Laman

Wednesday, April 28, 2004

Mendidik dan membesarkan anak, tidak semudah yang dibayangkan.

Judul diatas mungkin terdengar terlalu sangar atau terlalu dewasa. Tapi sebenarnya hal ini tidak seperti itu. Judul diatas adalah sebuah peringatan untuk kita bahwa kita dulu dibesarkan dengan cara yang berbeda. Aku ingat hal ini karena kemarin ada telpon dari temen baik yang sudah lama enggak berkomunikasi, kita bicara banyak hal, dan salah satunya adalah bagaimana cara orang tuanya dan orang tuaku membesarkan kami. Yang mana hal itu menghasilkan result yang berbeda dalam kepribadian dan cara pandang dalam banyak hal.

Pembicaraan kemarin telah membuka banyak hal yang sebelumnya tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Dia bilang bahwa orang tuanya membesarkan dia dengan cara yang bebas namun terkendali. Orang tuaku yang juga membesarkan ku dengan cara yang sama, tapi mungkin dengan degree of freedom yang berbeda. Hal2 yang seharusnya tidak dilakukan bersama orang tua, misalnya sama2 mencoba minuman keras untuk mengajarkan bahwa mabuk tidak akan menyelesaikan masalah dan justru tidak mengenakkan, menjadi salah satu cara mengajar orang tuanya. Hal ini berbeda jauh dengan orang tuaku yang mengajarkan bahwa minuman keras adalah haram dan itu tidak bisa diminum, sama sekali haram. Mungkin di saat ini aku berpikir dengan cara sekuler, yaitu memisahkan antara agama dan kehidupan sehari2. Dalam hal ini aku tidak mau berdebat, ini hanya apa yang aku petik dari pembicaraan kemarin.

Ini mengingatkan aku pada cerita Pak Haji pada suatu hari pengajian. Beliau menceritakan ada seorang ayah yang mempunyai tiga orang anak. Sebelum beliau meninggal, ada surat wasiat pada ketiga anaknya. Surat wasiat ini terbilang aneh, karena bukan seperti surat wasiat yang biasanya mengandung uang-uang atau harta yang bisa diwariskan, surat ini malah berisi perintah dari sang ayah. Perintah yang dituliskan bukan seperti perintah ayah normal pada umumnya. Beliau memerintahkan anak2nya (kesemuanya laki2, red), untuk pergi ke tiga tempat yang berbeda. Tempat yang pertama adalah tempat pelacuran. Anak pertama harus datang ke tempat pelacuran pada jam 5 pagi. Perintah kedua kepada anak kedua adalah untuk pergi ke rumah teman ayah yang jago judi. Perintah yang terakhir untuk anak terakhir adalah untuk pergi ke klub malam ketika jam 5 pagi juga. Perintah2 ini sangat aneh, karena sang ayah terkenal sebagai orang alim ulama. Akhirnya ketiga anak ini pergi ke rumah teman ayahnya yang seorang kyai untuk minta nasehat untuk menjalankan surat wasiat ayahnya ini. Akhirnya mereka bertiga menjalanjan perintah ayah mereka masing2, setelah sang kyai mempersilakan mereka untuk menjalankan perintah tersebut.

Anak pertama yang diminta untuk pergi ke tempat pelacuran pada pagi hari mengetuk pintu salah satu rumah bordil dan menemukan wanita yang biasanya cantik pada malam hari ternyata sangat buruk rupa ketika ia bangun tidur. Anak kedua yang pergi ke rumah orang yang pinter judi menemukan bahwa rumahnya tak lebih dari gubuk. Anak terakhir yang pergi ke klub malam menemukan banyak orang yang mabuk pada pagi hari.

