Tuesday, October 16, 2018

A & E (93)

"No, I don't like you, La..."
"You're the answer of all my prayers. Witty, smart, comfortable in your own skin, you're practically the one I've been dreaming of,"
"Really?"
"Really really," Elang memetik senar gitar berwarna coklat. Gitar klasik pemberian kakaknya saat ia masih SMA.
"Then, do you want to spend the rest of your life with me?"
"Yes, I do," Elang tertawa.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Seperti kau sedang melamar aku,"
"Hahaha. Aku hanya ingin kepastian. Kau lelaki yang sukar kutebak,"
"Kau tak perlu menebak, my princess. I am an open book. Tak ada yang kusembunyikan darimu,"
Hati Ola menghangat. Lelaki ini memberikan perhatian yang tak pernah ia dapatkan dari kedua orang tuanya yang sibuk. Mereka membanjiri Ola dengan fasilitas, tapi mereka lupa bahwa Ola kadang hanya ingin berbagi cerita. Menceritakan kelakuan kawan-kawannya, apa yang sedang didengarkannya, ia hanya ingin punya sahabat. Elang, memberikan semua itu.

"Dan kau punya sepasang telinga yang sabar mendengarkan semua ceritaku, dan sepasang mata yang menatapku saat kubercerita. Terima kasih, Lang."

"Terima kasih telah hadir di hidupku yang menjemukan, my Aurora," Elang memetik senar gitarnya dan menyanyikan lagu 'i am here for you..always here for you...when you're needing someone to hold you, remember I told you, I am here for you," sambil menatap Ola lekat. Mereka hanya ingin waktu berhenti di saat itu. Freeze the moment.



Ola sekilas teringat fragmen kisahnya dengan Elang hanya karena dia mendengar Here For You-nya Firehouse di supermarket saat ia membeli kebutuhan rumahnya.

Elang, jika ada kontes pria paling membingungkan
Ku yakin kau akan jadi pemenang
Tanpa saingan
Kau datang, kau pergi, kau katakan kau melupakanku
Tapi kau masih memberi celah hatimu untukku
Kau sudah memilikinya
Tapi kau masih ingin menyimpan kursimu di hatiku

Elang, jika ada kontes pria paling menyenangkan
Ku yakin kau akan jadi pemenang
Tanpa saingan
Menghabiskan waktu denganmu selalu menggembirakan
Kau membuatku berpikir dalam, merenung, lalu beropini
Kau membuatku ingin belajar lebih agar aku tak berhenti dengan potensiku
Kau memberiku harapan, bahwa kehidupan akan lebih baik jika ku berubah

Elang, aku tak pernah tahu apa yang diinginkan Tuhan
Aku juga tak pernah tahu apa hikmah di balik semua ini
Mengapa kau datang lagi saat tak bisa kumiliki
Mengapa kau hadir menyapa mimpi saat ku tak mungkin berbagi

Elang, apakah aku mesti belajar melepaskan?
Merasa cukup dengan yang pernah ada
Merasa cukup dengan yang pernah terjadi
Mencukupkan diri dengan hadirmu yang semu
Mencukupkan diri dengan diriku di sini sendiri

Elang, when is enough is enough?

No comments: