Aku ingin mengingat tiap detik perjumpaan kita. Merekam tiap detil peristiwa. Mengingat persis kata yang kau ucap. Agar rasa hangat yang memenuhi rongga dada tak pergi dan menghilang saat kau tiada.
Aku tahu, aku tak lagi berharap memilikimu. Menghapus cemburuku jika perlu. Melihatmu kembali seperti orang yang baru, jika mampu.
Tak bisa kupungkiri kerinduan ini memang tak palsu. Kadang ku hendak pergi, marah, tapi tak jadi. Kadang ku hendak pergi, berkelana, tapi akan kuingat kau sebagai rumah tempat ku kembali.
Kadang ada satu hal yang terjadi, lalu membangunkan sejuta memori. Akan kau. Akan kita. Jangan kau tanya mengapa koneksi batin kita kuat adanya. Berkali sudah kucoba hilangkan rasa. Biarkan, leburkan, abaikan, toh nanti suatu hati akan tiada.
Kau, jangan mati dulu. Aku tak bisa bayangkan hidup tanpa menanti perjumpaan denganmu. Atau saat kau mati nanti, justru lebih lancarku bercerita tentangmu? Ya aku tahu, kerinduanmu telah menyerang benteng yang kau bangun tinggi. Dan kau tertawan karenanya. Rindu yang tak pernah kau bayangkan akan kau rasakan. Kini rasakanlah, jatuh cinta itu nyata adanya.
No comments:
Post a Comment