Pernah memperhatikan lirik lagu Adele: When we were young? Salah satu baris di lirik itu, begini bunyinya:
"You look like a movie, you sound like a song, when we were young."
Asli, ketika aku dengar lirik ini, aku kayak yang “Oh ya gitu? Masa sih?”
Sampai akhirnya, di suatu waktu di tahun 2016-an, aku penasaran dengan suatu info kelas yang kalau ga salah judulnya “Menjadi Motivator untuk Diri Sendiri”, pematerinya namanya Teddi Prasetya Yuliawan. Tentu aku penasaran, emangnya bisa ya jadi motivator buat diri sendiri? Gimana caranya? Akhirnya aku ikut kelas itu, dan di situlah dijelaskan tentang Submodality di NLP.
Jadi gini penjelasannya, menurut pemahamanku.
Manusia punya pikiran, ya kan? Dan di pikiran ini tersimpan banyak hal yang sudah pernah kita alami, yah, kenangan gitulah. Dan kenangan-kenangan ini kita dapat dari pengalaman. Misal, sudah pernah makan durian, maka ada kenangan tentang durian. Tekstur buahnya, aroma wanginya, kelembutan daging buahnya saat lumer di mulut, pun saat-saat kapan kita makan durian. Misal pernah makan durian rame-rame bersama keluarga, maka kenangan itu muncul di pikiran kita. Berupa apa?
Nah, sama dengan yang dibilang di lagunya Adele tadi. Rekaman kenangan seperti film yang terputar kembali. Terbayang suasana saat makan durian, misal malam hari di pinggir jalan bersama orang tua, mungkin terbayang bajunya, keadaan lalu lintas yang sedikit ramai, gelak tawa, mungkin ada hawa dingin yang terasa karena saat itu malam hari? Ini dari segi visual (penglihatan), auditory (pendengaran), dan kinestetik.
Sedangkan dari rasa yang kita cicip, bisa seolah terasa manis dan lumernya durian di mulut. Mungkin juga ada durian yang rasanya hambar, yang penampakannya kayaknya manis, tapi ternyata zonk. Coba dipikirkan lagi, pada saat kita memegang buah duriannya, kemudian rasanya manis, apakah kita mengingat bentuk dan warnanya? Sedangkan pada saat yang makan yang durian rasa hambar, apakah kita mengingat bentuk dan warnanya? Di bagian lidah mana rasa manis itu terasa? Di bagian lidah mana rasa hambar itu terasa? Apakah ada aroma tertentu tercium di ujung hidung? Ini dari segi olfactory.
Pertanyaan saya, apakah duriannya ada di depan mata?
Ga ada, kan? Kecuali Anda sedang makan durian sekarang, hehehe. Itulah keajaiban kesempurnaan ciptaan Allah. Kita bisa seolah merasakan kembali suatu kejadian, hanya dengan mengingatnya. Dan seluruh panca indera kita yang tidak merasakan buah durian, bisa seolah merasakannya. Itulah yang dinamakan submodality.
Jadi terbukti apa yang ditulis di liriknya lagu Adele, ya. Seseorang bisa tampak seperti film, atau terdengar seperti lagu; ketika orang tersebut menempati slot memori di pikiran kita.
“Wah, terus gimana caranya move on?”
Ternyata move on juga bisa menggunakan submodality, lho. Dengan mengutak-atik kenangan. Misalkan nih, ada kenangan yang ingin dilupakan, maka perkecil saja gambarnya, jauhkan gambarnya. Move on itu terjadi ketika gambar kenangan bersama si dia menjadi kecil dan jauh, menjadi tidak signifikan. Tapi ketika kenangan itu masih tampak jelas, berwarna, dekat, suaranya masih jelas; wah, bisa dipastikan belum bisa move on.
“Terus, cara jadi motivator buat diri sendiri, gimana?”
Salah satu caranya adalah dengan mengutak-atik gambaran yang ada di pikiran kita, suara yang ada di pikiran kita. Misal, ada hal yang enggan dikerjakan, misal menulis catatan pengetahuan; maka coba pejamkan mata, dan lihatlah di pikiran itu, apakah kegiatan tersebut tampak berwarna cerah atau hitam putih? Jika ia masih hitam putih, coba beri warna pada kegiatan itu. Jika ia masih jauh, coba dekatkan. Dekatkan seperti kenangan yang belum bisa di move-on kan tadi. Bisa? Bisa jadi ini tidak hanya satu kali jalan, ya. Bisa jadi ini beberapa kali perlu dilakukan, dan it’s okay aja.
Karena tindakan kita dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan kita, maka jika kita ingin tindakan kita berbeda; yang perlu diutak-atik adalah pikiran dan perasaan kita. Next kita insyaAllah bahas lanjutannya, ya.
#artikel2
#submodalitypart1
No comments:
Post a Comment