Laman

Thursday, January 30, 2014

Sholat? Waduh!

Tulisan ini saya buat karena saya sadar, tidak semua orang lahir dari keluarga yang mementingkan sholat. Tidak juga semua bersentuhan dengan kebiasaan sholat 5 waktu. Dan karena saya yakin tiap orang berproses dalam beragama. Proses yang tidak bisa disamaratakan kecepatannya, ataukah hasilnya. Tapi saya yakin, dalam tiap orang, ada keinginan untuk menjadi orang yang lebih baik, setidaknya untuk dirinya sendiri, walaupun keinginan itu kecil sekali hingga tak terasa, hingga tak terdeteksi. Namun, jika ada waktu luang untuk berkontemplasi, rasa-rasanya, hati yang masih diinginkan Allah SWT untuk hidup, akan hidup dan menghidupi.

Sholat? Waduh. Sudah adzan lagi, sudah adzan lagi. Kenapa pagi-pagi, siang-siang, sore, petang, malam, harus sholat? Lama pula! Lebih enak ya waktu ga sholat, karena waktu terasa lebih panjang, tapi terpotong kewajiban sholat. Katanya sholat itu memang berat, kecuali bagi hamba-hambaNya yang khusyuk :

(Al Baqarah : 45-46 --> Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (yaitu) mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya. )

Jadi, "fitrah" bahwa sholat itu berat memang sudah dituliskan. Jadi ya tidak heran kalau kebanyakan umat Islam juga masih susah menjalankan sholat wajib yang 5 waktu. Sekarang pertanyaannya, apa yang membuat orang sholat? Jawabannya sudah dijelaskan juga di ayat berikutnya, bahwa yang tidak berat melakukan sholat adalah orang-orang yang YAKIN bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan akan kembali kepadaNya. 

Dalam menuliskan ini, saya yang sama sekali bukan seorang penafsir Al Quran, menyadari betul bahwa tulisan ini hanyalah bagian dari refleksi hidup saya dan bukan tafsiran yang mungkin bisa dijadikan rujukan. Hehe, jadi jika ada salah-salah, monggo dipersilakan untuk dikomentari. 

Nah, kembali ke beratnya sholat. Saya ingat dulu waktu saya masih SD, masih suka dengar pagi-pagi Subuh ceramah KH. Zainuddin MZ di radio KDS8 Malang, yang akhirnya memotivasi saya untuk sholat Subuh, dan setidaknya Maghrib. Lalu sholat Dzuhur dan sholat Dhuha yang wajib di sekolah (Madrasah Ibtidaiyah Jenderal Sudirman), Ashar sering kelewat, dan Isya apalagi. MasyaAllah, masa-masa kecil yang memang perlu dilatih benar-benar untuk disiplin sholat. 

Alhamdulillah saya diberikan teman-teman yang baik, yang masih sholat dan mengajak saya untuk menikmati indahnya sholat. Dan juga diberikan Allah SWT kesempatan untuk belajar sholat lagi dan merasakan kebutuhan akan "ritual" sholat. Bagaimana bisa sebuah "ritual" bisa dibutuhkan? Ini yang perlu saya jelaskan prosesnya. 

Dulu, waktu saya masih jadi mahasiswa, saya pernah bekerja part time dengan seorang yang beragama Hindu, dia rutin melakukan yoga, semedi/meditasi dan menurut saya, dia termasuk orang yang cukup relijius. Saat saya kerja di tempatnya, ketika masuk waktu sholat, saya akan ijin untuk sholat. Saya akan wudhu dan sholat seperti biasa menghadap kiblat, dan dia bertanya berapa kali saya sholat. Saya bilang 5 kali. Dia terkesima dan berkata beruntungnya saya karena bisa bermeditasi 5 kali sehari untuk bertemu Sang Pencipta. Untuk ngobrol dan curhat kepada Sang Penguasa Alam Semesta. Hehe, pada saat itu saya belum merasa bahwa sholat adalah rileksasi, saya hanya sadar, ketika tiap kali takbiratul ikram, saya mengantuk. Ternyata setelah saya pikir-pikir lagi, itulah tanda bahwa saya sudah rileks dan siap berkonsentrasi untuk sholat. 

Nah masalah selanjutnya kenapa sholat itu berat adalah karena sholat membutuhkan: 
  1. Wudhu, ini hal yang sangat menantang, terutama di pagi dan malam hari. Apalagi ketika kita tidak berada di Indonesia yang jam sholatnya (hampir) selalu sama setiap hari dalam satu tahunnnya. Ketika winter ataupun summer yang ekstrem, tak terbayangkan harus bangun jam 23.00 untuk sholat Isya, lalu jam 03.00 sudah Subuh lagi. Willingness dan niat untuk sholat harus luar biasa besar supaya bisa disiplin melakukannya. 
  2. Jika jauh dari masjid atau tempat yang layak sholat lainnya. Saya juga pernah mengalami harus sholat di dapur ya karena itulah satu-satunya tempat di kantor yang bisa untuk sholat. Teman-teman yang merantau di Eropa atau belahan dunia lainnya saya yakin juga punya banyak pengalaman menarik tentang sholat-sholat mereka. Bahkan saya baru bisa merasakan sholat di perjalanan, ya di dalam kereta, pesawat, dan lain-lain, ya karena bepergian. Tapi subhanallah, saat itulah terasa betul pentingnya sholat, karena kok Allah SWT nyuruhnya serius bener, ga main-main. Hehe. 
  3. Sholat membutuhkan konsentrasi. Bayangkan, sudah dingin kena air wudhu, jadi bangunlah kita ini. Terus doa-doa yang tentu tidak boleh asal-asalan diucapkan, melainkan harus tartil. Belum lagi kalau tarawih, haduh.. masyaAllah, sholat benar-benar bukan hal yang mudah untuk dilakukan.
  4. Sholat membutuhkan kedisiplinan dan kejujuran. Saya ingat betul jaman SD dulu sampai ada buku laporan sholat yang tiap bulannya dikumpulkan dan dinilai, termasuk sholat-sholat sunnah rawatib. Dipikir-pikir dulu masih tipu-tipu demi nilai (maaf, Bu, Pak, astaghfirullah), tapi sekarang memang kerasa bahwa kedisiplinan itu dibentuk, dilatih, dan dibiasakan. Begitu juga dengan kejujuran, perlu dilatih dan dibiasakan. 
Lalu apa lagi ya.. Haha, pokoknya mah, proses untuk menikmati sholat itu menyenangkan lah.. Jangan takut jika sekarang masih sholat bolong-bolong, yang penting harus ada NIAT dan USAHA untuk bisa menjaga sholat wajib dan syukur-syukur bisa ditambah dengan sholat sunnah. Ingat aja, bahwa sholat itu adalah ibadah yang pertama yang dihitung, jika bagus sholatnya, maka bagus ibadah lainnya:
Dari Abu Hurairah, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

 إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ
“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan,’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” Bilamana shalat seseorang itu baik maka baik pula amalnya, dan bilamana shalat seseorang itu buruk maka buruk pula amalnya.” (HR. Ath-Thabarani)
Mari terus berjuang menyempurnakan sholat. Hayuk ah!

Post a Comment