Wednesday, October 24, 2018

A & E (106)

"Suatu hari aku cemburu. Elang punya fans baru. Fans yang yah, tidak bisa kubilang lebih kece dari aku, tapi ya, aku cemburu,"

"Perempuan itu mengarang cerita tentang mereka. Katanya Elang memilihnya dan bla bla bla, akhirnya kami bertengkar. Lalu, dengan ajaibnya, entah bagaimana, aku lupa apa yang dikatakannya; tapi saat itu, aku merasa satu-satunya,"

"Lalu ada saat kami membahas perempuan itu, dan kubandingkan sikapnya jika aku yang melakukan hal yang sama, apakah beda reaksinya. Dan ya, dari responnya, kusimpulkan bahwa aku memang berbeda untuknya."

"Selama ini aku mengira dia bermanis muka saja, menggombal. Tapi kini kusadari, yang dikatakannya, yang dilakukannya, memang berasal dari sanubari. Maka lagi-lagi, aku merasa istimewa di matanya,"

"Dan dia memang benar-benar jatuh cinta. Tak ada di antara kami berdua yang tidak berkata jujur saat itu. Aku mengakui, kebodohan kamilah yang memisahkan kami. Aku egois." Ola terisak.

"Maafkan aku, Lang. Aku egois. Aku selalu ingin benar. Aku selalu ingin kamu istimewakan. Aku ingin kau perjuangkan. Tapi aku lupa bahwa kadang, berhenti berjuang adalah pilihan. Maafkan aku yang egois, yang tak ingin kau lupakan. Maafkan aku yang egois yang kadang tak peduli apa yang kau rasakan asal amarahku terlampiaskan. Maafkan aku, Lang," Ola menelungkupkan kedua telapak tangannya ke muka. Ia menangis tersedu, mengingat banyak hal yang pernah ia lakukan dan mungkin menyakitkan.

"Aku yang egois, Mbak. Aku. Aku yang meninggalkannya, dengan alasan aku ingin berubah lebih baik. Bukankah semestinya kami tetap bersama? Aku bilang aku ingin dia bahagia dengan Atika. Tapi bagaimana jika bahagianya adalah bersamaku? Ah, tidak, kami pernah mencoba dan gagal. Aku harus bagaimana, Mbak?"

Sari terdiam, tak bereaksi. Mendengar nama Atika, ia mengulum senyum. Ia tahu siapa mantan Ola.

No comments: