Laman

Tuesday, November 08, 2005

Menjemput rezeki, bukan hanya impian...

Bukan kita yang menentukan dimana rezeki kita, yang menentukan rezeki kita adalah ALLAH SWT. Tugas manusia hanyalah menjemput rezeki itu, bukan mencari.

Kalimat-kalimat seperti itu sudah sering saya dengar sejak saya kecil. Karenanya saya lebih suka meminta kepada ALLAH daripada meminta kepada manusia. Saya termasuk yang tidak suka meminta barang kepada ibu saya, tapi sekalinya saya minta, saya akan minta yang bermutu dan biasanya, yang bermutu itu lebih mahal. Saya lebih suka mempunyai satu barang dan awet, daripada banyak barang namun semuanya mudah rusak. Saya bukan orang yang mau menghabiskan waktu mengurus barang-barang saya.

Kemarin saya kira saya sudah tidak punya baju lagi dan harus membeli yang baru, namun setelah saya keluarkan semuanya dan saya cuci, barulah saya sadar bahwa baju saya masih banyak, dan saya tidak merasa harus membeli baju baru lagi. Simply karena saya tidak butuh.

Yang saya dapatkan dari pelajaran ini adalah, ketika kita melihat segalanya, dan melupakan apa yang ada, yang timbul justru perasaan kurang. Jika kita menilik ke dalam kita sendiri, memperbaiki apa yang kurang, membersihkan apa yang kotor, maka kita akan menyadari, bahwa apa yang kita punyai sungguh lebih banyak daripada yang kita kira.

Tapi hal ini tidak berlaku bagi semua orang. Saya tahu.

Bagi beberapa orang, hidup adalah ajang yang mengenakkan untuk mengumpulkan barang-barang dan menikmati apa yang bisa dinikmati. Bukan berarti saya mengutuk perbuatan itu, mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama jika saya diberi kemampuan finansial yang lebih tinggi. Kadang saya heran, mungkinkah perasaan yang saya punyai ini hanyalah rasa iri karena saya tidak bisa mempunyai itu semua? Ataukah perasaan yang memang saya punyai sebagai manusia? Karena saya sadar, ketika orang iri, maka semuanya tampak buruk dan negatif.

Saya sadar bahwa kadang saya juga menginginkan kehidupan yang serba cukup dan serba mudah. Kehidupan yang pernah saya rasakan dan saya lupakan begitu saja. Saya ingat ketika saya masih dengan mudahnya mengeluarkan uang untuk hal-hal yang kurang penting dan hanya memuaskan keinginan. Jika saya kalkulasikan jumlahnya, mungkin sudah bisa membayar uang kuliah saya 1 tahun ke depan, bahkan lebih. Namun pada saat itu, yang saya pikirkan justru kebalikannya. Yang saya pikirkan adalah bahwa saya mempunyai orang tua yang berkecukupan dan dengan uang merekalah saya akan berkecukupan juga. Saya tidak merasa dan tidak percaya bahwa suatu saat saya bisa merasakan nikmatnya berkeringat dan berusaha untuk menjemput rezeki saya.

Yang saya ingat, dulu saya masih berpikiran pendek dan masih seperti anak-anak. Mungkin saya sekarang sudah berubah dan sudah berpikiran lebih panjang dan sudah seperti orang dewasa. Perlahan-lahan, karena semua butuh proses. Anehnya, saya merasakan indahnya berusaha dan menikmati tiap Euro uang yang saya keluarkan. Saya bahagia karena saya berkeringat. Mungkin ini seperti orang yang berolahraga demi menjadi lebih sehat. Selama ini, saya melihat Oprah Winfrey sebagai orang yang berhasil menurunkan berat badannya demi kesehatannya. Saya bisa membayangkan susahnya menguruskan badan, mengeluarkan keringat, terlebih merubah gaya hidup dan cara pandang terhadap makanan. Itu adalah proses yang menyakitkan. Sama seperti saya ketika harus belajar mengencangkan ikat pinggang dan mulai berhemat. Menyakitkan. Namun, saya menyukainya, karena sekarang saya lebih menghargai hal-hal yang kecil.

Menjemput rezeki, ungkapan yang sungguh benar. Dan semua bukan hanya impian. Suatu saat nanti, ketika saya sudah bisa mempunyai uang yang banyak dan tidak harus bersusah payah untuk mengeluarkan amal, saya akan lebih mengatur uang itu, dan bukan sebaliknya. Saya sedang berusaha menikmati indahnya berkeringat.

Bukan hal yang mudah juga, karena keinginan untuk selalu kembali ke masa dulu itu masih ada. Namun yah, hidup ini berputar ke depan, bukan ke belakang. Inilah yang ada di depan mata saya, dan harus saya telan, karena saya bukan pecundang.

Bukan keinginan belaka, karena saya tidak sendirian...




Post a Comment