1. Coercive/Commanding — "Do what I tell you." Cocok untuk krisis atau situasi darurat, tapi kalau dipakai terus-menerus merusak iklim kerja.
2. Authoritative/Visionary — "Come with me." Pemimpin memberi arah jelas tapi membiarkan cara pencapaiannya fleksibel. Paling positif untuk iklim tim, terutama saat organisasi butuh arah baru.
3. Affiliative — "People come first." Fokus membangun ikatan emosional dan harmoni. Baik untuk memperbaiki keretakan tim atau memberi dukungan saat masa sulit, tapi kurang cocok bila dipakai sendirian karena bisa menghindari feedback korektif.
4. Democratic — "What do you think?" Membangun konsensus lewat partisipasi. Efektif saat butuh masukan tim atau ketika pemimpin sendiri kurang yakin arah terbaik, tapi lambat untuk situasi mendesak.
5. Pacesetting — "Do as I do, now." Menetapkan standar tinggi dan memimpin lewat contoh. Bisa memacu tim berprestasi, tapi berisiko membuat anggota tim kewalahan dan burnout kalau berlebihan.
6. Coaching — "Try this." Mengembangkan orang untuk masa depan, fokus pada potensi jangka panjang individu, meski butuh waktu paling lama untuk terlihat hasilnya.
Temuan intinya: pemimpin paling efektif tidak terpaku satu gaya — mereka fasih di beberapa gaya sekaligus dan berpindah sesuai kebutuhan situasi, layaknya pegolf yang memilih stik sesuai kondisi (analogi yang dipakai Goleman sendiri).
-------
Cerita tentang mantan bos-bos saya itu cuma ilustrasi ya. Mungkin ternyata, aku lebih cocok dengan bos yang gaya kepemimpinannya campuran antara beberapa tipe. Kamu bisa jadi beda denganku. Dan itu fine-fine aja.
Intinya, dalam memimpin perlu adanya fleksibilitas. Menyesuaikan gaya dengan kondisi yang dihadapi. Menjadi fleksibel ini tentu tidak bisa serta merta langsung. Perlu dipelajari. Karena tantangannya: sebelum bisa memimpin orang lain, tiap orang perlu mengenali diri sendiri, dan memimpin dirinya sendiri.
Tantangannya bisa jadi ada sesuatu yang belum kelar di dirinya sendiri, di keluarganya, atau di rumah tangganya.
Di buku Emotional Intellegence yang sedang kubaca 1/3-nya, Daniel Goleman menuliskan bahwa ia bertemu dan ngobrol dengan pemilik teori Multiple Intellegences, Howard Gardner. Disampaikan Goleman, bahwa salah satu kecerdasan interpersonal yang dirumuskan oleh Howard Gardner, mungkin ada korelasinya dengan kecerdasan emosi. Walaupun di dalam rumusan Gardner, tidak dijelaskan lebih lanjut antara emosi & kecerdasan.
Untuk melatih ke-fleksibel-an ini aku masih penasaran. Gimana caranya? OK, memang orang perlu melakukan self awareness, kemudian praktik self leadership. Tapi untuk fleksibel, gimana tepatnya caranya? Gimana melatih agar bisa fleksibel?
Ada yang mau berpendapat?
No comments:
Post a Comment