Aku rindu Elang dan menghabiskan waktu dengannya.
Aku rindu Elang dan berjalan bersamanya.
Aku rindu Elang dan berbincang dengannya.
Aku rindu Elang dan ingin memilikinya.
Aku rindu Elang tapi sayang ia sudah ada yang punya...
--
Ola menulis kalimat-kalimat itu di buku diary pink dengan kunci ala-ala anak SD. Saran dari Sari, psikolognya, Ola mesti menumpahkan perasaannya dengan menuliskannya dengan tangan di secarik kertas.
--
Ola menulis kalimat-kalimat itu di buku diary pink dengan kunci ala-ala anak SD. Saran dari Sari, psikolognya, Ola mesti menumpahkan perasaannya dengan menuliskannya dengan tangan di secarik kertas.
"Menulis bisa melepaskan stress lho, Mbak Ola," ucapnya dengan logat Jawa khas Yogyakarta di suatu sesi pertemuan mereka.
"Energi rindunya Mbak Ola diubah menjadi energi untuk mengerjakan hal lain, sibuk dengan hal-hal yang tidak mengingatkan Mbak Ola sama mantan. Seperti hukum kekekalan energi, energi tidak dapat dimusnahkan maupun diciptakan. Energi hanya berubah bentuk."
Ola mengangguk. Ia teringat ia tak banyak kesibukan selama di Yogya. Maria sibuk mencari penyedia layanan untuk membuka cafe mereka. Sementara Ola hanya menghabiskan waktu berkunjung dari cafe ke cafe, memeriksa interiornya, cek harga dan menu, dan kuliner makanan-makanan enak, seperti Gelato halal yang ada di Prawirotaman.
Pistachio, mint dan stroberi cheesecake; tiga rasa yang tidak pernah bosan dibuatnya. Sama seperti Elang. Menarik, nyaman, dan menyenangkan. Ah, lagi-lagi Elang.
Biasanya Elang akan menghubunginya di malam hari, sekedar menanyakan cerita apa hari ini, lalu mengucapkan selamat malam. Mereka mempunyai ritual hitung mundur untuk mengucap "dagh". Bukan bye. Karena Ola benci goodbyes.
Elang, kenapa kau menumbuhkan rasa yang dulu sudah mati?
Menghidupkan angan yang sudah terkubur lama
Melukis mimpi di kanvas putih milikku
Dan kini saat kau pergi, tinggallah aku dengan rasa rindu hadirmu
Kau bagi ice cream yang meleleh terkena sinar mentari
Kau meninggalkan jejak di hati dan hidupku
Jejak yang mungkinkah akan tersapu?
Elang, aku rindu...
"Energi rindunya Mbak Ola diubah menjadi energi untuk mengerjakan hal lain, sibuk dengan hal-hal yang tidak mengingatkan Mbak Ola sama mantan. Seperti hukum kekekalan energi, energi tidak dapat dimusnahkan maupun diciptakan. Energi hanya berubah bentuk."
Ola mengangguk. Ia teringat ia tak banyak kesibukan selama di Yogya. Maria sibuk mencari penyedia layanan untuk membuka cafe mereka. Sementara Ola hanya menghabiskan waktu berkunjung dari cafe ke cafe, memeriksa interiornya, cek harga dan menu, dan kuliner makanan-makanan enak, seperti Gelato halal yang ada di Prawirotaman.
Pistachio, mint dan stroberi cheesecake; tiga rasa yang tidak pernah bosan dibuatnya. Sama seperti Elang. Menarik, nyaman, dan menyenangkan. Ah, lagi-lagi Elang.
Biasanya Elang akan menghubunginya di malam hari, sekedar menanyakan cerita apa hari ini, lalu mengucapkan selamat malam. Mereka mempunyai ritual hitung mundur untuk mengucap "dagh". Bukan bye. Karena Ola benci goodbyes.
Elang, kenapa kau menumbuhkan rasa yang dulu sudah mati?
Menghidupkan angan yang sudah terkubur lama
Melukis mimpi di kanvas putih milikku
Dan kini saat kau pergi, tinggallah aku dengan rasa rindu hadirmu
Kau bagi ice cream yang meleleh terkena sinar mentari
Kau meninggalkan jejak di hati dan hidupku
Jejak yang mungkinkah akan tersapu?
Elang, aku rindu...
No comments:
Post a Comment