Mereka bertiga kemudian berkumpul di rumah kyai tersebut dan menyadari bahwa surat wasiat ayahnya itulah yang telah mengajarkan hal2 yang konkrit yang bisa diliat dengan mata dan bisa dilogika. Anak yang pergi ke tempat pelacuran sadar bahwa wanita yang melacur sangat buruk rupa dan berantakan, sehingga dia berjanji untuk tidak akan pergi ke tempat itu seumur hidupnya. Anak yang pergi ke orang yang pinter judi sadar bahwa judi tidak akan menjadikan seseorang kaya, karena uang judi yang didapat akan dihabiskan ke hal2 yang tidak bermanfaat dan akhirnya, ia akan kembali ke keadaannya yang tidak mempunyai apa2. Anak yang pergi ke klub malam menyadari bahwa orang2 mabuk adalah orang2 yang tidak punya kendali atas dirinya sendiri, bahkan tidak mampu untuk berdiri tegak dan berjalan normal. Pelajaran2 ini bisa dimengerti oleh mereka dan akhirnya surat wasiat yang mulanya dianggap aneh dan bertentangan dengan agama telah mengajarkan kepada mereka lebih dari apa yang bisa diajarkan oleh kata2 saja.

Cara membesarkan dan mendidik anak memang bukan hal yang mudah, apalagi di masa nanti yang kita insyaallah akan dihadapkan dengan banyaknya media informasi yang terus menerus, internet yang 24 jam, dan hal2 yang memudahkan akses pada hal2 yang baik maupun yang kurang baik. (Pernyataan kurang baik disini adalah hal2 yang bertentangan dengan moral dan kebiasaan masyarakat pada umumnya, biasanya dinamakan moral saja). Hasil yang aku tulis disini memang tidak berdasarkan market research yang terpercaya, tapi hasil yang didapatkan bisa dicerna dengan logika dengan mudah. Mungkin nanti ada saatnya kita mengajari anak2 kita dengan hal2 yang kontroversial seperti ini. Namun semua kembali lagi pada dasar yang telah kita tanamkan tentang agama pada anak2 kita, atau dasar apapun yang hendak ditanamkan.

Anak2 yang dibesarkan dan dididik dengan kekuatan untuk memilih antara yang baik dan buruk, biasanya akan menemukan hal2 baik yang ada di antara hal2 yang buruk itu. Sedangkan anak2 yang dibesarkan dan dididik dengan garis batas yang menyatakan bahwa ini tidak boleh dilakukan dan dibesarkan terlalu dengan kekangan atau malah dengan kebebasan tanpa kendali, akan menyatakan kemarahan dan pemberontakan dengan melanggar batas2 itu. Hal ini yang justru dikhawatirkan oleh orang tua. Namun sayangnya, hal2 ini yang sering terjadi.

Hal2 yang dinyatakan haram atau dilarang oleh orang tua harus bisa dijelaskan dengan logika. Karena jika kita bisa meminta penjelasan pada orang tua kita, itu berarti bahwa generasi sesudah kita, misalnya adik2 kita atau bahkan anak2 kita, pasti akan bisa berpikir dan menanyakan segala hal dengan logika. Ini yang menjadi tantangan bagi generasi kita. Bagaimana menyiapkan diri untuk 5 sampai 10 tahun mendatang. Tentunya kita tidak ingin mendapati anak2 kita melakukan kesalahan seperti yang pernah kita lakukan. Untuk itulah kita sekarang harus belajar, belajar dan belajar. Bagaimana menjadikan diri kita lebih baik dari waktu ke waktu, sehingga bisa menghasilkan level kebijaksanaan yang lumayan tinggi dan siap untuk menghadapi kehidupan nantinya. Itu tugas kita sekarang. Karena seperti yang mereka bilang, negara yang baik adalah berdasar pada keluarga yang baik dan pada akhirnya keluarga yang baik berdasar pada kualitas individu. Insyaallah, amiin.

PS. Maaf lama tidak update, sedang banyak kerjaan di kampus. Terima kasih pada temen2 yang udah ngingetin aku untuk nge update blog ini. Makasih buat Wudhi buat telponnya semalam, udah ngasih ide. Segala puji bagi ALLAH yang tidak pernah minta bayaran atas udara yang aku hirup dan atas cuaca bagus yang aku dapatkan. Segala puji bagi ALLAH yang telah menurunkan Muhammad SAW untuk menjadi contoh bagi kami semua.
Post a Comment