Wednesday, September 16, 2026

Gaya Kepemimpinan ke Orang Lain Diawali dengan Self Leadership

Aku pernah kerja di beberapa tempat, dan mengamati bagaimana bosnya bekerja. Gender bosnya sama, perempuan; tapi yang betul-betul beda, gaya kepemimpinannya. 

Sebut saja bos A, B, C, dan D. 
A dan C setipe, sama-sama kurang bisa mengendalikan emosi, dan apa yang di depan bisa beda dengan apa yang di belakang. Bisnisnya, ya milik sendiri, lumayanlah. Bekerja dengan orang yang seperti ini, menguras energi, karena jadinya apa yang kutampilkan adalah ketawa karir. Ketika pulang sampai rumah, exhausted, karena energinya udah drain banget. Batere sosialku udah habis bis. Akhirnya, mungkin menurut beliau-beliau ini, aku kurang perform. Karena beliau-beliau punya kesamaan, bisa ngechat jam berapapun, sebangunnnya, setidurnya. Dan aku, yang merasa perlu adanya work life balance, ya udah, ntar aja kureply, ketika aku sudah punya energi untuk itu. Intinya, gaya kerja kami, gak match. 

Bos B, seorang profesional, yang amat beda leadershipnya. Dia lebih bisa bertanggung jawab atas kesalahan anak buahnya, dan tidak mudah ngamuk. Mostly, bisa menyampaikan apa yang dirasa. Membuatku merasa aman untuk menyampaikan pendapatku, meskipun itu artinya akan mengoreksinya. 

Bos D, seorang owner, yang amat mencintai bisnisnya seperti bagaimana ia mencintai anaknya. Bukti bahwa dengan ketekunan dan ketelatenan, bisnis sekecil apapun bisa berkembang. Aku salut banget sama bos D ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, bisa menjadikan bisnis personalnya jadi bisnis keluarga. Selain aktif di bisnis beliau ini, beliau juga orang yang aktif di perkumpulan, dan masih melanjutkan pendidikannya. Jadi untuk energi, beliau ini sangat amat aku saluti. 

Lalu, apa yang menurutku pembeda seperti yang tadi kutulis adalah: gaya kepemimpinan: 
Menurut Daniel Goleman, yang aku ambil dari Claude. 

1. Coercive/Commanding — "Do what I tell you." Cocok untuk krisis atau situasi darurat, tapi kalau dipakai terus-menerus merusak iklim kerja.

2. Authoritative/Visionary — "Come with me." Pemimpin memberi arah jelas tapi membiarkan cara pencapaiannya fleksibel. Paling positif untuk iklim tim, terutama saat organisasi butuh arah baru.

3. Affiliative — "People come first." Fokus membangun ikatan emosional dan harmoni. Baik untuk memperbaiki keretakan tim atau memberi dukungan saat masa sulit, tapi kurang cocok bila dipakai sendirian karena bisa menghindari feedback korektif.

4. Democratic — "What do you think?" Membangun konsensus lewat partisipasi. Efektif saat butuh masukan tim atau ketika pemimpin sendiri kurang yakin arah terbaik, tapi lambat untuk situasi mendesak.

5. Pacesetting — "Do as I do, now." Menetapkan standar tinggi dan memimpin lewat contoh. Bisa memacu tim berprestasi, tapi berisiko membuat anggota tim kewalahan dan burnout kalau berlebihan.

6. Coaching — "Try this." Mengembangkan orang untuk masa depan, fokus pada potensi jangka panjang individu, meski butuh waktu paling lama untuk terlihat hasilnya.

Temuan intinya: pemimpin paling efektif tidak terpaku satu gaya — mereka fasih di beberapa gaya sekaligus dan berpindah sesuai kebutuhan situasi, layaknya pegolf yang memilih stik sesuai kondisi (analogi yang dipakai Goleman sendiri).

-------

Cerita tentang mantan bos-bos saya itu cuma ilustrasi ya. Mungkin ternyata, aku lebih cocok dengan bos yang gaya kepemimpinannya campuran antara beberapa tipe. Kamu bisa jadi beda denganku. Dan itu fine-fine aja. 

Intinya, dalam memimpin perlu adanya fleksibilitas. Menyesuaikan gaya dengan kondisi yang dihadapi. Menjadi fleksibel ini tentu tidak bisa serta merta langsung. Perlu dipelajari. Karena tantangannya: sebelum bisa memimpin orang lain, tiap orang perlu mengenali diri sendiri, dan memimpin dirinya sendiri. 

Tantangannya bisa jadi ada sesuatu yang belum kelar di dirinya sendiri, di keluarganya, atau di rumah tangganya. 

Di buku Emotional Intellegence yang sedang kubaca 1/3-nya, Daniel Goleman menuliskan bahwa ia bertemu dan ngobrol dengan pemilik teori Multiple Intellegences, Howard Gardner. Disampaikan Goleman, bahwa salah satu kecerdasan interpersonal yang dirumuskan oleh Howard Gardner, mungkin ada korelasinya dengan kecerdasan emosi. Walaupun di dalam rumusan Gardner, tidak dijelaskan lebih lanjut antara emosi & kecerdasan. 

Untuk melatih ke-fleksibel-an ini aku masih penasaran. Gimana caranya? OK, memang orang perlu melakukan self awareness, kemudian praktik self leadership. Tapi untuk fleksibel, gimana tepatnya caranya? Gimana melatih agar bisa fleksibel? 

Ada yang mau berpendapat? 





No comments: