Monday, October 15, 2018

A & E (91)

Egois kau, Lang!
Kau datang dan berharap aku masih menunggumu. Masih bodoh seperti kala itu. Apapun masalah yang kau hadapi dengannya, jadilah ksatria. Kau seorang imam bagi keluargamu, apa kau betul sudah jadi menuntunnya? Kau bilang dia begitu karena salahmu, kau bilang dia begitu karena kau belum optimal membimbingnya. Ingat Lang, kau memilihnya menjadi makmummu.

Tak ingatkah kau akan kesabarannya?
Tak ingatkah kau akan kelembutannya?
Ingat-ingatlah mengapa kau dulu menjatuhkan pilihanmu padanya.
Kau bilang dulu keluarganya tak mendukung kalian, masih ingatkah kau mengapa ia kau perjuangkan?

Cinta bukan hadiah dari kahyangan. Ia bagai mata pisau yang mesti kau asah. Seperti dulu kau menginginkannya, seperti itulah mestinya kau menjaganya.

Apapun perubahannya, dia makmummu juga. Kau berhak mengingatkannya. Kau berhak menegurnya. Kau mesti mengarahkannya. Jangan kau jadikan alasan "aku sudah tak sepaham", menjadi alasan perpisahan.

Apa yang kau cari dariku? Apa kau yakin kau akan lebih bahagia jika bersamaku? Bukankah ia yang memberikanmu bahagia saat kau kutinggalkan dulu? Kenanglah saat kesabarannya mendengar segala kisah sendumu. Kenanglah saat ia memasakkan makanan kesukaanmu. Kenanglah saat ia menatap lembut kedua matamu yang nanar karena menangisi kepergianku. Kenanglah kebaikannya saat ia meminta maaf padamu karena telah bertanya tentangku. Kenanglah marahmu ke dia karena ia terlalu sering bertanya "kau masih mencintai Ola?"

Cinta bukanlah tanaman plastik yang akan selalu sama rupanya. Cinta bagai bibit tanaman yang perlu kau rawat tumbuhnya. Kau ingat bagaimana ia sabar mengajakmu sholat? Ia mampu menyulapmu menjadi orang yang tak mampu kukenali lagi. Ia mampu mengeluarkan yang terbaik dari dirimu. Ia membuatmu berubah. Dia. Bukan aku.

Ingat-ingatlah semua itu. Lalu beranjaklah dari rindumu padaku.

No comments: