"Tuh kan, jadi sakit. Makanya jangan kau banyak pikiran yang tak kau sampaikan. Kau itu jangan diam begitu. Mana kutahu apa yang kau rasakan, apa yang kau pikirkan jika kau hanya diam dan tak pernah memberitahuku?" Ola membereskan meja belajar Elang yang penuh dengan minyak kayu putih, salonpas, dan parasetamol.
"Ini minum dulu," ia menyodorkan segelas air putih hangat. Memapah sedikit punggung Elang yang bersandar di bantal.
Elang meringis. Tubuhnya menggigil kedinginan. Wisnu menelepon Ola untuk memintanya menjenguk Elang. Sudah beberapa hari Elang tak beranjak dari kamarnya.
"Berapa kali kubilang, jangan bikin kuatir. Tak ada kabar, tiba-tiba sakit."
"Iya. Maafkan aku,"
"Iya. Kau memang patut minta maaf. Kau pikir aku tak kuatir?"
"Iya, aku tahu kau kuatir,"
"Iya. Makanya jangan ulangi lagi,"
"Iya. Maafkan ya," suara lemah Elang lambat laun membuat Ola luluh juga.
"Aku kuatir karena sayang, tahu,"
"Iya aku tahu,"
"Iya makanya. Udah diem jangan bawel. Kucium baru tahu rasa,"
"Apa? Bilang apa barusan,"
"Apa? Aku tak bilang apa-apa?"
"Huh, aneh,"
Elang tersenyum. Ia tahu Ola bawel karena Ola menyayanginya. Setidaknya, kehadiran Ola di ruangan ini saja sudah membuat Elang 90% sembuh.
Ah kadangkala sakit hanyalah tentang rindu yang ingin menampakkan wujudnya.
No comments:
Post a Comment