Laman

Tuesday, April 05, 2005

Shark Tale

Hampir tiap orang ingin merasakan bagaimana menjadi sempurna. Menjadi sosok ideal. Menjadi pujaan banyak orang yang namanya disanjung. Menjadi orang yang tidak bercacat dan Sempurna. Sempurna atau perfect, flawless, semua serba rapi, teratur dan terencana. Ah, seandainya saya seperti Dian Sastro, seandainya saya seperti Brad Pitt, seandainya dan seandainya yang lain. Wajar, bisa dimaklumi dan merupakan gejala yang manusiawi. Tidak usah kuatir.

Mengapa orang ingin menjadi ideal dan perfect? Karena dalam lingkungan yang seperti ini, dimana wajah-wajah cantik, berbodi menarik dan bercerita tentang kehidupan yang sempurna. Sempurna karena ke hedonis an nya. Sempurna karena mampu membeli apa yang bisa dibeli, meraih apa yang dikatakan Top of the cliff. Menjadi "nobody" bukan hal yang menyenangkan, karena manusia hanya menghargai "somebody". Menjadi olok-olok teman sekelas ketika harus jujur tentang bagaimana keadaan keluarga, dan sejak saat itulah, tidak akan menjadi "nobody". I want to be "somebody", somebody's perfect!

Ketika ada cara untuk mewujudkan impian untuk menjadi "somebody" tersedia, walaupun harus berbohong dan menipu diri sendiri, dilakukanlah. Tanpa rasa bersalah. Keinginan terutama, I want to be somebody!

Betapa manusia dan ketidaksempurnaan, musuh bebuyutan yang jarang mengadakan perdamaian. Seringkali manusia dan ketidaksempurnaan bisa berdamai dan manusia bisa menerima ketidaksempurnaan dirinya. Namun, seberapa sering? Yang lebih sering terjadi adalah penolakan terhadap sekelumit ketidaksempurnaan itu. Perang yang sebenarnya bisa bermanfaat jika manusia itu bisa menerima adanya takdir yang tidak bisa dirubah, ketidaksempurnaan yang menjadi keunikan. Merubah cara berpikir dan membalikkan kenegatifan menjadi hal yang positif. Namun sekali lagi, apakah lingkungan mendukung untuk bisa menerima ketidaksempurnaan itu? Karena acapkali lingkungan lah yang mendorong untuk menjadi sempurna, secara langsung maupun tidak langsung.

Seperti hal nya mata uang koin, selalu ada dua sisi. Sisi yang disenangi, preferance, dan sisi yang kurang disenangi. Manusia cenderung mengambil satu sisi, padahal kedua sisi merupakan satu paket. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Karena keduanya saling mengisi, saling melengkapi.

Kompetisi seringkali menjadi pacuan manusia untuk menjadi sempurna. Namun kompetisi itu tidak akan berhenti, karena diatas gunung masih ada langit, dan diatas langit masih ada yang punya langit. Intinya, buat apa bersaing untuk hal-hal yang kita anggap sempurna, sedangkan manusia lain bisa menerima diri mereka apa adanya? *tentu saja dengan terus melakukan perbaikan terus menerus*.

Ketidaksempurnaan itu adalah tuntutan diri kita terhadap diri kita yang lemah ini. Jika tidak adanya kepercayaan dan kemampuan penerimaan diri sendiri, maka orang yang selalu bersaing untuk menjadi sempurna hanya akan mensia-siakan waktunya. Karena bahkan orang yang sangat baik seperti Nabi Muhammad SAW saja masih ada yang membenci, masih ada yang menganggap beliau jahat. Selama kita melakukan yang terbaik dan berusaha sekuat tenaga, maka serahkanlah hasilnya pada takdir. Karena ALLAH SWT sudah menggariskan apa yang terbaik untuk kita. Hanya berencana, hanya berusaha, karena tidak ada yang sempurna. Ketidaksempurnaan adalah milik manusia, dan kesempurnaan hanya milik ALLAH SWT.


Post a Comment