"Maafkan dirimu. Walau ini lebih susah dibanding memaafkan orang lain. Terima kejadiannya. Ambil maknanya,"
"Jadi, aku mesti bagaimana menempatkannya?"
"Aku tak tahu apa yang pas buatmu, akupun juga sedang berjuang,"
"Tak ada lagi kita?"
"Berapa kali kita mesti memutuskan hal ini? Tak ada kita,"
"Lalu aku, kamu bagaimana?"
"Kecilkan gambarku. Hitam putihkan memori kita. Jika ada satu hal yang menjadi perjuanganmu, mungkin ini salah satunya,"
"Lalu aku bagaimana,"
"Kau akan baik-baik saja,"
"Jangan kau beri aku harapan. Putuskan untuk selamanya, tak perlu lagi ku tahu apa perasaanmu. Tak perlu lagi kutahu apa gundahmu,"
"Aku tak boleh menceritakannya?"
"Jika kau ingin kita benar-benar tiada, jangan. Aku tak butuh itu. Dia tak ingin tahu. Berhentilah mengenangku. Jangan kau ceritakan sedihmu,"
"Baiklah. Akan kucoba,"
"Jadikan ini yang terakhir, jika kau memang benar-benar ingin bersamanya. Aku ingin kau bahagia. Itu saja. Jika bahagiamu bersamanya, benar-benar tulus padanya, aku rela. Tapi jika bersamanya kau tak bahagia, masih mengenangku, kau sama artinya masih mengikatku,"
"Lalu?"
"Jika itu terjadi, aku tak tahu akan bagaimana menghadapinya."
"Aku ingin menjadi orang yang utuh. Tak berpura-pura di depan Atika. Aku ingin mencintainya seperti aku mencintaimu,"
"Walau aku bukan dia?"
"Walau dia bukan kau,"
"Aku lelah."
"Iya, aku juga sama. Hidup di dua dunia bagai menjadi dua orang yang beda."
"Tapi aku akan masih mencintaimu,"
"Hentikan. You know how I hate goodbyes, dan kalimatmu justru menahanku pergi,"
"What should I say, La?"
"It's over. Say it. Mean it. And I will walk away peacefully,"
"It's over, La. You me, no more."
No comments:
Post a Comment