"Aku mungkin sudah tak penting baginya. Kami mesti berpisah dan bergerak masing-masing. Aku kadang bimbang, pikiran tentangnya seringkali menggelayuti pikiranku. Apakah dia baik-baik saja, apakah dia bahagia, apakah dia sudah melupakanku. Padahal pikiran-pikiran itu justru membelengguku. Jika ku tidak memikirkannya, bersikap masa bodoh dan membiarkannya, aku baik-baik saja. Toh selama 10 tahun ini begini adanya. Dia sudah dewasa, ya kan? Lambat laun kenangan bersamaku akan pudar. Toh dia sudah mempunyai seseorang yang akan selalu bersamanya. Apalah arti diriku?"
"Apakah arti diri Mbak Ola ditentukan dari bagaimana mantan memperlakukan Mbak Ola?"
"Ya dan tidak"
"Maksudku, ya, dia membuatku merasa istimewa, perasaan ini menyenangkan dan belum pernah kudapati orang semerayu ini."
"Lanjutkan,"
"Tidak karena tanpanyapun aku baik-baik saja,"
Perbincangan Ola dan Sari seperti obrolan biasa. Sari justru banyak mendengarkan dan bertanya sesekali. Meski jawaban-jawaban Ola panjang, Sari tetap tersenyum dan mendengarkan dengan seksama.
Sore itu, jadwal ke sekian kalinya pertemuan mereka. Ola sudah lebih terbuka, ia tak lagi takut dicap bodoh atau semacamnya.
"OK, yang bisa saya tangkap dari penjelasan Mbak Ola tadi, Mbak Ola suka bahwa mantan sedikit bergantung, dalam tanda kutip, pada Mbak Ola?"
Raut muka Ola berubah. Deg!
Sari membiarkan perubahan raut muka itu dan diamnya Ola sebagai waktu untuk berpikir.
"Bergantung bagaimana maksudnya?" Ola tak terlalu paham arah pertanyaan ini.
"Bergantung dalam arti kata ia berharap, menunggu Mbak Ola,"
"Tidak. Tidak seperti itu,"
"Lalu seperti apa, tolong jelaskan agar saya dapat lebih memahami,"
Pertanyaan ini berhasil membuat Ola berpikir dalam, mengenang memorinya bersama Elang yang tampak jelas. Elang yang dewasa tapi kekanak-kanakan, Elang yang manja, Elang yang merajuk, Elang yang lemah, Elang yang keras kepala, Elang lagi Elang lagi...
"Aku tak tahu..." suara Ola lemah menjawab...
"Apa bedanya buat Mbak Ola saat tahu mantan sudah tidak lagi rindu Mbak Ola?" suara Sari seolah membangunkan Ola dari sekejap hening pikirannya.
"Apa bedanya?" Dahi Ola berkerenyit... ya, apa bedanya ya?
Pertanyaan terakhir ini makin membuat Ola berpikir. Iya ya, apa yang telah diberikan Elang pada perasaannya, yang tidak dapat diberikan orang lain padanya? Rasa dibutuhkan? Rasa iba? Rasa ingin menguatkan? Rasa ingin membantu? Rasa apa? Dan kenapa hanya pada Elang? Apa karena Elang menunjukkan ke-vulnerabillity-nya? Apa karena Elang mampu menunjukkan kekuatan dan kelemahannya? Kenapa?
Tanda tanya besar di kepala Ola. Sari sang psikolog mampu menggali apa yang selama ini Ola tak pernah sanggup pikirkan sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan membuka jawaban akan Elang dan jawaban akan dirinya...
No comments:
Post a Comment