Laman

Monday, March 08, 2004

menyedihkan....

Menyedihkan. Ketika manusia mulai beranjak dari tidurnya, namun tidak beranjak dari mimpinya. Ketika Tuhan mengatakan bahwa manusia harus saling menasehati dalam hal kebenaran dan kesabaran, tentunya IA telah berpikir bahwa itulah yang terbaik bagi manusia. Namun mengapa susah untuk menjalankannya? Kadang inspirasi itu timbul pada saat yang kurang tepat. Kadang malah tidak muncul pada saat yang seharusnya tepat. Gengsi dan rasa sungkanlah yang menjadi halangan manusia untuk saling menasehati. Apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia jika melihat kemaksiatan? Mengubahnya dengan tangan, bila tidak bisa, maka mengubahlah dengan ucapan, dan bila tidak mampu lagi, maka mengubahlah dalam hati, dan itu adalah selemah2nya iman.

Susah jadi manusia, mungkin. Tapi kewajiban ini harus dilaksanakan. Bukankah kita menginginkan dunia yang peaceful dan menyenangkan? Walau itu hanya sebuah angan2, bolehlah kita berangan. Karena seperti kata orang bijak, apa yang bisa kamu impikan, bisa kamu lakukan.

Toh itulah mengapa dinamakan kewajiban, karena itu adalah keharusan. Obligatory. Anggap aja seperti buang hajat yang harus dilakukan pada saat itu juga, begitu pula seharusnya jika ingin menasehati.

Bagi orang yang menasehati, janganlah merasa bahwa dirinya lebih baik atau lebih sempurna. Hilangkan rasa gengsi ataupun sungkan. Apa yang harus disampaikan, harus disampaikan. Apapun akibatnya. Itulah mengapa dinamakan kewajiban.

Bagi yang diberi nasehat, hendaknya tidak berpikiran negatif. Marah atau tersinggung adalah reaksi wajar ketika manusia menerima masukan atau kritikan. Namun kembali lagi, bila memang ingin melaksanakan hari ini lebih baik dari hari kemaren, dan esok harus lebih baik dari hari ini, maka itulah yang harus ditelan. Untuk mengobati penyakit itu bukan melalui hal yang enak dan menyenangkan. Malahan harus menelan obat yang sehari bisa berkali2, harus sabar ke dokter. Namun insyaallah dengan kesabaran untuk terus mau berusaha, maka penyakit itu akan hilang. Begitu pula dengan kritikan, anggap saja sebagai obat untuk memperbaiki penyakit kita, yang mana penyakit ini tidak dilihat oleh kita sendiri, melainkan oleh orang lain. Itulah bedanya dengan penyakit duniawi, apa yang dirasakan diri sendiri, namun tidak orang lain. Penyakit hati adalah apa yang dirasakan oleh orang lain dan dilupakan diri sendiri.

Bagi semuanya, apapun agama dan kepercayaan. Semua kita pasti mengingkan dunia yang damai dan sejahtera. Salah satu langkah awalnya adalah saling menasehati. Kata orang, berilah kritik membangun, dan tak lupa untuk selalu mencari kritik membangun ini. Cari, cari dan cari, suatu hari nanti kita semua akan merasakan nikmatnya SALING menasehati, tanpa ada rasa iri atau sungkan. Terima kasih.
Post a Comment