Laman

Wednesday, May 04, 2005

Proses belajar dan proses saling

Alhamdulillah di tengah kesibukan untuk mengerjakan tugas akhir, masih diberi kesempatan oleh ALLAH SWT untuk bisa menuangkan berbagai uneg2 yang ada di pikiran. Kali ini saya akan menulis mengenai proses belajar dan proses saling. Bukan hal yang baru, namun saya ingin membawanya di antara tulisan saya untuk mengingatkan diri saya mengenai momentum ini. Momentum dimana saya menyadari bahwa pasangan, harus mengalami 2 hal ini.

Proses belajar yang saya maksud bukan hanya proses belajar memahami kesibukan, belajar mengerti bagaimana kepribadian pasangan, namun juga proses belajar dalam mengambil hikmah dalam tiap kejadian.

Pertengkaran bukanlah hal yang aneh dalam pasangan, dikarenakan adanya persatuan atau lebih tepatnya, perpaduan dua kepribadian, dua kebiasaan, dan dua kehidupan. Emosi yang tidak sinkron disebabkan kesibukan yang menyita perhatian, dan berharap bahwa pasangan kita akan selalu memahami keadaan emosi kita merupakan salah satu penyebab terjadinya salah paham. Bagaimanapun juga, manusia mempunyai titik jenuh yang bisa membuat seorang yang sabar menjadi kurang sabar, dan orang yang letih menjadi bad tempered. Titik jenuh yang kadang bersamaan membuat semua hal yang indah menjadi tidak indah, tingkat kesensitifan yang meningkat dan juga emosi yang meluap. Kata2 yang seharusnya tidak dikatakan menjadi terlontarkan tanpa dipikirkan terlebih dahulu, baru menyesal kemudian. Atau pikiran2 jahat datang dan membiarkan setan berkeliaran dan menyebar benih2 penghancur harmonisnya suatu hubungan.

Setelah darah mendingin, pikiran menjadi jernih, rasa maaf dan bersalah sudah muncul, penyesalan yang sudah dianggap sia2 telah diterima, dan rasa cinta kembali bersemi, maka semua menjadi lebih indah. Hal ini merupakan suatu anugerah, karena kita sebenarnya, diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Satu hal yang sering dilupakan atau terlupakan, adalah mengambil pelajaran dan hikmah dari pertengkaran tersebut. Pertengkaran yang telah berlalu harus direview sebab musababnya, dan bagaimana cara mencounter agar hal yang sama tidak akan terjadi lagi di kemudian hari. Bukan dengan maksud yang buruk atau mengungkit kesalahan pasangan yang membuat kita naik darah, melainkan melihatnya dengan kacamata bersih dan tanpa bias. Melihatnya sebagai suatu pelajaran dalam berpasangan, jika perlu, harus ada buku catatan pelajaran hari ini yang telah didapat dari pertengkaran itu. Apakah kita harus lebih sabar atau harus lebih menahan emosi atau hal2 yang lain. Kepandaian untuk mengambil pelajaran dari pertengkaran merupakan suatu seni tersendiri. Hal ini tidak diwariskan begitu saja, melainkan dipelajari. Seperti ilmu yang lain yang bisa luntur karena waktu jika ilmu tersebut tidak menjadi ilmu yang bermanfaat, maka hasil belajar ini perlu dimanfaatkan dengan baik. Entah dimanfaatkan dengan mengurangi ego masing2 atau dinasehatkan kepada orang lain.

Another process that is important in being a couple is to-verb-each other. To understand each other, to take care each other. Janganlah suatu hal dalam pasangan itu tidak seimbang. Bukan berarti harus memberikan porsi yang sama, namun dengan memberikan porsi yang tepat pada saat yang dibutuhkan. Saling memahami dan saling mengalah, saling menahan ego, dan saling menerima. Dengan catatan, hal ini harus dilaksanakan oleh kedua belah pihak, tidak hanya oleh satu pihak, karena tentunya hal ini akan memberikan efek hubungan yang kurang sehat.

Bukan berarti kita harus menimbang apa yang telah kita berikan atau apa yang telah kita korbankan untuk pasangan kita. Sama sekali tidak. Kedua proses di atas adalah proses mandiri yang harus dipahami oleh dua orang yang terlibat di dalamnya. Itulah mengapa dibutuhkan kedewasaan sebelum membina suatu hubungan. Kesamaan visi, keterbukaan dan komitmen untuk saling mengingatkan dan bersedia berubah demi kebaikan diri masing2 dan juga pasangan kita merupakan fondasi yang kuat untuk mempertahankan hubungan dalam kehidupan yang penuh dengan lika liku ini.

Semoga kita bisa orang yang terbaik bagi diri kita, pasangan kita, dan orang2 sekitar kita. Amiin. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai suatu proses belajar dan proses saling, karena menuntut ilmu itu diwajibkan bagi manusia, sampai ke liang lahat.
Wallahu 'alam bis shawab.
Post a Comment