Aku masih di beberapa halaman awal dari buku ini. Awalnya aku tak ingin membeli buku ini. Dua pekan lalu, saat kunjungan kami ke toko buku, karena anakku ingin buku novel, aku memutuskan untuk membeli buku tentang biarkan orang tidak menyukai kita, atau apalah gitu. Ditulis oleh 2 penulis bernama seperti berkebangsaan Jepang. Di menit terakhir, sebelum ke kasir, aku meletakkan buku tipis itu, dan justru mengambil buku oranye bertuliskan nama: Daniel Goleman. Nama yang sudah tak asing lagi di telingaku, tapi aku belum pernah baca karyanya.
Sub judulnya begitu menarik: Buku Menggemparkan yang Mendefinisikan Ulang Apa Arti Cerdas. Mengapa EI Lebih Penting daripada EQ.
—-
Ada banyak alasan orang membeli buku: penasaran, ikutan yang lagi ngetrend, ingin menjawab pertanyaan, ingin antimainstream, ingin dikira pintar, ingin menambah koleksi di rak, ingin menbuat orang lain terpesona, dan seterusnya. Apapun alasanmu, ketika kamu memutuskan untuk beli buku ori, entah itu baru atau bekas, kamu semakin dekat dengan dirimu. Kamu mempunyai ruang hening di mana kamu bisa sibuk dengan pemikiranmu, dan berhenti sejenak dari pemikiran orang lain. Kamu akan punya waktu menajamkan intuisi, mengasah kecerdasan emosi, dan diam-diam, menambah koneksi dari saraf-sarafmu. Membaca akan membuatmu lebih percaya diri, dan membaca akan menjadikanmu sebagai salah satu pembelajar, di antara miliaran pembelajar lainnya.
—-
Maka, kutuliskan lagi di sini apa yang ada di otakku, semata-mata karena aku enggak menyalakan laptop dan mengetik di depan layarnya. Kenapa bukan juga di sosmed? Karena di sana terlalu riuh, aku tak bisa menyendiri dan mengenali pemikiranku sendiri.
Aku rindu aku yang ini.
No comments:
Post a Comment