Laman

Monday, March 15, 2004

The Biggest Enemy

Musuh terbesar dari semua orang bukanlah orang lain. Memperingatkan dan menasehati orang lain itu bukan hal yang susah. Kita bisa minta tolong orang lain untuk melakukannya untuk kita. Paling susah jujur dan memerintah diri sendiri untuk melakukan yang terbaik. Menasehati orang lain sangat mudah, karena kesalahan orang lain tampak jelas di mata kita. Kekurangan orang lain sering membuat kita irritate dan bisa menilai lebih dan kurangnya orang lain. Namun ketika hal itu yang menjadi masalah di diri kita, susah sekali untuk merubahnya. Dengan mudah kita bisa memarahi orang lain, tapi kita terlalu sayang pada diri kita sendiri, sehingga kita kadang susah memarahi diri sendiri. Kita harus benar2 jujur pada diri sendiri, jujur pada kesalahan, dan kuat untuk menasehati diri sendiri. Mengendalikan ego dan keinginan sesaat. Mungkin kata orang itu adalah disiplin. Kalo kita bisa memarahi dan mengingatkan orang lain dengan alasan kita sayang pada orang tersebut, harusnya kita bisa mengingatkan dan memarahi diri sendiri. Masuk akal kan? Toh, pada akhirnya kita menyayangi diri kita sendiri lebih dari kita sayang ke orang lain (kebanyakan kasus kan seperti itu).

Sayang sekali yang banyak terjadi adalah kita yang tidak bisa mengingatkan diri sendiri. Misalnya kita males untuk belajar ato beribadah, nah, kalo orang lain, gampang sekali kita memberi tau, toh keliatan jelas. Tapi kalo kita sendiri, kita akan memanjakan keinginan itu. Kita dengan santainya berdalih dan berargumen dengan diri sendiri bahwa kita masih ada hal yang harus kita lakukan selain 2 hal di atas. Ah, susah kan?

Benar sekali ketika perang Badar, para sahabat mengatakan bahwa itu adalah perang terbesar, namun Rosulullah SAW mengatakan bahwa perang terbesar adalah perang melawan diri sendiri. Susah sekali kita mengatakan pada diri sendiri bahwa kita salah dan harus diperbaiki. Keadaan akan lebih susah kalo kita enggak jujur dan malah berdalih dan terus berdalih untuk menyelamatkan diri sendiri.

Yang harus kita lakukan bukan berdalih, bukan itu. Yang kita lakukan adalah jujur, mengakui kesalahan, dan MAU diingatkan. Kalo kita merasa susah untuk mengingatkan diri sendiri, maka bicaralah dengan orang lain yang kita anggap lebih dewasa dan kata2nya kita dengarkan. Mintalah dinasehati. Minta. Mintalah pada orang yang baik dan jujur dan bener2 mau menasehati kita, dan bukan malah menyebar aib.

Semua butuh keberanian. Kekuatan. Simpanlah orang yang bisa menasehati kita dalam hati ini, karena kita pasti membutuhkannya, suka ato tidak suka. Dengarkan, mintalah nasehat.

Orang yang meminta nasehat pada orang lain tidak akan jatuh harga dirinya, justru orang lain akan menghormatinya, menghargai kejujuran dan keberaniannya. Kejatuhan harga diri inilah yang ditakutkan sebagian kita, kita menyangka jika kita minta nasehat, maka orang lain akan mengira kita lemah. Padahal itu tidak, tidak sama sekali. Orang yang minta dinasehati adalah orang yang mau memperbaiki diri sendiri. Tidak semua orang mau minta nasehat, dengan berbagai alasannya. Jangan takut untuk meminta nasehat. Mintalah pada orang yang benar. Sama seperti kita meminta uang saku, tidak mungkin kita minta pada orang yang kita kenal di jalan. Begitu juga kalo kita hendak meminta nasehat, mintalah dari orang yang sudah kita kenal luar dalam. Insyaallah pada saat itulah kita mau mendengarkan dan mau berubah. Itulah bagian dari evaluasi diri kita, untuk menjadi makhluk yang lebih berguna dan bermanfaat. Amiin.

Masalahnya, kadang kita mau menasehati, tapi tidak mau melaksanakan. Memang tidak ada yang mudah, selalu ada harga yang harus dibayar. Kembali lagi, semua butuh waktu dan proses, dan ingat, kita tidak sendirian. Jadi, ayo, sama2 memperbaiki diri! :D
Post a Comment