Saturday, October 20, 2018

A & E (98)

"Aku akan meninggalkannya, Mar. Aku sudah putuskan untuk mengakhiri hubungan kami."

Pagi yang cerah seolah memberikan inspirasi kekuatan hati pada Ola. Kokok ayam tadi pagi menemaninya merenungi segalanya dengan Elang, pertemuan mereka, keakraban mereka, jatuh hati mereka, semua pertengkaran-pertengkaran karena hal-hal prinsipil bagi Ola, dan sekilas tentang Atika. Ada hal yang kadang remeh, tapi signifikan. Hal kecil yang mampu mengubah banyak hal. Hal yang seolah pertanda untuk meneruskan atau mengakhiri hubungan. Hal yang membuka mata, dan menjadi fondasi dari keputusan-keputusan penting.

"Lalu, apa rencanamu selanjutnya,"

"Ke Yogya!"

"Pindah?"

"Ya, mungkin aku akan menemui psikolog. Kurasa aku butuh diajari bagaimana melepaskan Elang secara baik dan benar."

"Oleh psikolog?'

"Ya, bukankah mereka adalah orang-orang yang tepat, memahami pikiran manusia. Jiwa, belum tentu. Jiwa, hmmmm, rencanaku, aku akan lebih melakukan hal-hal yang Allah suruh."

"Satu lagi yang belum?"

"Body?"

"Hmm, aku akan fokus belajar berenang. Kurasa berenang akan membuatku lebih kalem dan fokus. Satu hal yang aku butuhkan untuk melupakan Elang, dan move on with my life,"

"Kenapa kau lakukan ini semua, La? Tak bisakah kau tetap tinggal di Bandung?"

"Every corner of this city reminds me of him. His smile, his smell, the way he looks at me, the way he talks to me. It's too much. I have to move out," secangkir kopi susu yang menemani roti bakar Ola membuatnya mengingat roti bakar yang ia makan bersama Elang di cafe bernuansa coklat saat sore hujan rintik-rintik di bulan Desember.

"Aku ingin waktu berhenti saat aku bersamanya. Ini sudah tanda-tanda aku tak sehat. Ke manapun ku pergi, yang kurasa ada dia di dekatku, seperti saat dulu. Aku ingat caranya menggenggam tanganku saat kami menyebrang jalan. Ingatan tentang dia terlalu pekat, aku tak ingin mati karenanya. Aku ingin hidup seribu tahun lagi,"

"Chairil Anwar!" teriak Maria menebak kalimat terakhir yang diucapkan Ola.

"I will find my peace. To deal with this. To accepts God's plan. To laugh at everything sad about me and him. To be able to smile and wish him happy when I remember him and his wife."

"That's so noble of you,"

"Bukan noble! Terpaksa! Hahaha," tertawa Ola memecah kesyahduan.

"Jadi, kita buka cafe di Yogya?" Maria memasukkan potongan roti bakar gandum yang ia potong.

"Bakery! Biar kita bisa sarapan croissant tiap pagi. Haha,"

"Asal kau kuat modalinnya, aku sih hayuk aja,"

"Butuh berapa em? Hitung dulu, kita bicara nominal nanti. Haha,"


Pagi yang cerah, membawa harapan meski secercah.

No comments: