"Apa pentingnya buat Mbak Ola kalau mantan rindu atau tidak?"
"Aku merasa dibutuhkan, merasa diinginkan. It feels good, kurasa,"
"OK, lanjutkan," Sari senyum
"Aku rasa aku suka caranya memperlihatkan padaku bahwa dia rindu. Aku suka caranya mengungkapkannya."
"Caranya?"
"Iya, cara dia mengungkapkan lewat tulisan, lewat pandangan matanya. Aku merasa dicintai,"
"Baik," nada suara Sari yang lembut membuat Ola mengingat-ingat momen-momen kecil bersama Elang. Momen kecil yang tak terlupakan. Momen yang hanya bersama Elang ia mampu dapatkan kesan.
"Dan dia bisa membuatku tak ingin berpisah dengannya. Menghabiskan waktu dengannya tak pernah membosankan. Dia menarik secara fisik, secara kepribadian. He's all that,"
Diam sejenak, lalu kembali mengingat pertanyaan yang diberikan Sari, apa pentingnya kalau Elang rindu atau tidak padanya?
"Pernah dalam hidupku, dia tak penting. Perasaannya tak penting, permintaan maafnya tak penting, marahnya tak penting. Dan aku baik-baik saja. Tapi ketika kami bertemu kembali, ia kembali menjadi penting. Semuanya penting. Perasaannya penting, bahagianya penting, rindunya penting. Dan itu membingungkanku,"
"Aku suka dirindukan. Lebih tepatnya, aku suka saat dia merindukanku," Ola menatap jauh ke jendela ruangan Sari. Teringat aroma Elang yang sudah dia hafal betul. Black musk, itu kesukaannya.
---
"La, kau tahu that you're one in a million, right?" Elang menggenggam tangan Ola saat mereka berjalan menuju Pathe Amsterdam. Jalanan bebatuan dan ramainya orang membuat Elang mesti mendekatkan bibirnya ke telinga Ola agar Ola mendengarnya.
"Iya, aku tahu," Ola bergelayut manja ke Elang yang bidang. Memandang kekasihnya dan menyesap dalam-dalam aroma suasana.
"Aku serius. Believe me,"
"I believe you,"
...
No comments:
Post a Comment