Monday, October 22, 2018

A & E (102)

"Lang, sampai kapan kau akan mengurung diri di kamar seperti ini?" Wisnu masuk ke kamar apartemen Elang yang gelap. Ia membuka gorden dan membiarkan cahaya matahari memberi jalan masuk. Membuka pintu balkon, dan sekejap udara pengap di kamar itu berhamburan keluar dengan oksigen segar dari rimbunnya pepohonan di halaman belakang.

Mata Elang memicing sedikit, Wisnu memang punya kunci kamarnya yang dulu diberikan pada Ola. Tapi ia tak menyangka Wisnu akan datang pagi ini.

"Apa sih Nu?" Elang menarik lagi selimutnya. Membetulkan posisi tidur dan menepuk-nepuk bantalnya.

"Kau ini. Sudah berapa hari kau tak buka jendela? Kamar pengap begini kau masih asik saja tidur," Wisnu pecinta kebersihan dan kerapihan. Ia tak bisa tahan melihat sink kotor setelah ia masak. Ya, di Belanda semua pria dewasa mesti turun ke dapur. Malahan salah satu daya tarik pria adalah ketika ia bisa masak enak dan menyuguhkan untuk kekasihnya. Wisnu biasanya hanya memakan sendiri hasil masakannya. Ia picky soal perempuan. Tak banyak yang bisa mendekatinya. Setelah kepergian Yasmin beberapa tahun lalu, tak ingin ia menyakiti hati perempuan yang belum akan dinikahinya. Ia tahu perihnya hati saat ditinggal pergi, maka ia bersimpati pada Elang.

"Buat apa kau habiskan waktumu untuk tidur, nonton anime, nonton bola, berdiam saja di kamar?" Wisnu melihat sekeliling kamar Elang yang berantakan. Bekas makan di mana-mana. Meja berantakan dan berdebu.

Elang tak menjawab. Ia malah membalikkan badannya membelakangi ruangan dan menarik lebih tinggi selimutnya hingga menutupi kepalanya.

"Ckckckck. Patah hati begini-begini amat ya. Ola, ola, salahmu nih!" kata Wisnu ke angin kosong. Wisnu membasahi tangannya dengan air dari wastafel kamar mandi Elang, memercikannya ke selimut Elang.

"Bangun hey! Jangan jadi banci! Bangun!"

"Apa Nu? Biarkan aku!"

"Bangun!"

"Ogah!"

"Bangun nggak?" Wisnu setengah mengancam. Menarik selimut Elang dan melemparkannya ke pojokan ruangan. Elang terganggu dan ia refleks menghantam Wisnu. Wisnu membalas hantaman Elang dan mereka beradu pukul. Elang menghantam sambil berteriak,

"Damn you, La! Damn! Damn!"

Wisnu meladeni pukulan sahabatnya. Ia miris melihat kondisi Elang dua bulan terakhir. Tak bersemangat. Untung saja dia tidak memutuskan gantung diri.

Wisnu mengelak, tertawa, dan mengunci kepala sahabatnya.

"Ih jijik, lepaskan aku!" Elang berontak

"Hahaha, makanya jangan sebut-sebut Ola. Bangun sana," Wisnu melepaskan kuncian ala-ala WWMnya.

"Hidup kadang tak adil. Kau begitu mencintai seseorang dan ia tampak mencintaimu. Tapi ia tega meninggalkanmu. Yasmin juga begitu. Sudahlah. Kita ini pria kesepian, tapi bukan tidak laku. Move your damn ass and get out of here!" ujar Wisnu.

"Yeah, I am gonna take that damn shower,"

"Good. I am outtie,"

"Move!"

Wisnu pergi dan menutup pintu apartemen Elang. Meninggalkan Elang dengan cintanya. Terdengar teriakan penuh amarah saat Wisnu berjalan menuju liat.  "f** you, La! F**k you!!!!"

No comments: