Laman

Thursday, April 14, 2005

hanya tulisan

orang bilang…

BY: HERLYANTI

Orang bilang jadi single itu susah, apalagi kalo udah terbiasa punya pacar. Orang bilang jadi single itu enggak enak, karena enggak ada yang bisa dimanjain. Orang bilang jadi single itu tabu, karena itu nunjukkin kalo kamu enggak laku di dunia percintaan. Orang bilang jadi single itu membosankan, malem mingguan enggak pernah romantis. Orang bilang kalo orang jomblo[1] pede itu cuman tipuan belaka. Orang bilang ini itu, orang bilang semuanya..orang bilang!!!!!!!!!!

Tersadar dari khayalan yang tidak akan berhenti, Jingga cuman bisa menghela nafas. Status single nya benar-benar membuat dirinya tidak bisa tidur. Apa kata orang kalo mereka tahu bahwa Jingga, anak yang termasuk populer ternyata berstatus single?

Ketakutan itu membuat keengganannya untuk menceritakan kisah cintanya kepada Neen semakin besar. Selama ini ia tahu bahwa Jingga sedang menjalin kisah dengan seorang anak cerdas yang bernama Arman. Yang Neen tahu adalah hubungan mereka yang mulus bagai jalan tol, tanpa ada orang ketiga atau orang keempat. Hubungan Jingga-Arman adalah jalinan kisah romantis yang hanya dimiliki dua orang tersebut.

Keputusan Arman untuk pergi dan meninggalkan Kampus Depok itulah yang membuat Jingga berpikir untuk memutuskan hubungan. Selama ini ia tahu bahwa Arman sangat perhatian dan sayang Jingga. Hubungan mereka yang sudah berjalan selama 2 tahun membuat iri banyak pasangan. Bahkan Neen pernah membuat pernyataan bahwa Jingga-Arman suatu saat nanti akan menikah. Ah, Neen. Bagi Jingga, ketidakhadiran Arman akan sangat mengganggu hidupnya. Keabsenan Arman untuk berdebat dan sharing akan menghilangkan separuh hatinya.

Jingga sudah mengemukakan hal ini kepada Arman, ia mengatakan bahwa hubungan jarak jauh hanya akan menyakitkan mereka berdua. Setiap kali Jingga meminta Arman untuk tinggal, Arman selalu menolak. Arman mengatakan bahwa itulah yang ia inginkan, itulah mimpinya, untuk pergi dari Kampus Depok dan mencari pengalaman di negeri orang. Arman selalu mengatakan hal itu dengan pandangan yang berbinar-binar, Jingga hanya bisa mengalah dan mengalah.. Mengalah dengan keputusan Arman untuk terus mempertahankan hubungan mereka.

Akhirnya, Arman pergi juga.. Sama seperti cerita AADC[2], Jingga mengantarkan Arman sampai ke bandara dan mengucapkan selamat jalannya. Sekarang, Jingga sendirian, di Kampus Depok. Cuman ada Neen yang selalu menemaninya makan siang,

“ Seharusnya ada Arman disini” , pikir Jingga selalu.

Kesendirian Jingga menarik minat banyak teman-teman laki2nya. Mereka selalu bertanya pada Neen apakah hubungan Jingga-Arman baik2 saja. Dan Neen hanya mengatakan apa adanya,

“ Ya, mereka baik2 saja”

Dan itu mengecewakan banyak hati.

Rumah Jingga

“Huo huo.. bukan matahari bila tak menyinari.. Bukan kuntum bunga bila tak mewangi, dan bukanlah cinta bila tak sepenuh hati[3].. huo huo... yeah yeah” , suara serak-serak basah Jingga memenuhi kamarnya. Sambil memegang sisir dan memperhatikan cermin yang memantulkan bayangannya sendiri yang melengak-lengok bagai artis manggung.

“Dhek, jangan teriak2 gitu.. “, kata ibu sambil membuka pintu kamar anak cantiknya.

“Ye..kan Dhek lagi latihan nyanyi sekaligus dandan, Buk..hehe.. “

“Emang Dhek mau kemana?” , tanya ibu sambil masuk dan membelai rambut Jingga

“Gak kemana2.. enggak ada yang jemput”, Jingga cuman bisa mengatakan hal itu dengan separuh hati

“Dhek, itu temen kamu yang namanya Arman kemana?”

