuk dikonfirmasikan berupa pertanyaan ke coachee. 


Aku jadi ingat dengan kisah Siti Hajar ketika ditinggalkan di Bakka (Makkah) bersama bayi Ismail, di sebuah lembah yang tandus, tidak ada air, tidak ada orang; beliau bertanya kepada NabiAllah Ibrahim AS. 


“Wahai suamiku, kenapa engkau meninggalkan kami?” Pertanyaan ini tidak dijawab oleh nabi Ibrahim, beliau terus berjalan meninggalkan istri dan anaknya.

Tapi kemudian Siti Hajar mengganti pertanyaannya dengan “Apakah ini perintah Allah?” Dan nabi Ibrahimpun menjawab “Iya, ini perintah Allah.” Maka tenanglah hati Siti Hajar mengetahui bahwa ini adalah perintah Allah karena Siti Hajar yakin, Allah tidak akan mungkin mengecewakan hambaNya yang meminta.


Meskipun maksudnya sama, ingin bertanya “kenapa kau lakukan ini?” Tapi diformulasikan dengan 2 pertanyaan yang berbeda, maka muncul jawaban yang berbeda pula. Kemampuan memformulasikan pertanyaan untuk memantik jawaban ini sebuah kelihaian yang dipelajari dan diasah. Itulah kenapa ketika menonton demo coaching, kadang aku mikir “Padahal cuma ditanya aja lho, pertanyaannya sederhana aja. Tapi kenapa coaching itu berhasil?” Karena sebenarnya pertanyaan yang diajukan coachnya bukan sekedar pertanyaan. Untuk memunculkan pertanyaan itu, seorang coach mesti menyimak, memperhatikan, memahami, kemudian mengkonfirmasi, lalu memformulasikan kalimat untuk memberikan pertanyaan yang harapannya mengajak coachee untuk berpikir, sehingga jawaban yang dikeluarkan tidak sekedar jawaban normatif, melainkan jawaban yang muncul dari dalam dirinya, yang mungkin selama ini belum pernah ada yang bertanya tentang hal tersebut. Sebuah proses berpikir yang hanya bisa dilakukan ketika sudah memahami teori dan praktik dan evaluasi. 


Semakin kita berlatih, akan semakin canggih. 


Friday, March 22, 2024

Pemaknaan idiom "Blessing in disguise"

Ketika belajar NLP, aku belajar bahwa salah satu proses pengambilan hikmah dari setiap kejadian adalah ketika kita belajar melihat dengan frame/bingkai yang berbeda. 

Melihat kejadian menyedihkan, misal ditinggalkan partner bisnis, diputuskan hubungan profesional via WA, justru menjadi hikmah, dan merupakan keberkahan yang tersembunyi.

Aku sering dengar dan baca idiom “blessing in disguise,” tapi masih belum paham maknanya dengan baik. Iya, aku ngerti artinya: blessing = Rahmat, berkah. In disguise artinya: dalam penyamaran. Tapi apa sebenarnya ini? 


Tadi pagi aku berjalan-jalan di status WA kontak-kontakku, kemudian sepderti biata, aku memberikan reaksi pada status yang menurutku bagus. Tadipun sama, adu memberikan reaksi ke salah satu status temanku, dan ternyata berubah menjadi obrolan 1.5 jam via chat WA. 


Dia ceritakan tentang kesusahannya yang baru dialami, dan bagaimana partner bisnisnya memutuskan hubungan profesional hanya via chat WA, dan sekarang partner bisnisnya mem-blok nomor dia. Dia kesel, hatinya belum terima. Dia ceritakan kisah dari awal mereka bertemu, berkongsi, hingga akhirnya mereka putus dan temanku memulai membangun brandnya sendiri. 


Ketika membaca curhatannya, aku beri dia pertanyaan untuk mengajak dia melihat dari sisi yang lain. Dan dalam prosesnya, kuajak dia perlahan untuk melihat ini dari sisi spiritual, dan dari bingkai yang berbeda. Hingga akhirnya: beginilah yang dia tulis di grup, setelah dia chat denganku: 


“baru sama cikgu aku chattingan, HP tak bawa ke kamar mandi, saking serunya 😂🤣 Sumpah, out of the box bgt, mana ada yg bilang kesedihan atau ketidak enakan adalah sebuah keberkahan. 


Ya cuma 1, itu cikgu lyaaaaa 😂”


Sebuah pemaknaan muncul terhadap idiom “blessing in disguise,” yang muncul karena aku chat dengannya. Yang kalau aku tidak chat dengannya, otakku juga tidak tergelitik untuk berpikir dan mencari makna idiom itu. 


Maka, aku sadar, bahwa aku perlu berada dałam kondisi jernih, waras, dan tenang, agar bisa membantu teman bicara untuk melihat refleksi peristiwa dirinya. Tak kalah penting, aku perlu berada dałam kondisi jernih untuk kebahagiaanku, meninggalkan semua ke-overthingking-an, meninggalkan keruwetan dan menghindar dari noise,  untuk bisa berada dalam keadaan fokus, sadar, present dan utuh. 


Karena kalau tidak dalam berada dalam kondisi itu tadi, tentu aku akan ikutan bereaksi terhadap apa yang dihadapinya. Dan mungkin, itulah yang membedakan aku ketika berperan sebagai coach, dan aku yang berperan sebagai orang biasa yang demen gosip.