"Silakan duduk, Mbak. Dengan Mbak siapa?" tanya perempuan berkerudung kuning terang itu ramah. Rok batik yang dikenakannya menjadikan ruangan konsultasi itu tampak lebih berwarna. Vas bunga berisi geranium kuning pun bertengger manis di meja kotak di pojokan ruangan. Lampu cantik yang menggantung di atas menunjukkan si empunya punya taste design yang lumayan. Mungkin ia sering membaca majalah interior.
"Saya Aurora, Mbak. Biasa dipanggil Ola." Ola membetulkan letak duduknya di sofa coklat bermodel klasik.
"Jadi, atas keperluan apa Mbak Ola ke mari?"
"Saya ingin diterapi, Mbak. Atau diapakan ya baiknya?"
"Memang Mbak Ola ada apa? Kok ingin diterapi?"
"Ya, Mbak. Saya ingin melupakan mantan saya..." Ola terdiam. Bayangan Elang berkelebat di pikirannya. Ia menarik nafas panjang. Elang, yang semalam menghabiskan waktu dengannya untuk melepas kepergian Ola ke Kota Gudeg ini.
Mbak psikolog itu tersenyum. Melihat perubahan gesture dari tarikan nafas Ola yang berbeda. Ia menangkap beratnya beban yang sedang ditanggungnya.
"Oh ya, baik. Mbak Ola tahu saya dapat informasi dari siapa?"
"Kawan baik saya," Ia tak ingin menyebut nama Elang Mahardika. Mbak psikolog ini kawan Elang. Ola menceritakan niatnya untuk terbebas dari bayangan Elang agar ia mampu hidup normal lagi. Elang tak bisa membantunya. Ia lalu memberikan referensi kawannya ini agar dihubungi Ola.
"Baiklah. Mbak Ola pernah ke psikolog sebelumnya?"
"Belum. Ini yang pertama,"
"Kita akan ngobrol-ngobrol aja, Mbak."
"Apakah saya akan dihipnotis?"
"Saya tidak menggunakan metode hypnotherapy, jika itu yang dimaksud Mbak Ola. Saya lebih pada mengajak berbincang dalam keadaan sadar dan rileks."
"OK. Jadi kapan kita akan mulai?"
"Kita bisa mulai sekarang, jika Mbak Ola berkenan," suara Sari, mbak psikolog begitu lembut dan tenang.
"Iya. Saya berkenan,"
"Panggil saya Sari aja ya Mbak,"
"Iya, Sari,"
Dan pertemanannya dengan Saripun dimulai. Maria, yang sibuk menyiapkan keperluan cafe mereka, kadang kala menanyakan bagaimana perkembangan Ola setelah bertemu Sari. Sari, tidak banyak bercerita. Ia lebih banyak mendengar.
"Jadi, kenapa Mbak Ola ingin melupakan mantan?"
"Dia sudah menikah. Saya baru tahu beberapa waktu lalu setelah kami berjumpa lagi. Saya kira dia masih single. Saya tidak pernah menanyakannya. Tapi saat saya tahu dia sudah menikah, hancur sudah hidup saya,"
"Tidak, tidak hancur. Ini buktinya Mbak Ola masih bisa ke mari dan bersedia berbagi,"
"Saya tidak bisa melupakannya, saya ingin melupakannya. Saya lelah dengannya, Sari," kedua mata Ola berkaca-kaca. Ia tak mampu mengendalikan lagi jika air matanya tumpah ruah di ruangan itu.
"Lanjutkan Mbak Ola, saya setia mendengarkan,"
"I am tired of loving him. I am tired of wanting him. Bertemu dengannya begitu melenakan, begitu mengasikkan, namun setelahnya akan ada penyesalan. Saya malu dengan diri saya. Saya malu dengan apa yang saya lakukan. Saya takut saya mati saat saya belum bertaubat,"
Sari mengulurkan tisue ke tangan Ola, seraya tersenyum dan mengangguk. Ola mengambil tisue itu dan menyekakannya di kedua pipinya yang memerah.
"Saya pernah berpacaran dengannya saat saya dulu masih kuliah. Kami melakukan hal layaknya orang berpacaran. Dan itu seperti mengikat saya. Tidak ada lagi yang bisa menggantikan dia di hati saya. Beberapa orang saya tolak, tidak ada yang seperti dia. Lalu kami bertemu tidak sengaja di KRL saat saya ke Jakarta. Awalnya saya tak sadar itu dia. Tapi saat gerbong mulai berkurang kepadatannya, dia menghampiri saya dan menyapa. Sejak itu, dunia saya indah kembali. Dia tidak mengenakan cincin kawin. Mana saya tahu dia sudah menikah?" Ola tersedu.
"Harapan saya sudah tumbuh, terpupuk, dan saya ingin memetiknya. Tapi kini, semua tidak mungkin lagi. Dia sudah menikah. Ya Allah, karma apa yang sedang saya tanggung?"
Hening. Hanya terdengar suara detak jam dinding putih yang menghiasi ruangan itu, dan suara isakan Ola.
"Saya ingin bebas darinya. Saya ingin melepaskannya dengan bahagia. Saya sudah berusaha sebisa mungkin untuk menahan diri untuk tidak menghubunginya. Tapi dia, ya Allah, ampuni hamba.. Saya mencintainya, seperti saya tak pernah mencintai orang lain sebesar ini. Saya ingin dia untuk saya. Kami putus karena saya dulu ingin belajar agama Islam, sedangkan dia tidak. Dia masih tidak sholat. Dan sekarang, dia sholat persis setelah adzan. Dan perhatiannya, dia begitu lembut dan membuat saya merasa istimewa. Saya tak pernah diistimewakan seperti cara dia membuat saya merasa nyaman. Dia mendengarkan keluh kesah saya, apapun itu. Dia begitu sabar, walau kadang kami beradu argumen, tapi dia akan selalu mengalah untuk saya. Tapi saya menyia-nyiakan itu semua. Saya meninggalkannya. Ini karma saya,"
Ruangan itu terasa makin lengang. Sari memandang pasiennya kali ini. Tampak cerdas dan berpendidikan. Tapi cinta, kadang memang tak kenal logika...
No comments:
Post a Comment