“Buk, Arman kan pacar Dhek, bukan cuman temen”, kata Jingga sambil memutar badannya dan menatap wajah ibunya yang enggak kalah cantiknya

“Iya, pacar.. terserah .. Dhek kan tahu, bagi ibuk semua cuman temen dhek, habisnya Dhek enggak pernah cerita sih. Bukan salah ibuk dong kalo cuman nganggep Arman temen dhek”, ibu membela diri

“Ya, tapi kan meski Dhek enggak cerita, ibuk tau kalo yang tiap malem minggu kesini tuh Arman, dan bukan orang lain, dan itu terus2an selama 2 tahun.. Dan itu menunjukkan kesimpulan bahwa Arman bukan temen biasa. Bukan temen biasa artinya temen istimewa, dan akhirnya, temen istimewa adalah pacar. Ya kan?” , Jingga mencoba menjelaskan pada ibunya seperti cara ia menjelaskan sesuatu hal pada Neen yang agak2 lemot[4].

“Iya deh, iya.. nah, si Arman itu sekarang kemana? Enggak pernah muncul lagi? Putus neh ceritanya..ehm ehm..”, si ibu yang terbilang muda itu menggoda anak perempuannya

“Nah, si Arman itu sekarang lagi ada di Belanda, buat nerusin kuliahnya. Gitu ceritanya Ibuku sayang.. “, ucap Jingga manja

“O.. tapi kalian masih berstatus pacar? Jarak jauh neh ceritanya.. “

“Nah, itu buk. Dhek bingung.. enaknya diterusin ato enggak ya?”, Jingga menanyakan hal itu sama seperti halnya ia menanyakan pada dirinya sendiri, dengan pandangan sedih.

“Ye.. katanya udah gede, enggak pernah cerita ama ibuk lagi.. ya udah toh, sekarang Dhek maunya gimana? “, ibunya membuka forum diskusi anak-ibu

“Males Bu.. Jauh.. berat di ongkos..huehehe… “, Jingga menutup forum itu sebelum bersedia membukanya. “nanti Jingga ceritain kalo abis dandan ya..ok, Bu? “, Jingga beranjak dari depan cermin dan mengantarkan ibunya ke depan pintu kamar

“ Nah ini maksudnya ibu nunggu ato gimana? Kalo enggak, Ibu mau jalan dulu ama temen2 SMA dulu.. ada reuni angkatan nih, dhek”

“Ya, Ibu siap2 dulu aja.. liat liat entar aja deh”, dan itu menutup pembicaraan dengan subyek Arman.

Jingga tinggal dengan ibunya di rumah mereka sendiri. Setelah ayahnya meninggal, mereka berdua bagai kakak-adik. Meski begitu, cerita mengenai Arman selalu dibaginya dengan Neen, bukan dengan ibunya. Jingga cuman merasa bahwa setiap orang punya versi dan porsi sendiri2. Meski ia tahu bahwa ibunya masih berjiwa muda, namun baginya, Neen adalah makhluk yang paling suitable untuk dijadikan tempat sampah ceritanya tentang Arman, disamping juga paling ampuh untuk mengatakan tidak dan menolak teman2 laki2nya yang berusaha menawarkan hati mereka.

Setting Belanda

Sementara Jingga berdandan, di belahan dunia yang lain, Arman sedang berkumpul dengan temen2 barunya. Mereka sedang berdiskusi mengenai cara pemasaran yang baik. Arman yang sekarang kuliah di Belanda dan mengambil jurusan management bisnis selalu disibukkan dengan membaca diktat dan berdiskusi. Ia selalu percaya bahwa dengan berdiskusi, maka ilmu yang diserap akan lebih mudah dipahami.

Perbedaan waktu antara Belanda-Jakarta membuat dia mengurungkan niatnya untuk menelepon cintanya. Sampai pada akhirnya, ketua diskusi memutuskan untuk coffee break.

“Ya udah, kita break dulu aja. Nih pada mau makan siang gak? Aku bikinin sandwich spread aja ya”, kata Yoga, anak tahun kedua yang udah lama tinggal di Belanda.

Arman cuman mikir sambil menuju jendela besar dimana bisa ngeliat kapal2 lewat dan jembatan yang buka tutup kalo ada kapal yang lewat.

