"Tidak, aku tidak mencintaimu, Lang. Aku hanya terbiasa dengan perhatianmu. Aku tak tahu apakah itu cinta ataukah sekedar ilusi,"
"Maksudnya?" Elang mengernyitkan alisnya. Memahami Ola memang susah, namun hal ini semestinya tak perlu lagi pemahaman. Ia dan Ola sudah saling mencintai.
"Aku tidak tahu apakah aku benar-benar mencintaimu. Ataukah aku hanya merindukan perhatianmu yang pernah ada. Mereka bilang tresno jalaran soko kulino. Cinta datang karena terbiasa. Dan yang terjadi sekarang sepertinya ini. Aku tak mencintaimu. Aku hanya bahagia mendapat perhatian darimu, seperti dulu. Selebihnya, tidak."
"Tunggu dulu, La," Elang menarik tangan Ola.
"Tidak ada yang perlu ditunggu. Kau kembali saja padanya. Kita tak cocok. Kau takkan pernah tahan dengan omelanku, dan akhirnya kita akan bertengkar seperti yang sudah-sudah. Dan kau akan menyesali semuanya, dan kita akan terpekur terdiam menyesali kebodohan ini. Ya kan?"
"Kau tak lagi mencintaiku, La?"
"Tidak, Lang" dengan suara dikuatkan, Ola mengatakan itu sambil memandang mata Elang dengan tajam. Ia berusaha untuk menahan air matanya agar tak tumpah. Tekadnya sudah bulat. Ia tak kan menjadi yang ketiga di antara mereka.
"Jadi?"
"Jadi?"
"Kita putus lagi?"
"Memangnya kita jadian?" mata bulat Ola seolah menanti jawaban.
----
Elang terkejut dengan kalimat terakhir dari Ola. Ia terbangun, berkeringat dingin, nafasnya tersengal-sengal. Haus. Mimpi buruk.
Diambilnya handphonenya, dikirimkannya pesan ke Ola,
Hey, I dream about you. I miss you.
sent.
Untung hanya mimpi. Atika masih terpejam. Dihapusnya pesan terakhir yang terkirim ke Ola. Berharap Atika tak kan pernah menemukannya. Tapi Atika tahu, instingnya sebagai istri mengatakan ada hal yang tidak sama dengan Elang, hanya saja ia belum bisa mengatakan apa-apa.
Tak ada pesan masuk dari Ola.
Ah, Ola, seandainya kau tahu, I am still yours. Aku lega itu semua hanya mimpi.
---
Sementara itu, di Yogya, Ola menerima pesan dari Elang. Dibacanya, tersungging senyum di bibir merah mudanya, tapi tak berani ia membalasnya. Mereka telah berjanji untuk saling melupakan. Memberi ruang untuk berpikir tentang kelanjutan hubungan.
Diambilnya diarynya, ditulisnya dengan tinta biru. Ola duduk dan menulis diary di atas kasurnya.
Elang, aku sudah tak lagi tahu apa itu cinta. Apakah menginginkanmu artinya cinta? Ataukah sebatas nafsu yang mesti kuperangi. Psikologku bilang, bisa jadi aku tak mencintaimu. Bisa jadi aku hanya mencintai apa yang kau berikan untukku, perhatianmu, obrolan-obrolan kita, hal-hal yang tak bisa kudapatkan dari orang lain, bahkan orang tuaku sendiri. Kau tahu betapa aku lemah jika kau beri perhatian. Aku tak pernah merasa begitu dicintai dan diinginkan sebelumnya, tak ada yang seperti caramu. Dan ternyata, aku lebih suka caramu. Maka aku perlu mencari dalam diri. Apa yang sebenarnya aku inginkan? Bersamamukah? Atau bersama orang lain yang mampu memberikan rasa dan pengalaman yang sama seperti saat aku bersamamu?
Tiap kali aku berpikir tentang Atika, aku tak tahan untuk mengutuk diriku sendiri. Telah bersalah menjadi orang ketiga di antara kalian. Tapi ada juga bagian dari hatiku yang berontak dan ingin tetap bersamamu. Ah, kau begitu indah untuk kuabaikan. Pesonamu begitu menyilaukan, hingga tak tampak apapun selainmu.
Tapi aku tetap tak bisa bersamamu, kau ada dia. Aku siapa? Bisa jadi aku tak sesabar dia. Ah, biarkan rinduku menggunung hingga akan ada masanya ia hancur luluh karena seseorang yang lain akan menghancurkan rinduku padamu. Semoga.
No comments:
Post a Comment