Laman

Tuesday, January 28, 2014

Toleransi, Debat Caleg, dan Stereotyping

Debat Caleg Adu Visi : Toleransi
Link ini saya dapatkan sore ini dari salah satu postingan Facebook teman. Penasaran nonton, karena katanya Caleg dari PKS dapat presentase paling tinggi menurut polling sms. Hehe. Wah, ini saya bakal di protes lagi sama Mas Beny Yusron karena lagi-lagi telat posting dibanding dia. Haha. Tapi ga apa-apa lah ya, saya mau membahas di sisi yang beda, walaupun nyerempet-nyerempet dikit.

Judul postingan saya ini kenapa ada kata toleransi, karena pas banget dengan postingan salah satu teman Facebook +Sita Gryhastin yang merekam dalam statusnya:
Assisting on a research themed unity, diversity, and religious tolerance and pluralism.....(ada lanjutannya di FBnya dia). Dan saya mereply bahwa untuk unity dan diversity, menurut saya Indonesia sudah termasuk yang bagus. Untuk toleransi memang masih belum sempurna, karena ya memang seperti ada pihak-pihak yang menghendaki kasus-kasus kecil seperti pendirian tempat ibadah yang "dipersulit" digembor-gemborkan ke dunia internasional, padahal itu masalah dalam negeri. Padahal mungkin masalahnya ada pada ijin pendirian, tidak sampai pada ketidaktoleransian umat beragama. Sedangkan untuk pluralism sendiri, saya masih bersikap skeptis karena menurut saya (yang dipengaruhi oleh pemikiran Prof Daud Rasjid di Debat Caleg TVOne, bahwa pluralisme adalah paham Barat, sedangkan Indonesia mempunyai sendiri yaitu yang dinamakan pluralitas atau kebhinekaan).Yang tidak sependapat, ya silakan saja ya :D. Bebas berpendapat :D. 

Ya, Indonesia memang masih belum sempurna dalam hal-hal ini, dan saya mau tidak mau harus mengakuinya. Hal tersebut terjadi, NAMUN, pelakunya tidak hanya umat mayoritas negeri ini, karena seperti yang disampaikan Pak Ismail, juru bicara HTI di Debat Caleg TVOne, bahwa jangan sampai kita terjebak pada stereotyping. Jadi seakan-akan, umat Islam lah yang tidak toleran, yang harus toleran, dan saking tidak tolerannya, kita mesti membuka diri supaya lebih toleran lagi. Padahal, ada fakta-fakta yang harus diungkap tentang sudah tolerannya umat Islam: 
1. Prosentase pendirian rumah ibadah selain masjid diatas 150%, sedangkan masjid hanya 60%, dalam rentang waktu yang sama.
2. Di Bali yang mayoritas beragama Hindu, baru-baru ini, ada kasus seorang siswa yang dipersulit dari sekolah karena dia ingin memakai jilbab. Alhamdulillah sekarang dia sudah boleh berjilbab ke sekolah :) 
3. Di Tapanuli, umat Islam juga susah mendirikan rumah ibadah. 

Ya, saya tentu saja sedang membela agama saya, tapi saya juga mengajak kepada sesama rakyat Indonesia, bahwa isu-isu seperti toleransi, kebhinekaan, itu hal yang sudah lewat masanya. Sudah dirundingkan bersama ketika keluar Sumpah Pemuda tahun 1928. Perjanjian bahwa kita sebagai rakyat Indonesia, berbangsa satu, berbahasa satu, bertumpah darah satu, menurut saya sudah cukup untuk menjadi alasan mengapa kita harus menjunjung tinggi toleransi tanpa harus melewati batas toleransi. Sudah cukup untuk menjadi alasan untuk tidak menelan mentah-mentah ideologi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Sudah cukup untuk menjadi alasan mengapa kita harus bergotong royong, bermusyawarah, bergandeng tangan untuk kemajuan Indonesia negeri tercinta. 

Negara ini dirumuskan oleh Ir. Soekarno sebagai negara hebat, yang beribukota di Palangkaraya, menguasai perairan dan daratan yang sedemikian luasnya, diberi oleh Allah SWT berkelimpahan sumber daya alam, hayati, dan manusia; negara ini harus menjadi sepenggal firdaus di dunia seperti yang diucapkan oleh Anis Mata. 

Indonesia ini begitu kayanya, hingga kebangkitannya akan menjadi momok. Kebersatuannya akan menjadi senjata, dan kemandiriannya akan menjadi perisai yang membentengi hadirnya musuh yang menggunting dalam lipatan.

Hentikan stereotyping, hentikan hal-hal yang hanya akan merusak persatuan kesatuan bangsa ini. Sayang sekali jika kita generasi muda bangsa ini, begitu lemah pengetahuan dan kecintaan terhadap Ibu Pertiwi, dan malah menjunjung tinggi idealisme-idealisme asing yang justru merontokkan sendi-sendi kebangsaan. Sayang sekali.... 


Hehe, ini kok kata-kata saya jadi seperti kampanye ya? Hahaha. Ya begitulah kira-kira. Pokoknya Indonesia harus JAYA! Ayheeeee....

 
Post a Comment