“Jingga ngapain ya?”, pikir Arman

Biasanya kalo malem minggu gini, pasti Arman keluar ama Jingga, dan biasanya kalo jam segini Jingganya masih maunya di rumah dulu, sambil diskusi untuk kuliah seminggu depan. Biasanya Jingga masih pake baju rumah dan males keluar kalo belum selesai diskusinya. Malem minggu yang unik, cuman dengan Jingga, Arman bisa mengalami malam minggu penuh diskusi dan cerita2 konyol sebelum akhirnya keluar tidaknya tergantung pada minggu keberapa. Ah, Jingga dan segala kelucuannya. Dalam satu bulan, ada dua kali malem minggu beneran, yang isinya jalan2 dan keluar bareng, dan dua minggu sisanya mereka cuman di rumah dan belajar.

“Bro, aku telp dulu ya, 10 menit lagi balik kok”, kata Arman pada Miki, anak pinter dari kelasnya.

“Yo i” , jawab Miki cuek dan terus berkutat dengan remote kontrol TV di tangannya.

Dengan cekatan, Arman menekan tombol2 angka di hape[5]nya. Nada tunggu dengan cepat memenuhi telinganya. Tidak lama kemudian, telpon di Indonesia diangkat.

“Halo, Jingga nya ada?”, kata Arman agak sedikit kaku. Setelah dua bulan pergi dari Jakarta, ia takut JIngga sudah lupa suaranya, walaupun dia sadar, 2 tahun bukan waktu yang singkat untuk menghafalkan suaranya.

“Arman?”, tanya suara di seberang sana.

Percakapan di telepon

“Sayang enggak keluar?”, tanya Arman langsung setelah menyadari bahwa pacar tercintanya yang mengangkat telpon pada dering kelima.

“Enggak, lagian kan ini minggu diskusi.. hehe.. Aku tadi seh cuman dandan aja, sambil nyanyi2. Abisnya enggak ada kamu, enggak ada yang jemput deh. Males banget keluar. Ibu lagi reuni, neh aku sendirian di rumah. Pengen telp Neen, tapi dia kayaknya enggak di rumah. Eh, Sayang apa kabar?”

“Aku lagi kangen kamu. Tadi lagi diskusi ama temen2, sekarang lagi break, semua pada laper.. hehe.. Yank baik2 aja kan?”

“Iya lah.. baik2 aja.. “

“Udah ada yang daftar belum? “, goda Arman yang menyadari bahwa pacarnya termasuk daftar cewek most wanted di Kampus Depok.

“Enggak ada yang berani daftar, ada seh yang iseng2 tanya ke Neen, tapi Neen dengan tegasnya bilang kalo aku masih sama kamu.. Jadinya cowok2 iseng pada mundur.. hehe..”, jawab Jingga dengan cengengesan

“Yank, Yank masih berpikir bahwa kita harus putus kah?”, Tanya Arman tiba2 mengalihkan subyek pembicaraan

“Lha kok malah ngomongin ini sih.. Yank kan telp bukan untuk nanyain ini kan?”,Jingga cuman gugup, menyadari bahwa cowok yang bernama Arman ini masih bertahta di hatinya, selalu

“Yank, aku cuman kuatir aja. Aku enggak mau kalo Yank ngerasa tersiksa karena hubungan kita. Yank tau kalo aku sayang banget ama Yank dan pengen ama Yank terus meski aku jauh. Toh kita masih berhubungan lewat telp, sms, imel. Cuman aku pikir2 setelah itu, Yank pasti banyak yang lagi di waiting list en nunggu Yank single, ya kan? Aku cuman ngeliat kenyataan dan aku enggak boleh egois untuk terus2an memaksa hubungan yang cuman bikin Yank sakit hati”, jelas Arman panjang lebar.

Mendengar itu, Jingga cuman menarik nafas panjang.

