"You know the answers, Lang,"
"No, I don't,"
"Should I answer this question?"
"Yes. You know I'm with her. You don't want me to get divorce. Yet, you're still here."
"Good question, Lang. I'll find the answer,"
Ola terkenang obrolan beberapa hari lalu selintas lagu lawas milik The Corrs, mengalun sendu di kamar bercat biru muda miliknya. Suara Andrea seolah mewakili suara hatinya saat ini.
.....
I've caught myself smiling alone
Just thinking of your voice
And dreaming of your touch
It's all too much
You know I don't have any choice
Just thinking of your voice
And dreaming of your touch
It's all too much
You know I don't have any choice
Don't say you love me
Unless forever
Don't tell me you need me
If you're not gonna stay
Don't give me this feeling
I'll only believe it
Make it real or take it all away, yeah
Unless forever
Don't tell me you need me
If you're not gonna stay
Don't give me this feeling
I'll only believe it
Make it real or take it all away, yeah
Make it real, or take it all away, itu kata Andrea Corr. Lirik yang saat ini menjadi jawaban atas kegundahannya. Mungkin ini jawabannya...
----
"Lalu kenapa kau masih menemuinya? Tak cukupkah gantungan kunci pemberiannya buatmu mengingatnya selalu?" suara Atika melemah, air matanya menetes di pipinya deras. Suasana malam yang hening makin menambah kengerian suasana rumah tangga mereka. Atika tak punya lagi alasan untuk bersama Elang.
"Aku lelah dengan menjadi yang kedua di hatimu," Atika meneruskan kalimatnya, nadanya lemah, jiwanya pasrah. Ia merasa kalah.
"Kau bukan yang kedua di hatiku. Aku memilihmu," Elang mencoba menenangkan istrinya. Memeluknya erat dan menangkupkan wajah lembut Atika di dadanya yang bidang. Biasanya, Atika akan menangis tersedu-sedu, memeluk suaminya lalu mereka saling bermaafan.
Tapi tidak malam ini. Atika melepaskan pelukan Elang, menjauh mundur satu langkah darinya. Tangan Elang yang selalu memanjakannya seolah tak berarti apa-apa kini.
"Kau memilihku karena dia tak ada. Mari kita lihat jika dia tetap ada di antara kita, siapa yang akan kau pilih?"
Elang duduk di pinggiran tempat tidur yang dihiasi sprei warna peach bermotif bunga. Atika yang memilihnya minggu lalu. Atika yang lembut dan keibuan, ia suka segala yang bermotif bunga. Walau kadang rumah mereka terkesan terlalu shabby chic, Elang membiarkan istrinya mendekor rumah mungil mereka. Ia hanya ingin istrinya tidak terlalu sibuk memikirkan kapan mereka akan dikarunia momongan.
Atika pasrah melihat suaminya yang menunduk, beranjak pergi dari kamar mereka menuju dapur. Elang mengambil segelas air putih untuk menenangkan istrinya dan dirinya. Ia tak sanggup menjawab pertanyaan Atika. Benarkah selama ini Atika merasa yang kedua? Bukankah Atika yang dipilihnya? Dinikahinya? Dinafkahinya? Mengapa Atika masih merasa ia yang kedua saat ada Ola?
"Sudahlah sayang, kau sudah lelah. Jangan kau pikirkan lagi tentang Ola. Aku yang salah. Aku minta maaf. Aku tak akan lagi menemuinya." Elang merayu, wajahnya tampak tenang dan mengulum senyum.
"Mana bisa, Mas?"
"Bisa. Dia bukan siapa-siapa. Kaulah yang kupilih. Kaulah yang kupuja. Bukan dia. Gantungan kunci itu aku simpan karena aku suka. Bukan karena apa-apa," Elang memeluk istrinya, memijat tangan kanannya yang terkulai lemah. Mereka melakukan gencatan senjata.
Setelahnya, Elang tak bisa memejamkan mata. Ia pandangi wajah lembut istrinya yang tertidur di sampingnya.
Ola, tak seharusnya aku menghubungimu kembali. Kau telah menjadi riak ombak dalam tenangnya lautanku. Hadirmu menjelma jadi kebahagiaan nyata bagiku. You're my sunshine after the rain.
Damn, I still love her!
No comments:
Post a Comment