PR yaitu
kependekan dari Public Relation, yang tugas-tugas sebenarnya saya
juga masih kurang paham, karena memang diluar ranah belajar saya.
Tapi secara garis besar sepengetahuan saya tugas PR itu ya
menjembatani hubungan antara perusahaan/klien yang diwakilinya dengan
masyarakat atau stakeholders terkait, sehingga semua hal yang
dilakukan oleh klien yang diwakilinya dapat diterima dengan baik
secara persepsi oleh stakeholders (dan memang baik). Mohon koreksi
bagi yang lebih paham ya.
Kenapa
judul posting kali ini saya membahas tentang PR? Karena saya melihat
begitu dominannya media nasional mainstream dalam memberitakan orang
tertentu, atau bahkan tidak memberitakan kejadian yang seharusnya
bisa dianggap penting. Entah karena apa, mungkin karena bujet liputan
atau memang tidak ada mandat liputan. Sedangkan mayoritas masyarakat
Indonesia ini lebih mengandalkan media mainstream untuk
informasi-informasi terkini. Namun ternyata, banyak liputan yang
'miss' tidak tercover, dan tidak terberitakan ke bagian Indonesia
yang lain karena media mainstream ini tidak menyiarkannya.
Contoh:
http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/14/01/11/mz7i5z-istri-gubernur-sumut-borong-kerajinan-pengungsi-sinabung
ini
ketika saya cari di kotak search google:
Istri
Gubernur Sinabung,
Yang
muncul semua hanyalah media online, tidak ada portal TV, eh apa
karena Google ratingnya kurang tinggi tentang kata kunci itu sehingga
kalah dengan Republika? Ataukah memang tidak ada beritanya? Yang saya
tahu sih di salah satu portal TV nasional, tidak ada liputan pada
tanggal 11 Januari tersebut. Tapi mungkin di portal berita yang lain
ada. Padahal ini berita positif dan walaupun kecil, tapi tentu ini
ada pihak yang sedikit bahagia dengan berita ini.
Kenapa
sih hal yang tampaknya sepele seperti ini saya tulis? Ya karena
banyak sekali tokoh-tokoh positif kita yang sangat kurang
pemberitaan. Jujur saja, masyarakat ini lebih banyak dijejeli oleh
berita-berita negatif / gosip-gosip infotainment, dibanding
berita-berita positif. Istilahnya, setiap berita kebanyakan kok ya
berita buruk. Disana banjir, disini longsor. Mana berita
positifnya????
Salah satu solusi yang terpikirkan oleh saya adalah masing-masing tokoh atau tokoh yang diwakili dari partai apapun, silakan mempunyai divisi PR atau Humas (Hubungan Kemasyarakatan/Masyarakat).
Salah
satu contoh saja adalah tentang wakil, entah apalah itu wakil
gubernur, atau wakil walikota, atau wakil apa saja yang jarang sekali
diliput apa saja kegiatannya. Padahal saya yakin beliau-beliau ini
tidak diam saja. Nah bagaimana supaya kegiatan beliau ini diliput? Ya
salah satunya punya / menjadi PR diri sendiri. Walau sepertinya
menjadi PR diri sendiri tentunya lebih repot karena akan mengharuskan
mengupdate kegiatan, kecuali jika yang mudah-mudah seperti twitter
atau status facebook. Cuma memang bagaimanapun perlu saat ini untuk
terus mengupdate pekerjaan tokoh / wakil rakyat kita ini. Masyarakat
perlu berita-berita positif.
Misalnya
dengan mempunyai website sendiri yang diurus kontennya oleh sebuah
tim, seperti salah satu partai yang aktif menyiarkan berita-berita
positif kegiatannya di website yang dibikin sendiri, karena memang
tidak disiarkan di media mainstream nasional :D. ini websitenya jika
ingin tahu : www.pkspiyungan.org.
Nah,
mungkin website ini bisa dicontoh untuk selalu diisi
kegiatan-kegiatan positif tentang kepartaian atau kegiatan para
tokoh-tokoh masyarakat sehingga para masyarakat ini tahu wakil-wakil
ini sedang apa, dimana :D.
Ya
begitulah kira-kira. Oh ya, PR ini bukan pencitraan ya. PR adalah
peliputan kegiatan, bukan sekedar pencitraan pepesan kosong. Sudah
capek lah kita ini dengar pepesan kosong, kami ingin yang bekerja,
tokoh-tokoh positif, sudah bosan kami dengan berita-berita
gosip-gosip infotainment.
No comments:
Post a Comment