Friday, November 09, 2018

A & E (111)

Ada bagian dari dirinya yang masih tak bisa melepas kehilangan Elang. Merasa bodoh. Merasa mestinya mereka tak perlu bertemu saja. Dan sekali lagi, terkubur sudah rindu. Berganti dengan amarah, kecewa. Tapi darimana amarah itu datang jika ia tak rindu? Bukankah amarah datang karena ia merasa tak lagi dirindukan? Tak lagi diinginkan? Bukankah perasaan diinginkan merupakan perasaan menyenangkan? Tahu bahwa ia dinanti. Tahu bahwa ia dicintai. Tahu bahwa ia ... menyakiti banyak hati jika ia memilih tetap bersama Elang.

Maka Elang melepasnya. Melepas rindunya. Melepas inginnya. Membiarkan Ola tak lagi ada di jangkauannya. Perlahan mereka mengambil jarak, menempuh arah berlawanan, dan berharap semoga tak ada kebetulan untuk pertemuan.

Maka Ola hanya mengingatnya sebentar. Tahu bahwa rindunya tak kan terbayar. Tahu bahwa rindunya tak kan berjumpa labuhan. Maka ia biarkan rindunya menyelinap pergi di dinginnya malam, di teriknya siang, di ramainya kerumunan. Ia tak ingin lagi memikirkan Elang.

Kau takkan sanggup membayar untuk bersamaku. Akupun begitu.

Apa yang menjamin kita akan bahagia selalu? Bukankah kau dulu juga bahagia bersamanya? Bagaimana jika kita bosan lalu berpaling perlahan? Akankah kita akan temukan orang yang lebih menarik untuk didambakan? Apakah cukup satu cinta untuk selamanya bertahan? Apa jaminan bahwa kita akan tetap menyayang?

Apa yang membuat bumi berputar? Apakah kau pernah melihatnya? Cinta tak perlu kasat mata, tapi kau lihat saja efeknya. Dan kau bagai oksigen di hidupku. Kau membuatku hidup, punkau membuatku berkarat dan pilu.

Kita takkan pernah bisa menyatu. Tapi kitapun sama, tak kan bisa saling melupakan. Aku akan tetap tegak pada pilihan. Jadilah jantan.

Ketika kau membelainya, apakah kau berharap kau membelaiku? Lama kelamaan rasa rindu kita ini lebih pada rasa penasaran. Hanya kumpulan dari nafsu-nafsu kemanusiaan. Atau inilah tandanya bahwa kau adalah jawaban?

Lang, aku rindu. 

Ditulisnya kalimat-kalimat itu untuk menguatkannya, bahwa dirinya tak bisa bersama Elang, mereka sudah memutuskan berpisah, meski entah rasa hati tak bisa mereka pungkiri.

Ola masih ditemani gerimis dan secangkir teh panas. Ia berhenti minum kopi, semata untuk memutus mata rantai ingatannya tentang Elang.

"You must break the pattern," kata Sari di sesi terapinya pekan lalu.

"Pattern apa?"

"Pattern mbak Ola kangen sama mas Elang itu,"

"Terus gimana?"

"Ya kenali dulu patternnya, saat-saat apa kangennya muncul. Lalu alihkan. Kecanduan perhatian tak ubahnya kecanduan gula atau narkoba. Bisa menyebabkan sakaw, butuh direhabilitasi. Sayangnya tidak banyak rehabilitasi untuk patah hati," kata Sari serius.

Raut muka Sari yang serius justru membuat Ola tertawa terbahak.

"Kecanduan Elang sama dengan kecanduan narkoba? Kadang-kadang lebay juga ini mbak Sari,"

"Lho ya, maka dari itu. Amati pola kangennya, tulis. Kita lanjutkan pekan depan ya," Sari menutup sesi mereka.


No comments: