(repost dari FB saya :))
Menurut ilmu ekonomi, definisi pasar adalah tempat
bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi jual beli baik
barang maupun jasa. http://id.wikipedia.org/wiki/Pasar_%28ekonomi%29
Jika
kita perhatikan dengan ilmu sosial lebih dalam ke dalam kata: "tempat
bertemu", maka pasar bisa juga dikatakan sebagai rendezvous (http://www.merriam-webster.com/dictionary/rendezvous).
By
the way (btw), judulnya kok terkesan serem ya? Haha, biasa memakai
bahasa yang santai, ingin berlagak menulis bahasa formal ya jadi
kesannya agak kurang menjiwai tulisan. Ga papa lah ya, sebagai pemula,
yang penting saya nulis aja terus, biarkan mengalir seperti air sungai
jernih yang akan bermuara ke air terjun :D. Hehe.
Saya
ingin berbagi cerita tentang keengganan orang-orang tua di Belanda
untuk memakai fasilitas internet banking, dan lebih suka untuk mengantri
ke bank, bahkan jika itu hanya untuk memeriksa saldo. Wow. Dan itu
terjadi pada saat saya masih disana, jadi sekitar tahun 2003-2007, saat
itu mungkin Indonesia masih baru mengenai namanya Internet Banking ya?
Nah, di Belanda sana sudah mafhum namanya Internet Banking pada saat
itu. Karena angka penetrasi internet yang sangat tinggi disana, setiap
rumah sudah ditawari berbagai macam jenis layanan internet, mulai dari
jaman dulu konek telepon lalu nunggu nada "thet theettt theet theeeet"
dan super lamaaaaa uploadnya, sampai yang layanan cepat dan bisa di
share pake wifi.
Nah, salah satu teman saya
bekerja di sebuah bank di Belanda. Dia sering menanyai orang-orang tua
yang datang ke bank tersebut hanya untuk cek saldo, print buku, dan
kirim pake pos. Disana, dia bekerja di kota kecil, dan para petugas bank
hampir menghafal nama-nama klien mereka. Seakan-akan sudah akrab dan
jadi saudara. Begitu pula halnya yang terjadi di kantor pos,
(postkantoor), para petugas pos disana sudah hafal dengan nama-nama
pelanggan mereka, komunitas mereka. Mereka bahkan bisa menanyakan kabar
si A, si B, anak dan sanak famili dari pelanggan mereka. Pertanyaan
saya, kenapa?
1. Kenapa mereka bisa menghafal nama pelanggan mereka?
2. Kenapa para klien, pelanggan itu mau repot-repot datang untuk melakukan hal yang seharusnya bisa dikerjakan di rumah?
Hal itu terjawab dengan memahami beberapa fakta yang ada:
Di
Belanda, menikah bukanlah keharusan. Faktanya, orang-orang tua disana
banyak yang hidup sendiri. SENDIRI. HOME ALONE. Ada yang menikah, dan
anaknya sudah pergi dari rumah (kerja, pindah, dsb), atau yang memilih
untuk tidak menikah. Kebanyakan mereka untuk bersih-bersih dibantu oleh
tenaga kerja yang membantu membersihkan rumah mereka seminggu sekali.
Perlu
diingat, tenaga kerja ini tidak semuanya mempunyai kepribadian hangat
dan bisa nyambung kalau diajak ngobrol oleh si pemilik rumah, alhasil,
ada sebuah kebutuhan manusia yang tidak dapat dipenuhi dengan hidup
sendiri, yaitu....
INTERAKSI.
Ilmu
sosiologi sudah bilang, manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak
bisa berdiri sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Manusia membutuhkan
manusia-manusia lain. Dan hal itu tidak dapat digantikan oleh banyaknya
harta benda, tontonan DVD, atau games-games lain. Ada sebuah kebutuhan
interaksi sosial yang harus dipenuhi.
Dan kebutuhan ini kadang
kurang mampu dijawab oleh keluarganya sendiri, karena ya beberapa hal
tadi, masing-masing sudah sibuk dengan urusannya, dan tidak menyempatkan
waktu, atau bahkan karena memang memutuskan untuk hidup solitari, tidak
berpasangan hidup.
Pertanyaan pertama saya
terjawab dengan hasil pengamatan saya bahwa kebanyakan orang sana
bekerja di lingkungannya sendiri. Dan kalaupun mereka bukan berasal dari
lingkungan sana, seakan-akan diwajibkan untuk mengenal pelanggan secara
personal, mungkin memang bagian dari strategi marketing, but I think
it's a good thing to do :). Ini hal yang sangat mendasar, sangat
penting, kenapa orang memilih untuk pergi ke toko satu, dan tidak ke
toko lainnya. Mereka bahkan sudah hafal pesanan pelanggan tertentu,
misal si Pak A tidak suka roti gandum kering, Pak B sukanya selai
stroberi, dan hal-hal kecil seperti itu. They work in their community.
Hal ini mungkin yang coba diusahakan oleh pemerintah untuk mengurangi
kemacetan. Belanda punya "centrum", pasar, tempat berkumpul dalam tiap
beberapa blok rumah, mungkin seukuran RW kalau di Indonesia. Orang-orang
yang berjualan di Centrum ini kebanyakan dari orang situ juga,
jualannya pun bermacam-macam. Ada toko khusus bunga; khusus perlengkapan
rumah seperti palu, dsb; toko kue; toko makanan organik; supermarket;
dan sebagainya. Mungkin semacam ruko ya kalau di Indonesia.
Nah, kembali ke pertanyaan kedua saya yang tadi sudah terjawab dengan kata "interaksi".
Pasar
tradisional Indonesia juga menawarkan hal yang sama, sebuah interaksi.
Menyapa. Coba bandingkan dengan jika kita berbelanja di supermarket,
hypermarket, dan semacamnya, apakah mungkin kita melakukan hal-hal ini:
1.
Menyapa orang yang berdiri sebelah kita yang sama-sama bingung mencari
merk popok untuk bayinya? Lalu berdiskusi tentang popok bayi terbaik?
2. Menyapa penjaga kasir dan menanyakan bagaimana kabar keluarganya?
3. Mengobrol dengan penjaga makanan dengan akrab tanpa harus merasa terpaksa membeli dagangannya?
Jika tidak, maka kita sudah kehilangan satu hal dalam berbelanja,
INTERAKSI.
Padahal
itulah yang membuat orang lebih betah berbelanja, lebih lama mengobrol,
dan lebih tahu info-info terbaru tentang si A, si B, rumah mana yang
dijual, dan bermacam berita lainnya. Seperti serial detektif yang saya
suka baca karangan penulis Inggris, bernama Agatha Christie. Agatha
Christie menuliskan salah satu tokoh detektifnya adalah Miss Marple (http://en.wikipedia.org/wiki/Miss_Marple).
Seorang nenek-nenek biasa yang mendapatkan banyak informasi dengan cara
mengajak minum teh, berkunjung, padahal dengan cara itulah dia bisa
memecahkan berbagai kasus-kasus penting.
Kuncinya, INTERAKSI.
Yah, sepertinya saya mesti menyudahi tulisan saya ini, karena kayaknya kok sudah panjang sekali. Hehe.
Terima
kasih kepada Allah SWT yang telah memperjalankan saya ke Pasar Gagak
siang ini, dan mendapatkan hikmah yang luar biasa ini. Alhamdulillahi
robbil 'aalaamin.
No comments:
Post a Comment