“Yank, aku tau, Yank enggak bisa dan enggak pernah bisa hubungan jarak jauh kayak gini. Lagipula, aku disini masih 3 tahun lagi. Aku enggak mau Yank sakit hati terus2an kalo gini”

“Arman sayang, aku sayang kamu, dan kamu tau itu. Kamu juga tau gimana aku luar dalam dengan keputusan kamu untuk pergi ke Belanda. Kamu tau pasti apa yang aku rasakan kalo kamu enggak ada di sampingku. Kamu tau semuanya. Kamu tau kalo aku mencoba sepenuh hati untuk jaga hubungan kita. Kamu tau itu semua kan? Kamu yakin bahwa aku sayang kamu, ya kan Sayang?”, jelas Jingga dengan mata hampir berkaca2.

“Ya”, jawab Arman singkat.

“Yank, kayaknya mendingan kita berteman aja deh”, ucap Jingga dengan suara berat.

“Bukan karena apa2, cuman aku enggak mau pikiranku terganggu dengan ketidakhadiranmu. Aku cuman enggak bisa kalo enggak ada kamu. Aku butuh kehadiran kamu, aku butuh ngeliat kamu. Butuh denger suara kamu langsung, jalan ama kamu, diskusi sambil minum kopi dan makan kue, butuh untuk jalan2 ama kamu”, suara Jingga terdengar sedikit penuh emosi.

“Ya, aku tau”, ucap Arman singkat, datar, menyadari bahwa itulah yang akan didengarnya.

“Arman, aku minta pengertian kamu untuk aku. Aku minta kamu untuk ngelepas aku dan merelakan hubungan kita. Itu aja, aku tau bahwa ini pasti sakit banget buat kita berdua, tapi ini kenyataan. Toh, kita berdua percaya pada takdir dan nasib kan?”

“Iya, aku akhir2 ini emang mikirin kamu dan hubungan kita. Dan aku sadar bahwa aku cuman cowok egois yang mau mengikat kamu, padahal kamu enggak bahagia. Aku dan kamu tau bahwa ini adalah resiko pacaran jarak jauh, tapi aku dan kamu tau bahwa kamu bukan orang yang bisa pacaran jarak jauh, dan aku cuman memaksa kamu. Maafin aku ya”, pinta Arman tulus, menyadari bahwa ia akan kehilangan seorang yang sangat berarti baginya dan telah memenuhi hari2nya selama dua tahun terakhir ini.

Orang bilang jadi single itu susah, apalagi kalo udah terbiasa punya pacar. Orang bilang jadi single itu enggak enak, karena enggak ada yang bisa dimanjain. Orang bilang jadi single itu tabu, karena itu nunjukkin kalo kamu enggak laku di dunia percintaan. Orang bilang jadi single itu membosankan, malem mingguan enggak pernah romantis. Orang bilang kalo orang jomblo pede itu cuman tipuan belaka. Orang bilang ini itu, orang bilang semuanya..orang bilang!!!

Tapi orang enggak pernah bilang bahwa orang single itu enggak susah, toh dulu waktu lahir juga enggak punya pacar, nah kalo emang sekarang enggak punya pacar apa susahnya? Orang enggak pernah bilang kalo kemandirian didapat dari kesendirian, enggak bergantung pada orang lain. Orang enggak pernah ngomong kalo jadi jomblo adalah sebuah keputusan dan pilihan, bukan melulu sebagai korban karena enggak laku. Orang enggak pernah kasih pengumuman kalo malem mingguan ama orang tua sendiri bisa sangat menyenangkan en fun. Orang enggak pernah ngasih tau kalo jomblo pede[6] tuh mungkin banget, toh banyak artis2 yang masih jomblo en mereka asik2 aja dengan kehidupan mereka. Orang cuman ngejudge, enggak pernah ngasih alasan yang jelas. Orang gak pernah bilang semua itu !!!

Here Without You-3 Doors Down

28 Maret 2004. www.herlyanti.blogspot.com

Sophiastraat 1rd 2011 VT Haarlem.



[1] Bahasa keren dari status single alias tidak punya pacar.

[2] Ada Apa Dengan Cinta? Sebuah film remaja yang sangat populer pada tahun 2002.

[3] Sepenuh Hati, lagu dari penyanyi Indonesia bernama Ariyo.

[4] Lemah Otak, bahasa slang yang digunakan anak2 muda untuk memberi tanda bahwa seseorang itu susah memahami sesuatu

[5] Hand phone, biasanya disebut Mobile Phone atau Cellular Phone

[6] Bahasa slang dari percaya diri. Sangat populer di kalangan remaja.

Post a Comment